Senin, 03 September 2012

Kue Biji Ketapang

Lebaran menyisakan kenikmatan bagi perut. Kami dapat cukup banyak kue kering trus belum habis dimakan sampai sekarang. Beberapa minggu setelah lebaran, tetangga dekat malah membawakan kue biji ketapang dan kue bawang asli bikinan mereka sendiri. Kedua kue ini sangat khas diantara masyarakat Betawi yang  memang cukup dominan di lingkungan rumah. Beberapa kuliner Betawi lain yang ngetop pas lebaran antara lain ketan uti, kue bolu, kue bika ambon, kue lapis dari sagu berwarna merah dan kue satu (1). Semuanya menarik dibahas. Cuma kite cerite soal kue biji ketapang dulu aje kali ye, nyoook...

Cerita tentang Masyarakat Betawi

Masyarakat Betawi atau Orang Betawi adalah penduduk Jakarta dengan ciri utamanya mempergunakan bahasa Betawi sebagai bahasa ibu, tinggal dan berkembang di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Terbentuk sekitar abad ke-17, merupakan hasil percampuran beberapa suku bangsa seperti Bali, Sumatera, China, Arab dan Portugis. Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal kata Betawi, salah satunya dari kesalahan pengucapan kata Batavia. Masyarakat Betawi secara geografis terbagi 2, yaitu Tengah dan Pinggiran.  Termasuk wilayah Betawi Tengah antara lain Gemeente Batavia (sebutan untuk daerah kota praja di ibu kota Batavia dengan wakilnya sendiri) minus Tanjung Priok dan sekitarnya atau radius sekitar 7 km dari Monas. Masyarakat ini dipengaruhi kuat oleh budaya Melayu dan Agama Islam. Masyarakat Betawi Pinggiran (Betawi Ora) dibagi dua, bagian utara dan selatan. Kaum Betawi Ora dalam beberapa desa di sekitar Jakarta umumnya orang Jawa yang nyampur dengan suku-suku lain. Mayoritas adalah petani padi, sayur mayur dan pohon buah. Bagian Utara meliputi Jakarta Utara, Barat, Tangerang yang dipengaruhi kebudayaan Cina. Bagian Selatan meliputi Jakarta Timur, Selatan, Bogor dan Bekasi. Bagian ini banyak dipengaruhi kebudayaan Jawa dan Sunda (1).

Enak, tidak terlalu berminyak meski digoreng
Ukurannya yang mini membuat kita ketagihan makan lagi dan lagi
  
Cerita Biji Ketapang

Biji ketapang berasal dari pohon ketapang (hehe nggak mungkin kan dari pohon mangga). Nama keren tanaman ketapang yaitu Terminalia cattapa L. Struktur morfologisnya antara lain tinggi 1-2 meter dan batangnya berkayu, bercabang dan berwarna hijau. Daun ketapang majemuk, menyirip genap, anak daunnya bulat telur, tepi rata dengan panjang 4-10 cm dan lebar 15-20 mm, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga tanaman ketapang majemuk, bentuk tandan, mahkota bulat telm, terdiri atas 5 bagian, warna kuning. Buah polong bertangkai. Kalau masih muda bagian tengah warnanya cokelat, tepi hijau sedangkan ketika tua berwarna cokelat (1). 

Tanaman Ketapang (Gambar 1)

Buah ketapang berbentuk bulat, kulitnya keras dan ujungnya runcing. Kalo dibuka isinya berwarna putih seperti almond. Oleh karena itu dipanggil juga dengan Almond Malabar atau Almond Singapura. Inspirasi membuat kue biji ketapang tak lepas dari riwayat jaman dulu banyaknya pohon ini menaungi jalan-jalan besar di Jakarta. Sampai-sampai ada gang yang dinamakan Gang Ketapang. Buah ketapang banyak tercecer di jalanan lalu sering dipungut untuk dimakan bijinya. Rasanya gurih dan teksturnya renyah (2).

Mengenai Kue Biji Ketapang

Kue biji ketapang endang gulindang (terjemahan : enak). Manis, harum margarin dan gurih jadi satu. Jangan berikan kue berukuran mini-mini ini kepada nenek Anda yang giginya tinggal dua :D karena teksturnya sedikit keras. Bahan bakunya berupa tepung terigu, minyak goreng, gula pasir, kelapa parut sangrai kering, margarin, telur dan susu. Tidak pakai biji ketapang asli, lho. Keunikannya, kue ini dimasak dengan cara digoreng bukan dipanggang. Pertama margarin, gula pasir, telur dikocok hingga tercampur rata. Lalu dimasukkan tepung terigu, susu dan kelapa parut sangrai. Aduk hingga rata. Adonan tiap 100 g digulung bentuk silinder panjang dengan diameter 1 cm kira-kira, lalu dipotong serong setinggi 1 cm. Biji-biji ketapang mentah digoreng dalam minyak panas sampai matang dan kuning kecokelatan (3). Kue biji ketapang-nya saya tidak berminyak banget. Mungkin dipengaruhi oleh kandungan air bahan, ukuran bahan, kondisi minyak goreng, suhu dan lama penggorengan serta perlakuan pasca penggorengan (kondisi penirisan dari minyak,dll). Sayangnya, itu semua hanya tetangga saya yang tahu...

Oh ya ada lumayan banyak resep kue biji ketapang bertaburan di Mbah Google. Jika berminat bisa dicoba (seperti biasa menganjurkan tapi si penulis belum melakukannya terlebih dahulu hihihi). Salam cerita kuliner Betawi! 

Sumber :
(1) Artikel "Betawi, Suku" oleh Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta dari http://www.jakarta.go.id 
(2) Artikel "Kriuk...Kriuk Si Biji Ketapang" oleh Odilia Winneke dari http://food.detik.com/read/2010/06/22/153139/1383901/482/kriuk-kriuk-si-biji-ketapang
(3) Artikel Kuliner  "Biji Ketapang" dari http://www.femina.co.id/kuliner/resep/cake.cookies/biji.ketapang/004/001/632/05

Sumber Gambar :
Gambar 1 : Artikel "Daun Ketapang dan Manfaatnya" oleh Abah Abror dari http://lelesangkuriangabah.wordpress.com/2012/05/21/daun-ketapang-dan-manfaatnya/


 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar