Senin, 24 September 2012

Serabi (Bagian II)

Sesuai janji manis terdahulu, saya akan ber-serabi-ria lagi! Kali ini malah kepincut dengan resep teman majelis taqlim mama yang tidak memakai metode fermentasi dan BTP (Bahan Tambahan Pangan) pengembang apa pun. Awalnya jelas saya trauma, pikir-pikir adonan pasti bantat tat tat tat, seperti dulu. Namun mama  yang cukup persuasif akhirnya membuat saya percaya  bahwa bukan hanya BTP pengembang-lah (baking powder, soda kue, ragi instant, dll) yang dapat melambungkan kue-kue seperti serabi. 

Serabi alami

Sarangnya tidak sebanyak serabi sebelumnya

Serabi keempat ini relatif lebih baik dibanding para pendahulunya. Warna serabi hijau plus-plus karena daun suji, cantik sekali :D Teksturnya empuk dan bertahan demikian setelah keesokan hari. Sarang-sarang  muncul, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak dan pengembangannya tidak terlalu besar. Rasa serabi lebih gurih (kemarin pelit garam dan santan yang digunakan sekarang agak banyakan). Kemudian yang paling menggiurkan adalah ketika serabi baru matang, tercium aroma khas daun pandan berpadu dengan aroma tanah liat wajan. Hmmm...Hal ini juga salah satu kelebihan yang saya suka dibanding serabi metode sebelumnya, dimana aroma asam hasil fermentasi lebih mendominasi. Kunci membuat serabi ini, sejauh yang saya pelajari, adalah pemanasan (mungkin ada tips-tips lain yang Anda lebih tahu ;)). Salah satu yang berpengaruh adalah wadah cetakannya. Kemarin pakai wajan kecil tanah liat bertutup yang dibeli di Kasongan Yogyakarta. Kalau pakai cetakan kue lumpur belum pernah coba. Kata mama sih, kayaknya mesti-kudu-harus-wajib hukumnya pakai wajan tanah liat.

Penampakan wajan tanah liat

Sebelum digunakan untuk mencetak serabi, berikut Tata Cara Memanaskan Si Wajan :
1. Panaskan wajan tanah liat dengan air didalamnya (kira-kira setengah bagiannya saja) dalam kondisi tertutup. Setelah mendidih, buang airnya
2. Panaskan wajannya lagi sampai permukaannya kering
3. Olesi wajan dengan minyak goreng (tipis-tipis saja) lalu tutup dan panaskan
4. Setelah cukup panas, masukkan adonan serabi

Pencetakan-pematangan pertama dan kedua kalinya memakan korban, alias serabi masih bantet. Tapi seiring waktu berlalu, serabi mengembang, sarang-sarang mulai terbentuk. Setiap kali mau mencetak adonan baru, sebelumnya wajan dibersihkan (na iniii... yang bikin males, suka ada yang lengket-lengket di dasar wajan jadi mesti dikerik-kerik pakai pisau, dilap-lap) dan dipanaskan kembali sebentar dalam kondisi tertutup.

Korban serabi pertama :D

Resep Serabi Tanpa BTP Pengembang

Resep Serabi :
Telur 1 butir (ukuran besar, kira-kira 60 g)
Tepung terigu 250 g
Tepung beras 1 sdm
Santan kental 125 ml
Air 325 ml
Ekstrak daun suji-pandan  75 ml  (5 lembar daun suji panjang @ 10 cm dan 3 lembar daun pandan panjang @ 30 cm)
Garam 1 sdt

Resep Kuah Kinca :
Air 300 ml
Gula aren 1 blok
Santan instant 90 - 100 ml
Maizena 1 sdt + air secukupnya (larutan maizena)
Garam secukupnya
Vannili bubuk secukupnya

Cara Membuat Serabi :
1. Campurkan santan kental dan air, aduk rata (santan cair)
2. Campur tepung terigu, tepung beras, garam, telur, aduk rata Perlahan-lahan masukkan santan cair dan ekstrak daun suji-daun pandan. Aduk rata sampai tidak terlihat gumpalan tepung
3. Cetak adonan serabi di wajan yang telah dipanaskan menurut Tata Cara Memanaskan Si Wajan. Kalau saya sekali mencetak kira-kira 50 ml adonan serabi. Buka tutup wajan sebentar sampai keluar pori-porinya, lalu tutup sampai matang. Gunakan api sedang.

* Hasil : 14 potong serabi

Cara Membuat Kuah Kinca :
1. Campurkan semua bahan jadi satu, kecuali larutan maizena dan vanili bubuk
2. Panaskan semua bahan sambil diaduk terus sampai mendidih
3. Masukkan larutan maizena, panaskan sambil diaduk terus selama kurang lebih 7 menit. Sesaat sebelum dimatikan masukkan vanilli bubuk
* Ukuran kuah kinca ukuran ini kesedikitan untuk ukuran serabinya (menurut saya), mungkin bisa dibuat 1,5 - 2 kali lipat resep.



Rabu, 19 September 2012

Lanting

Camilan yang familiar di lidah sejak kecil. Dahulu kala saya panggil kelanting dan akhirnya menemukan bahwa camilan ini punya banyak nama, antara lain klanting (ternyata ini nama lain kue khas Surabaya yang mirip kue cenil juga ya, binguuung), lanting, dan ongko wolu. Bentuknya bisa seperti cincin tetapi ada juga produsen yang membuat bentuk serupa angka delapan (ongko wolu) hingga angka delapan ditumpuk simetris. Sementara karakteristik lainnya adalah warna lanting bisa putih krem (tanpa perwarna) atau divariasikan dengan warna merah jambu terang. Jadinya lebih meriah gitu dech. Nah, sudah jadi image lanting (dimata saya) : teksturnya keras sehingga pas mau dikunyah diisep-isep dulu biar empuk. Namun ternyata ada juga yang renyah, enak digigitnya, seperti lanting yang sedang saya makan sekarang ini kriuk...kriuk... 

Camilan yang gurih

Kebumen (Jawa Tengah) itu kota lanting. Berdasarkan data di Bidang Industri Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Kebumen, pusat buat-buat lanting tepatnya ada di Kecamatan Adimulyo yakni di Desa Pekuwon dan Meles. Kemudian di Desa Jogomulyo dan Tugu, Kecamatan Buayan. Pusat lanting yang cukup besar ada di Desa Harjodowo dan Lemahduwur di Kecamatan Kuwarasan. Mulanya, lanting berasal dari Desa Lemahduwur (Bahasa Jawa, Lemah = Tanah, Duwur = Tinggi) dan dikerjakan secara turun temurun, namun akhirnya berkembang ke desa-desa yang lain (1). Proses pembuatan lanting (1,2) antara lain sebagai berikut :
1. Pengupasan dan pembersihan singkong mentah
2. Penggilingan I (hasil berupa adonan yang masih basah)
3. Pemerasan (hihi... rada maksa bahasanya) untuk mengeluarkan airnya 
4. Penggilingan II (hasil berupa adonan yang lebih kering dan lembut)
5. Pengukusan hingga 1/2 matang 
6. Pembentukan lembaran (pe-molen-an) dan pengepresan
7. Pencampuran permukaan untaian "mie" dengan tepung singkong
8. Pembentukan lanting sesuai selera
9. Pengeringan
10. Penggorengan
11. Pemberian bumbu
12. Pengemasan

Proses pembuatan dari pengupasan singkong hingga pengemasan lanting makan waktu 2 hari. Dari 4 kuintal singkong jadinya sekitar 2 kuintal lanting untuk sekali pengolahan.

Ada yang menyebutnya Ongko Wolu

Selain pada bentuk, inovasi produk lanting juga bisa pada bumbunya. Saya sendiri baru pernah makan lanting yang original, rasa-rasa bawang gurih. Pas ditelusur di Si Mbah Google produsen-produsen lanting (yang sudah go-online) mulai "mendandaninya" dengan aneka bumbu seperti rasa jagung bakar, keju, barbeque, pedas dan lain sebagainya. Penasaraaan :)

Sumber :
(1) Artikel Lanting Jadi Identitas Kebumen oleh Supriyanto, 04 Desember 2011 dari website http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=168665
(2) Artikel Lanting Kini Menggurita Se-Indonesia oleh Arif Widodo 25 April 2010 dari website http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/25/106968/Lanting-Kini-Menggurita-Se-Indonesia


Senin, 17 September 2012

Serabi

Sudah 3 kali saya membuat kue serabi. Pengalaman sebelumnya berakhir tragis, dimana si kue gagal mengembang hiks hiks. Finally ada resep yang mensyaratkan fermentasi adonan. Pertama agak ragu pakai fermentasi segala, selain repot juga hasil akhirnya takut ada aroma asam (khas produk-produk fermentasi). Cuma daripada nggak jadi-jadi bikin kue karena pusing nyari resep yang cucok, mending dicoba :) Sejujurnya hasil serabi tidak memuaskan. Namun satu yang membahagiakan : serabi mengembang, muncul rongga-rongga dan serat dibagian dalam. Alhamdulillah. Bagian tengah kue cukup empuk, cukup moist (apalagi kala masih hangat-hangat) tapi pinggirannya keras pas digigit.  Rasa serabi tawar, kurang gurih dan aroma asam. Untunglah pas kuah kinca diberikan, aromanya tertutupi. Kuah kinca resep di bawah ini juga tidak memuaskan banget, maklum bereksperimen-ria. Perlu berlatih lagi, Insya Allah kalau hasilnya enak bisa laporan disini.

Sebenarnya serabinya ukuran mini-mini

Resep 1/2 adonan ini diadaptasi dari Serabi Ceylon Saus Durian (bukunya Sisca Susanto, Kreasi Jajan Pasar (1)).

Resep Serabi 
Adonan Utama :
2 butir telur ukuran kecil (di resep 1 butir telur)
1/2 sdt garam halus
200 g tepung beras Rose Brand
375 ml santan encer (50 ml santan instant ditambah 325 ml air)
25 ml air daun pandan dari 2 helai panjang @ kurang lebih 25 cm 
(di resep air daun suji)
2 sdt gula pasir putih Gulaku (di resep tidak ada)

Adonan Biang :
50 g tepung terigu Kunci Biru
1/2 sdt ragi instant Fermipan
50 ml air suhu ruangan

Cara :
1. Campur semua adonan biang, diamkan 15 menit.
2. Sambil menunggu adonan biang, campur semua bahan-bahan untuk membuat adonan utama lalu aduk rata.
3. Masukkan adonan biang ke adonan utama lalu aduk rata.
4. Diamkan 1 jam (kalau saya kelamaan, hampir 2 jam)
5. Panaskan loyang kue lumpur, olesi minyak supaya tidak lengket.
6. Tuang adonan ke loyang yang sudah panas. Buka sebentar, pas sudah ada lubang-lubang di permukaannya tutup sampai kue matang. Matangkan dengan api kecil.
7. Sajikan dengan kuah kinca

Adonan hasil fermentasi yang siap dimasak
Senangnya, serabiku akhirnya mengembang juga :)

Resep Kuah Kinca Asal-Asalan
Asal-asalan ml gula aren cair yang telah disaring 
130 ml santan instant yang dibekukan sebelumnya
2 sdt gula pasir putih
Asal-asalan g sagu yang dicairkan dengan air
1 helai daun pandan panjang 25 cm

Cara : Campur semua bahan kecuali sagu. Masukkan sagu cair terakhir.

Resepnya saus durian Sisca Susanto (1) mungkin lebih yahud, silakan dicoba :)
2 sdt garam
1000 ml santan
1/2 kaleng susu kental manis
10 g tepung maizena
15 g tepung sagu
200 g gula jawa
100 g gula pasir
4 lembar daun pandan
10 buah daging durian (nyammm...) 

Kuah kinca asal-asalan
Bagian dalam serabi muncul serat-serat khas

Catatan Ublek-Ublek Dapur :
1. Jangan tiru resep Kuah Kinca Asal-Asalan sayaaa :D Santan beku yang telah dicairkan kemudian dimasak membuat adonan tidak homogen, ada semacam bintik-bintik santan putih melayang-layang. Jadi lebih baik pakai santan instant yang baru dibuka atau santan alami yang baru diperas. Kuah kinca-nya juga cenderung nggak ngalir (kekentalan) kebanyakan sagu, mirip-mirip saus buat lumpia goreng hehe.
2. Pakai ekstrak daun suji selain daun pandan untuk lebih meng-hijau-kan serabi.
3. Jangan kelamaan matengin adonan. Pinggiran kue serabi yang rada keras diduga akibat ini.
4. Biar nggak belepotan masukin adonan, gunakan gelas ukur bercorong. Oh ya, jangan lupa adonan selalu diaduk-aduk sebelum dituang.
5. Jangan lupa loyang dipanaskan dan diolesi minyak goreng biar nggak lengket.
6. Penggunaan tepung beras yang dominan mungkin bikin kue serabi kurang empuk lagi setelah waktu yang lama. Lain kali pengen banyakin tepung terigunya.


Sumber :
(1) Susanto, Sisca,2004. Kreasi Jajan Pasar. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.


Kamis, 06 September 2012

Gado-Gado

Penampakan "Gado-Gado Turunan" apa adanya

Pernah terjebak dalam obrolan mengenai rumah makan/warung/restoran yang ramai bukan main. Dimana ujung-ujungnya selalu berakhir pada kecurigaan : Ni tempat pasti pakai penglaris, dech. Pakai umik-umik? Pakai ritual-ritual tertentu di luar batas logika? Saya sendiri pernah dan terkadang ikut terpancing percaya :D. Terlepas dari ada tidaknya cara-cara aneh diatas untuk meramaikan tempat usaha, saya ingat suatu tempat jualan gado-gado yang super laris. Lokasinya dekat  Yayasan dan Rumah Sakit Panti Nugraha, dekat warung Serabi Bandung yang juga enak plus mur-mer, dekat penjual Tahu Sumedang yang endang gulindang (terjemahan : enak banget) di daerah Cilandak, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Tempatnya dekat turunan sehingga kita sebut saja "Gado-Gado Turunan". Tanyakan dimana tempat penjual gado-gado terenak sedunia sama penduduk sekitar situ. Insya Allah nyampe dahhh :)

Penjualnya seorang ibu-ibu yang ciri khasnya pakai topi berlilitkan handuk disekelilingnya (ya, saya serius) dan ditemani adiknya. Mereka berjualan di sebuah gerobak tapi sudah berteduhkan kios kecil yang minim bangku meja. Jarang pembeli yang makan ditempat, kebanyakan take-away. Bicara soal pembeli, wuiiih jangan ditanya. Setiap kali saya lewat disana, kayaknya jarang sepi. Si Ibunya keliatan nggak berhenti ngulek terus tangannya. Kelihatan sepi ternyata ada banyak pesanan. Banyak pembeli yang lebih suka pesan dulu baru diambil. Pernah kelihatan nggak buka kiosnya tak dikira sedang menyiapkan pesanan gede buat pejabat. Pembelinya pun beraneka rupa dari yang jalan kaki, naik sepeda, sepeda motor, mobil biasa sampai mobil mentereng. Waktu usahanya relatif cepat, buka diatas jam 10 pagi dan sudah tutup jam 3 sore maksimal. Sering jualannya laris manis tanjung kimpul. Padahal harga jual gado-gado per bungkus diatas rata-rata (untuk ukuran penjual gerobakan) yaitu Rp 9000,-.

Pertanyaan iseng tapi normal, kok bisa ya?

"Gado-Gado Turunan" memang beda dari gado-gado pada umumnya. Ciri khas terletak pada saus kacangnya yang manis dan kental. Kalau di tempat jualan lain sausnya "Gado-Gado Turunan" ini masih dikasih air sehingga kurang ngacang dan gado-gadonya basah. Cita rasa saus kacangnya pula pas di lidah (terutama bagi penggemar sing manis-manis). Kedua, lontongnya juga sengaja dipotong gede-gede dan butiran nasinya masih bisa terlihat. Tidak terlalu padat dan kenyal-kenyal seperti sodaranya sesama lontong. Lembyuuut pula, nenek saya yang giginya tinggal sedikit aja doyan. Kayaknya salah alamat kalo menuduh Si Lontong "Gado-Gado Turunan" bermandikan boraks.

Bumbu kacang manis dan kental
Selebriti berikutnya : Si Lontong yang Beda

Itu dilihat dari sisi produknya saja. Sekarang cerita soal Si Ibu, produsen yang juga merangkap sebagai marketeer jagoan. Dia orangnya sangat hangat dan komunikatif dengan pelanggan. Walaupun dengan saya yang terkadang suka kaku-kaku nggak karuan, dia bisa ngerocos cukup panjang lebar. Selama dia berbicara, senyum ramah dan deretan gigi yang terlihat tak pernah absen. Ketika kita telah membayar dan mengambil pesanan pun, ia selalu bilang "terima kasih ya Bu, Mbak" dengan penekanan dan perhatian penuh bahkan ketika disambi mengulek pesanan. Caranya menghadapi kami, para pembeli, mirip-mirip para front liner di perusahaan public service terkemuka. Kemudian bagian berikutnya yang paling menarik : bagaimana ia memahami produk gado-gadonya dengan baik dan mengetahui cara-cara untuk menjaga produk ini supaya tetap konsisten kualitasnya. Dalam sesi cerocosannya kepada saya, ia sadar bahwa kualitas prima dari bahan baku awal dan proses produksi yang benar sangat penting. Ia memahami atribut kualitas apa saja yang mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk gado-gado. Standar khusus secara sederhana ia buat untuk bahan baku dan proses produksi makanan khas Betawi ini. Si ibu juga mengaku cukup disiplin dalam menjaga standar diterapkan setiap harinya. Sebagian contohnya ada sebagai berikut, selebihnya menghilang dari kepala akibat keterbatasan otak untuk merekam :
1. Saya tidak mau beli kacang yang sudah digoreng dari pasar. Lebih baik saya goreng sendiri. Soalnya kadang ada yang gosong-gosong, nanti ndak enak saus kacangnya.
2. Gula jawa khusus, lho mbak. Saya nggak mau sembarangan kadang ada yang dicampur dengan macam-macam atau cenderung kotor. Lalu dia menunjukkan satu kardus dengan merek tertentu yang seragam serta memang, tampak berkualitas.
3. Lontong saya bikin sendiri. Beras untuk lontong juga khusus, jenisnya tertentu. Waktu pemasakannya dan jumlah airnya tertentu biar bisa lembut kayak punya saya.
4. Saya nambah kacang X diantara kacang tanahnya supaya rasanya lebih enak dan gurih. Makanya harga gado-gadonya sedikit lebih mahal (Maaf ya, saya rahasiakan kacang X-nya, silakan tebak-tebak buah manggis para pembaca yang budiman)
5. Saya senengnya pakai timun yang kecil-kecil, kalau yang besar seringnya lebih berair.
6. Saya punya langganan tertentu untuk bahan baku. Saya ini "orangnya kuno", seringnya saya pilih sendiri bahan bakunya dibanding diambilin penjual. Biar bisa dilihat mana yang baik kualitasnya.

Saya bengong.
Ditambah, dia menjelaskan bahwa gado-gadonya sudah didesain untuk bertahan lama hingga 6 jam. Kesegaran sayur mayur sebagai bahan utama sangat diperhatikan. Katanya dimasak pada hari gado-gado dijual. Terlepas dari apakah cerocosannya hanya trik marketing belaka, kita berpikir positif bahwa semua kemungkinan itu bisa terjadi :) Seorang pedagang sederhana yang mengetahui betul apa yang membuat para pembeli datang dan datang lagi : keunikan, pelayanan pelanggan yang baik, kualitas dan komitmen menjaga kualitasnya itchuuu. Oh ya ditambah kerja keras. Saya pun sempat meremehkan etos kerja Si Ibu karena kiosnya bukanya sebentar-sebentar dan kadang tutup. Ternyata dia sedang melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan yang kayaknya belum tentu kita sanggup. 

Pertanyaan iseng tapi normal pun berlanjut, kok bisa ya, iiihh, jangan-jangan pakai...
Saatnya saya pribadi mulai mencoba melepaskan diri dari umik-umik-minded dan mulai menghargai proses kerja dibalik kesuksesan seorang pengusaha.

Senin, 03 September 2012

Kue Biji Ketapang

Lebaran menyisakan kenikmatan bagi perut. Kami dapat cukup banyak kue kering trus belum habis dimakan sampai sekarang. Beberapa minggu setelah lebaran, tetangga dekat malah membawakan kue biji ketapang dan kue bawang asli bikinan mereka sendiri. Kedua kue ini sangat khas diantara masyarakat Betawi yang  memang cukup dominan di lingkungan rumah. Beberapa kuliner Betawi lain yang ngetop pas lebaran antara lain ketan uti, kue bolu, kue bika ambon, kue lapis dari sagu berwarna merah dan kue satu (1). Semuanya menarik dibahas. Cuma kite cerite soal kue biji ketapang dulu aje kali ye, nyoook...

Cerita tentang Masyarakat Betawi

Masyarakat Betawi atau Orang Betawi adalah penduduk Jakarta dengan ciri utamanya mempergunakan bahasa Betawi sebagai bahasa ibu, tinggal dan berkembang di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Terbentuk sekitar abad ke-17, merupakan hasil percampuran beberapa suku bangsa seperti Bali, Sumatera, China, Arab dan Portugis. Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal kata Betawi, salah satunya dari kesalahan pengucapan kata Batavia. Masyarakat Betawi secara geografis terbagi 2, yaitu Tengah dan Pinggiran.  Termasuk wilayah Betawi Tengah antara lain Gemeente Batavia (sebutan untuk daerah kota praja di ibu kota Batavia dengan wakilnya sendiri) minus Tanjung Priok dan sekitarnya atau radius sekitar 7 km dari Monas. Masyarakat ini dipengaruhi kuat oleh budaya Melayu dan Agama Islam. Masyarakat Betawi Pinggiran (Betawi Ora) dibagi dua, bagian utara dan selatan. Kaum Betawi Ora dalam beberapa desa di sekitar Jakarta umumnya orang Jawa yang nyampur dengan suku-suku lain. Mayoritas adalah petani padi, sayur mayur dan pohon buah. Bagian Utara meliputi Jakarta Utara, Barat, Tangerang yang dipengaruhi kebudayaan Cina. Bagian Selatan meliputi Jakarta Timur, Selatan, Bogor dan Bekasi. Bagian ini banyak dipengaruhi kebudayaan Jawa dan Sunda (1).

Enak, tidak terlalu berminyak meski digoreng
Ukurannya yang mini membuat kita ketagihan makan lagi dan lagi
  
Cerita Biji Ketapang

Biji ketapang berasal dari pohon ketapang (hehe nggak mungkin kan dari pohon mangga). Nama keren tanaman ketapang yaitu Terminalia cattapa L. Struktur morfologisnya antara lain tinggi 1-2 meter dan batangnya berkayu, bercabang dan berwarna hijau. Daun ketapang majemuk, menyirip genap, anak daunnya bulat telur, tepi rata dengan panjang 4-10 cm dan lebar 15-20 mm, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga tanaman ketapang majemuk, bentuk tandan, mahkota bulat telm, terdiri atas 5 bagian, warna kuning. Buah polong bertangkai. Kalau masih muda bagian tengah warnanya cokelat, tepi hijau sedangkan ketika tua berwarna cokelat (1). 

Tanaman Ketapang (Gambar 1)

Buah ketapang berbentuk bulat, kulitnya keras dan ujungnya runcing. Kalo dibuka isinya berwarna putih seperti almond. Oleh karena itu dipanggil juga dengan Almond Malabar atau Almond Singapura. Inspirasi membuat kue biji ketapang tak lepas dari riwayat jaman dulu banyaknya pohon ini menaungi jalan-jalan besar di Jakarta. Sampai-sampai ada gang yang dinamakan Gang Ketapang. Buah ketapang banyak tercecer di jalanan lalu sering dipungut untuk dimakan bijinya. Rasanya gurih dan teksturnya renyah (2).

Mengenai Kue Biji Ketapang

Kue biji ketapang endang gulindang (terjemahan : enak). Manis, harum margarin dan gurih jadi satu. Jangan berikan kue berukuran mini-mini ini kepada nenek Anda yang giginya tinggal dua :D karena teksturnya sedikit keras. Bahan bakunya berupa tepung terigu, minyak goreng, gula pasir, kelapa parut sangrai kering, margarin, telur dan susu. Tidak pakai biji ketapang asli, lho. Keunikannya, kue ini dimasak dengan cara digoreng bukan dipanggang. Pertama margarin, gula pasir, telur dikocok hingga tercampur rata. Lalu dimasukkan tepung terigu, susu dan kelapa parut sangrai. Aduk hingga rata. Adonan tiap 100 g digulung bentuk silinder panjang dengan diameter 1 cm kira-kira, lalu dipotong serong setinggi 1 cm. Biji-biji ketapang mentah digoreng dalam minyak panas sampai matang dan kuning kecokelatan (3). Kue biji ketapang-nya saya tidak berminyak banget. Mungkin dipengaruhi oleh kandungan air bahan, ukuran bahan, kondisi minyak goreng, suhu dan lama penggorengan serta perlakuan pasca penggorengan (kondisi penirisan dari minyak,dll). Sayangnya, itu semua hanya tetangga saya yang tahu...

Oh ya ada lumayan banyak resep kue biji ketapang bertaburan di Mbah Google. Jika berminat bisa dicoba (seperti biasa menganjurkan tapi si penulis belum melakukannya terlebih dahulu hihihi). Salam cerita kuliner Betawi! 

Sumber :
(1) Artikel "Betawi, Suku" oleh Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta dari http://www.jakarta.go.id 
(2) Artikel "Kriuk...Kriuk Si Biji Ketapang" oleh Odilia Winneke dari http://food.detik.com/read/2010/06/22/153139/1383901/482/kriuk-kriuk-si-biji-ketapang
(3) Artikel Kuliner  "Biji Ketapang" dari http://www.femina.co.id/kuliner/resep/cake.cookies/biji.ketapang/004/001/632/05

Sumber Gambar :
Gambar 1 : Artikel "Daun Ketapang dan Manfaatnya" oleh Abah Abror dari http://lelesangkuriangabah.wordpress.com/2012/05/21/daun-ketapang-dan-manfaatnya/