Jumat, 31 Agustus 2012

Beras Rendang

Orang awam non Sumatera Barat (seperti saya) pasti akan mengkaitkan beras rendang dengan rendang, makanan berupa daging bersantan pedas-aromatik-gurih yang dapat rangking 1 dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods oleh CNN International. Melihat penampakan beras rendang, saya seperti melihat yangko-nya Yogyakarta dan menduga tekstur dan rasanya akan serupa. Ternyata snack asal Payakumbuh (Sumatera Barat) ini, sebelum kita mencicipinya, tak mudah ditebak :D 

Hiks, beras rendang ini adalah 4 terakhir yang tersisa

Beras rendang atau bareh randang terbuat dari beras ketan yang direndang (disangrai) kemudian dihaluskan. Tepung beras lalu dicampur dengan santan-gula yang telah dimasak terlebih dahulu. Setelah kalis baru dibentuk sesuai selera. Bentuk beras rendang akan sesuai cetakannya, biasanya pakai piring. Nah, yang dicetak di atas piring biasanya untuk makanan pelengkap masyarakat Payukumbuh dalam prosesi adat, contohnya sebagai makanan pelengkap untuk adat Manjapuik Marapulai (menjemput mempelai pria ke rumah orang tuanya) (1). Beras rendang oleh-oleh mudik teman papa saya ini sepertinya tidak dicetak di piring. Bentuknya kotak-kotak mini nan tipis (telaten amat bikinnya) diselubungi semacam kertas minyak transparan lalu disatukan dalam plastik yang lebih besar. Untuk ukuran makanan tradisional, pengerjaannya tampak serius. Terbukti ada label yang mencantumkan Beras Rendang - Kota Tanguh - Bunga Batangkai - M.Mulyadi. Alamatnya Tanjung Pati - Kabupaten Lina Puluh Kota Sumatera Barat - Indonesia - 26271. Hebatnya menurut label yang bersangkutan, sudah ada izin Depkes dan sertifikasi halal dari LPPOM MUI, lho.

Saya paling suka rasa manisnya, enak nggak berlebihan terus ada harum-harum apa ya, kayaknya aroma kelapa (hihihi www.sotoy.com). Teksturnya alih-alih kenyal kayak dodol, ketika digigit agak padat-kering, berpasir di mulut tapi tetap lembut. Overall, beras rendang adalah kuliner Indonesia unik, menarik dan enak sehingga patut dicoba! :)

Sumber :
(1) Artikel "Bareh Randang Makanan Khas Payakumbuh" oleh Mimi Marlina A.Md dari website http://bum-news.com/single.php?id=280 (Jumat, 18 November 2011)

Senin, 27 Agustus 2012

Jipang Kacang

Saya demen banget dengan camilan berbau kacang, terutama jipang kacang. Kemarin sungguh berbahagia :D karena tante ngoleh-ngolehin camilan ini dari perjalanan mudik lebaran Jakarta-Jogja-Solo. Seperti produk jajanan tradisional home industry pada umumnya, penampakan jipang kacang amat sederhana. Tiap dua buah jipang kacang dibungkus plastik lalu disusun rapi berbaris dalam kemasan plastik yang lebih besar, tanpa pelabelan. Jaman dulu malah kemasan jipang kacang berupa klaras atau daun pisang kering (1). Gambaran sifat sensoris produk asli Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) ini antara lain tekstur kacangnya renyah namun pada bagian gulanya lembut, sedikit lengket di lidah, tidak butuh tenaga ekstra untuk menggigit dan mematahkannya. Rasanya tidak terlalu manis, gurih kacang dan ada sensasi pahit samar-samar.




Bahan bakunya super simple, berupa kacang tanah, gula merah, dan minyak sayur. Mula-mula kacang tanah berkulit disangan menggunakan pasir, dilepas kulitnya dan ditumbuk kasar. Kemudian dicampur dan diaduk rata dengan campuran gula merah-minyak sayur masak yang telah mengental. Minyak sayur disini fungsinya untuk melembutkan. Si minyak akan mencegah sukrosa (jenis karbohidrat sederhana yang dominan pada gula jawa) untuk saling bersatu membentuk kristal atau mencegah proses kristalisasi. Kalo kristal sukrosa "tumbuh subur" maka jipang akan cenderung keras, berpasir (grainy) so pasti pas digigit bunyinya kleutuk-kleutuk :D. Adonan harus segera dicetak, pas sudah dingin dipotong-potong dan dikemas (1,2). Kalo punya saya :D satu pack isinya 32 potong jipang.



Sumber :
(1) Artikel "Jipang Kacang, Diproduksi Sejak Nenek Moyang" dari website http://www.kebumenkab.go.id/index.php/public/page/index/24#
(2) Artikel "Science of Sugar" dari website http://www.exploratorium.edu/cooking/candy/sugar.html


Sabtu, 25 Agustus 2012

Telur Pindang

Punya sisa telur banyak di rumah, tapi bosan diceplok, didadar atau direbus gitu-gitu aja tiap hari? Bikin telur pindang, yuks! (gayanya, padahal saya belum pernah bikin sendiri :P). Telur pindang adalah telur yang diawetkan dengan cara digarami, dibumbui serta direbus dalam waktu yang cukup lama. Ketika mama membuatnya kemarin sebelum lebaran, saya pikir telur pindang adalah objek tepat untuk dimasukkan ke dalam blog. Sekalian belajar masak (dengan lumayan agak lebih sungguh-sungguh :D). Telur pindang cukup luwes dipadukan dengan masakan Indonesia apa saja. Niat mama adalah menyandingkan telur ini pada sajian ketupat opor lebaran namun malah terlupakan kami saking banyak pernak-pernik lauk pauk lain. Oh ya, sebagai camilan (tanpa bersanding dengan lauk pauk atau makanan pokok lain) sehat, telur pindang juga enak. Rasanya asin, gurih-gurih dan teksturnya agak padat kenyal-kenyal, beda dengan jika direbus biasa.

Resep Telur Pindang

Maaf, jangan tanya berapa jumlah pastinya untuk masing-masing bahan, ya, soalnya saya ngelihat panci sudah dicemplang-cemplungin bahan-bahan begitu saja. Menghitung jumlah telur saja  malas :D Kira-kira komposisi bahan-bahannya dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah sebagai berikut : Air, telur yang sudah dibersihkan, garam, daun jambu biji, kulit bawang merah, daun salam, kulit bawang putih.

Ini penampakan bahan-bahan sebelum air menutupi seluruh permukaannya

Perebusan dilakukan tanpa ditutup pancinya. Mulanya menggunakan api sedang sampai air mendidih, lalu apinya kecilkan. Rebus selama 1,5 jam sampai airnya tinggal sedikit dan telurnya tampak kecokelatan. Boleh ditinggal-tinggal, tapi sesekali ditengokin untuk diaduk-aduk (telur di bagian bawah di-ke-atasin dan sebaliknya) bentar dan dikontrol jumlah airnya.

Penampakan akhir telur pindang

Jangan sedih bila di rumah atau rumahnya tetangga tidak ada daun jambu biji. Daun jambu biji bisa diganti dengan daun teh. Mama menggunakan daun jambu biji karena beliau tidak begitu suka dengan aroma daun teh di telurnya. Kedua bahan ini sama-sama mengandung senyawa tanin. Senyawa tanin terdiri dari katekin, leukoantosianin, dan asam hidroksi yang masing-masing menimbulkan warna bila bereaksi dengan ion logam (1). Selain berpengaruh terhadap warna kecokelatannya Si Telur Pindang, tanin juga bisa menimbulkan rasa sepat (menambahkan kedua daun ini kebanyakan kayaknya kurang bijak). Jasa baik senyawa tanin lainnya kepada telur pindang antara lain memperpanjang usia telur melalui penghambatan mikroorganisme pembusuk. Tekstur telur pindang yang kenyal-kenyal ketika digigit juga berkat penggumpalan protein telur oleh senyawa tanin (2).    

Sumber :
(1) Winarno, FG, 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
(2) Netti Nur Azizah, 2008. Isolasi dan Identifikasi Jamur Endofit dari Daun Jambu Biji (Psidium guajava   L.) Penghasil Antibakteri terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang.

Senin, 20 Agustus 2012

Lebaran

Selamat hari raya idul fitri 1433 H

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mengampuni kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja dan senantiasa kasih sayang-Nya tercurah pada kita semua. Aamin ya Rabb.

Bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini banyak peristiwa unik terjadi, beberapa perubahan datang dan membutuhkan adaptasi. Namun satu yang pasti, mama saya selalu setia menyajikan ketupat opor ayam komplit :D Beberapa bahan sudah dipersiapkan beberapa hari sebelum lebaran seperti ayam mentah, kentang goreng dadu dan bola-bola daging.

Dari kiri ke kanan : ketupat, sambal goreng printil (tanpa santan), opor ayam, sambal goreng buncis ati ayam, acar. Sebagai pelengkap ditambahkan kerupuk udang dan taburan bubuk kedelai. Nyammm...

Kuliner wajib lebaran

Kamis, 16 Agustus 2012

Ketagihan Opak Ketan

Opak Anida (kiri) dan opak Mbak Eny (kanan). Beda "rupa" tapi sama bikin nagih :)


Mau snack yang sehat tapi enak? Opak ketan pilihannya… (intro kayak orang mo jualan aja :D). Snack unik nan sederhana ini dibelikan papa ketika ia pulang dari Cimahi menuju Depok. Merknya Anida, tertera di labelnya : menyediakan makanan ringan khas Karawang. Satunya lagi berasal dari Mbak Eny, dibelikan pas bus jurusan Lembang ke Kampung Rambutan sedang ngetem di Karawang. Kesimpulan, kayaknya opak ketan berasal dari Karawang, dech, hehehe (males riset.com). Opak ketan sukses buat saya ketagihan ngemil. Paling demen sama teksturnya yang renyah, kriuk-kriuk  pas digigit. Rasanya juga enak, gurih-gurih tidak terlalu asin dan bercita rasa ketan yang enak. Snack ini pun “kelihatan” sehat karena dibakar bukan digoreng (tidak berminyak).

Oh ya, saking ketagihannya, saya sampai harus ngemil opak ketan sambil mengetik demi penghayatan tulisan :)


Bahan Penyusun Opak Ketan dan Cara Pembuatannya (saya comot-comot dari beberapa sumber di Mbah Google)

1.    Bahan : Beras ketan, santan kelapa, sedikit garam. Terkadang ampas kelapa ditambahkan untuk menghasilkan efek garing yang lebih. Cara pembuatan : Nasi ( beras ketan yang sudah ditanak) dibuat jadi gindel atau bahan opak yang lembut. Gindel dibuat dengan cara menumbuk nasi dengan lumpang dan halu. Setelah itu, gindel ditekan-tekan pakai pipa kecil seukuran pipa kran air hingga tipis. Tahap berikutnya penjemuran. Opak kering hasil jemuran lalu digunting membentuk bulatan kecil rapi baru dibakar dengan arang 1.

2.    Bahan : Beras ketan, kelapa parut, garam. Cara pembuatan : Beras ketan yang telah ditanak ditumbuk, dicampur dengan kelapa parut dan garam. Setelah halus, dicetak menjadi bulatan-bulatan kecil dengan menggunakan tangan yang dibungkus plastik. Adonan tadi digeleng atau diemple-emple (*garuk-garuk kepala* ditekan-tekan kali ya, maksudnya) hingga permukaannya rata dan tipis kemudian dijemur hingga kering. Baru kemudian digoreng atau dibakar di atas bara api 2.

    3.        Bahan : Beras ketan putih (1 kg), telur (2 butir), kelapa parut minimum ¼ butir kelapa, kalau 3 kg beras ketan dibutuhkan 1 butir kelapa. Cara pembuatan : Cuci beras ketan lalu tanak hingga menjadi nasi ketan. Nasi ketan ditumbuk dan dicampur kelapa parut dan telur. Campuran bahan tersebut dibentuk pipih dengan ukuran sesuai dengan selera. Adonan yang sudah dibentuk dijemur hingga kering di bawah sinar matahari. Jika tidak ada sinar matahari, pengeringan bisa dilakukan dalam ruangan tertutup yang dihangatkan dengan baskom aluminium yang diisi bara dari arang dan abu gosok (hmmm…).Adonan yang sudah kering dibakar pada nampan kawat yang diletakkan di atas bara dan abu gosok. Pemanggangan dilakukan sampai adonan kuning kecokelatan3.

Sumber Tulisan :

1  Arikel “Opak Ketan Rawagede” (publikasi 10 Maret 2010) diunduh dari www.karawanginfo.com.
2  Artikel “Opak Ketan” (publikasi 29 Maret 2012) diunduh dari http://disparbud.jabarprov.go.id

3  Artikel “Bikin Rengginang dan Opak Sendiri “(publikasi 8 September 2011)  diunduh dari http://atikofianti.wordpress.com


Rabu, 15 Agustus 2012

Barongko : Cara Asyik Menikmati Pisang


Ada langganan jualan es pisang ijo khas yang uenak di depan Rumah Sakit Graha Permata Ibu, Kukusan Depok. Istimewanya, tiap bulan puasa, tempat ini juga menjual kue-kue tradisional khas Makassar lain yang tak kalah enak menurut saya pribadi. Salah satu yang favorit adalah barongko! 
Barongko paling enak dimakan dingin-dingin

Rasa kue yang dibungkus daun pisang ini cukup unik, sedikit asam-asam pisang berpadu dengan rasa manis dan gurih. Teksturnya lembyuuut dan berair sehingga kalau makan harus disendoki. Barongko atau buronggo  mirip-mirip kue carang gesing dari Jawa. Bahan utamanya berupa pisang matang, telur, gula pasir, santan, sedikit garam. Ada beberapa sumber yang  menyertakan susu, kelapa muda atau nangka dengan tujuan meningkatkan cita rasa. Secara umum pembuatan kue ini : adonan dicampur dan dihaluskan sedemikian rupa, dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Pisang yang digunakan paling oke pisang kepok agar warnanya tidak kecokelatan tapi tetap putih dan manisnya pas1. Djaman doeloe, barongko adalah dessert  mewah untuk para raja Sulawesi Selatan pada acara-acara spesial.2 Sekarang di acara-acara adat seperti acara pengantin, khatam Qur’an, sunatan, pengajian, dan lain-lain barongko juga sering ditemui3..

   

1Artikel “Barongko” publikasi 25 Februari 2012 diunduh dari http://hesti-myworkofart.blogspot.com

2Artikel “Barongko” diunduh dari http://bugislinkmk.blogspot.com
3Artikel “Kue Barongko” publikasi 22 Desember 2011 diunduh dari http://kuekhasbugismakassar.wordpress.com

Selasa, 14 Agustus 2012

Bubur Biji Salak


Berguru membuat bubur biji salak dengan mama. Hasilnya lumayan enak, tidak begitu manis, harum aren dan jumlahnya melimpah ruah (untuk ukuran anggota keluarga kami). Disajikan dengan bubur sumsum dan kuah santan. Rasanya lumayan enak (sepertinya saya sudah menyebutkan kata-kata ini diatas :)).

 

Ubi merah kukus yang telah dihaluskan pakai garpu
Campuran ubi merah dan tepung sagu yang dibuat bulat pipih. Uups,ada yang sedikit retak :)

Resep Bubur Biji Salak

Bahan :

Biji Salak

Ubi merah kukus                         540 g

Tepung sagu                                120 g

 

Kuah Bubur

Tepung sagu                                4 sdm  + 200 ml air

Air                                               1750 ml

Gula aren                                     3 balok

Daun Pandan                               1 helai besar (dipotong 3)

 

Kuah Santan

Santan instant                             1 sachet (65 ml)

Air                                               50 ml (sesuai selera)

Garam                                          secukupnya

 

Cara  :

Biji Salak

1.     Ubi merah yang telah dikukus dihaluskan

2.     Masukkan tepung sagu, uleni hingga tercampur merata

3.     Bulatkan campuran no.2 membentuk bulatan agak pipih

Kuah Bubur

1.     Rebus gula aren dan air hingga gula larut

2.     Masukkan daun pandan

3.     Masukkan biji salak ketika larutan gula mendidih

4.     Setelah biji salak matang, masukkan pengental sagu-air 

5.     Aduk-aduk hingga bubur mengental dan meletup-letup

  Kuah Santan

1.     Campur santan dan air (sebaiknya air matang)

2.     Panaskan hingga mendidih sambil terus diaduk-aduk

 

Kondisi seperti ini bubur sebentar lagi siap dikentalkan

 

Catatan Ublek-Ublek :

1. Biji salak mentah diusahakan mulus, tidak retak permukaannya supaya tidak hancur atau berubah bentuk ketika dimasak

2.    Biji salak harus dimasukkan pada larutan gula yang sudah

panas mendidih supaya tidak hancur atau berubah bentuk

3.    Pengental air-sagu sebaiknya disaring ketika akan

dimasukkan ke dalam larutan gula. Setelah itu cepat-cepat

diaduk

 

Taraaa,jadilah bubur biji salak plus bubur sumsum. Hehe lupa tak tambahin kuah santan sebelum difoto :)

 

 

 

Kerupuk Keyel yang Unik


Penambah selera makan
Ini dia oleh-olehnya :D

Kali ini cerita snack oleh-oleh pulkam pengasuh mbah putri, eng…ing…eng…kerupuk keyel. Pertama kali mencicipi kerupuk ini, rasanya aneh agak-agak pahit, penampilannya nggak menarik banget. Keyel dibungkus kecil-kecil dengan kemasan sederhana dimana bagian plastik penutupnya hanya diplintir. Satu kemasan kecil berisi 3-4 kerupuk. Lama kelamaan kok jadi ketagihan menikmati kepahitan dibalik aroma wangi bawang gosong, rasa gurih, dan teksturnya yang agak keras alot :). Pokoknya walaupun saya lagi nggak nafsu makan atau makanannya kurang menggiurkan, ditemani kerupuk keyel, semua akan baik-baik saja hehehe.

 

Alkisah, keyel merupakan salah satu produk andalan Desa Kalimas, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Bahan utama berupa tepung tapioka yang dimatangkan dengan cara dibakar dan tidak digoreng menggunakan minyak1. Lapisan keyel “berlumuran” campuran bawang dan bumbu-bumbu yang telah ditumis sebelumnya (hehehe, dugaan sementara). Ketika dipegang agak sedikit berminyak. Sayangnya, informasi tentang kerupuk keyel belum banyak saya temukan di Mbah Google, jadi tulisannya irit kayak begini.

 

1Artikel “Kalimas” publikasi 20 Agustus 2008 diunduh dari http://cahxmas.blogspot.com

Gula Aren Favorit

Gula aren favorit selalu sukses tak tersentuh kecuali untuk keperluan bikin-bikin kue atau darurat, apabila tiada gula jawa untuk masak. Alasannya, karena saya menyayangi harum aromanya, rasa legit yang terasa di lidah, dan tak rela kehadirannya segera berlalu. Maklum keluarga kami hanya mengandalkan asisten rumah, Mbak Eny, yang selalu membawakan gula aren sebagai oleh-oleh dari kampung :D. Di supermarket, sih ada, tapi tidak pernah beli (hehehe ngirit bo’, harganya lumayan). Lagi pula, kalo dari kampung lebih terasa fresh dan original (padahal saya tak tahu persis dimana dan bagaimana produksinya :D).

Gula aren berasal dari tanaman aren, Arenga pinnata. Selain dibuat gula, ternyata aren bisa dimanfaatkan untuk membuat kolang-kaling, ijuk, bahan bangunan, tepung aren dan mencegah erosi tanah. Keunggulan gula aren yang tidak dimiliki gula lain (gula tebu dan gula siwalan) antara lain kandungan sukrosa (84,31%), protein (2,28%), kalsium (1,35%), fosfor (1,37%) yang lebih tinggi1.

Mentahnya gula aren berupa nira. Nira disadap dengan cara mengiris ujung lengan bunga jantan. Sebelum pengirisan dilakukan untaian bunga jantan dan diayun-ayun. Bersamaan dengan mengayun, lengan bunga jantan dipukul-pukul dengan gendir atau paninggur supaya aliran nira dari batang pohon terbuka. Nira akan mengalir dari bekas irisan dan ditampung menggunakan sebuah lodong. Awal pengolahan gula aren adalah penyaringan nira untuk memisahkan kotoran yang terdapat dalam lodong setelah penyadapan. Nira dipanaskan dengan kompor atau kayu bakar suhu 1000C-1170C hingga kental dan jenuh. Proses ini pernah saya lihat di salah satu acara televisi swasta, benar-benar penuh perjuangan. Nira yang mulanya cair bening dipanaskan lalu diaduk-aduk lamaaa bangeeet hingga menjadi kecokelatan dan kental. Setelah nira telah jenuh, siap dicetak sesuai bentuk yang dikehendaki 1. Gula aren Mbak Eny kayaknya dicetak dalam selonsong bambu. Setelah dingin, nira jenuh mengeras, jadilah gula aren favorit kita yang bisa langsung dilepas dari cetakan. 


1 Brosur Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten – Kementrian Pertanian  dengan judul “Menuai Berkah Aren”.

Sesederhana, Seenak Bubur Sumsum


Sulit mengajak nenek saya, yang berusia 90 tahun, untuk makan. Walaupun nasi untuknya khusus dimasak 2 kali, tetap saja ia tak berselera dan sering memuntahkannya. Teringat makanan kebangsaan almarhum kakek : bubur sumsum. Mungkin saja nenek akan suka bubur ini. Bubur sumsum yang saya buat adalah yang standar dimana hanya ditemani saus gula. Untuk yang bernafsu makan lebih bisa ditambahkan bubur candil, bubur ketan hitam, bubur kacang hijau, bubur mutiara dan lain sebagainya. Nyam…

Resep Bubur Sumsum

Bahan :
 Bubur Putih
Tepung beras                           140 g
Tepung sagu                            11/2 sdm
Santan instant                          2 sachet (@ 65 ml)
Garam                                      1 sdt
Air                                           1600 cc
Daun pandan                           2 helai ukuran kecil
Saus Gula
Air                                           sesuai selera                                
Gula aren                                 1 buah

Cara :
Bubur Putih
1.  Campurkan tepung beras, tepung sagu dan sedikit air (300 cc). Setelah semua bahan larut dalam air, masukkan santan instant. Aduk rata.
2.  Masukkan air (1300 ml) ke campuran no.1 sambil diaduk-aduk rata. Setelah adonan tidak bergumpal-gumpal, masak dengan api kecil hingga matang bersama daun pandan.

Saus Gula 
Rebus air dan gula (saya pakai gula aren) sampai mendidih serta  gula larut seluruhnya.

Bubur sumsum resep ini ternyata dapat respon positif dari nenek. Dari satu mangkok kecil yang ditawarkan, bubur habis dimakan. Horeee. Mungkin karena tekstur bubur putih yang lembut dan ringan (pengaruh penambahan tepung sagu) atau karena saus gula yang digunakan berasal dari gula aren berkualitas bawaan kampung asisten rumah :D.

Catatan Ublek-Ublek :
1. Jangan pernah meninggalkan campuran bubur sumsum terutama   pada awal pemanasan tanpa diaduk. Hehe, pengalaman saya, bagian tepung akan cepat menggumpal dan sulit “dihaluskan” lagi bersama bagian air sehingga bikin senewen. Walaupun adonan sudah mengental dan meletup-letup, teruskan perjuangan mengaduk dengan api kecil supaya bubur matang sempurna selama 25 menit. Ditinggal sebentaaar juga boleh, tapi apinya dikeciiilkan supaya nggak gosong di bawahnya.
2. Pastikan tidak ada gumpalan-gumpalan  tepung sebelum dimasak.
3. Garam berfungsi membuat rasa gurih  
4. Santan alami lebih baik untuk flavor daripada santan instant
     
5.Untuk saus gula, pas udah larut dan mendidih dan didiamkan secukupnya, saring untuk memisahkan kotoran yang ada pada gula. Ngomong-ngomong perbandingan jumlah air dan gula tidak begitu saya ukur (hehe,nyengir kuda). Pada awalnya, pergunakan sedikit air dulu, setelah gula larut, bisa dilihat kekentalannya. Kalo terlalu kental tambahkan air dan diaduk seperlunya.
6.   Mari siapkan tangan (untuk pegel-pegel mengaduk) :D.