Senin, 24 September 2012

Serabi (Bagian II)

Sesuai janji manis terdahulu, saya akan ber-serabi-ria lagi! Kali ini malah kepincut dengan resep teman majelis taqlim mama yang tidak memakai metode fermentasi dan BTP (Bahan Tambahan Pangan) pengembang apa pun. Awalnya jelas saya trauma, pikir-pikir adonan pasti bantat tat tat tat, seperti dulu. Namun mama  yang cukup persuasif akhirnya membuat saya percaya  bahwa bukan hanya BTP pengembang-lah (baking powder, soda kue, ragi instant, dll) yang dapat melambungkan kue-kue seperti serabi. 

Serabi alami

Sarangnya tidak sebanyak serabi sebelumnya

Serabi keempat ini relatif lebih baik dibanding para pendahulunya. Warna serabi hijau plus-plus karena daun suji, cantik sekali :D Teksturnya empuk dan bertahan demikian setelah keesokan hari. Sarang-sarang  muncul, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak dan pengembangannya tidak terlalu besar. Rasa serabi lebih gurih (kemarin pelit garam dan santan yang digunakan sekarang agak banyakan). Kemudian yang paling menggiurkan adalah ketika serabi baru matang, tercium aroma khas daun pandan berpadu dengan aroma tanah liat wajan. Hmmm...Hal ini juga salah satu kelebihan yang saya suka dibanding serabi metode sebelumnya, dimana aroma asam hasil fermentasi lebih mendominasi. Kunci membuat serabi ini, sejauh yang saya pelajari, adalah pemanasan (mungkin ada tips-tips lain yang Anda lebih tahu ;)). Salah satu yang berpengaruh adalah wadah cetakannya. Kemarin pakai wajan kecil tanah liat bertutup yang dibeli di Kasongan Yogyakarta. Kalau pakai cetakan kue lumpur belum pernah coba. Kata mama sih, kayaknya mesti-kudu-harus-wajib hukumnya pakai wajan tanah liat.

Penampakan wajan tanah liat

Sebelum digunakan untuk mencetak serabi, berikut Tata Cara Memanaskan Si Wajan :
1. Panaskan wajan tanah liat dengan air didalamnya (kira-kira setengah bagiannya saja) dalam kondisi tertutup. Setelah mendidih, buang airnya
2. Panaskan wajannya lagi sampai permukaannya kering
3. Olesi wajan dengan minyak goreng (tipis-tipis saja) lalu tutup dan panaskan
4. Setelah cukup panas, masukkan adonan serabi

Pencetakan-pematangan pertama dan kedua kalinya memakan korban, alias serabi masih bantet. Tapi seiring waktu berlalu, serabi mengembang, sarang-sarang mulai terbentuk. Setiap kali mau mencetak adonan baru, sebelumnya wajan dibersihkan (na iniii... yang bikin males, suka ada yang lengket-lengket di dasar wajan jadi mesti dikerik-kerik pakai pisau, dilap-lap) dan dipanaskan kembali sebentar dalam kondisi tertutup.

Korban serabi pertama :D

Resep Serabi Tanpa BTP Pengembang

Resep Serabi :
Telur 1 butir (ukuran besar, kira-kira 60 g)
Tepung terigu 250 g
Tepung beras 1 sdm
Santan kental 125 ml
Air 325 ml
Ekstrak daun suji-pandan  75 ml  (5 lembar daun suji panjang @ 10 cm dan 3 lembar daun pandan panjang @ 30 cm)
Garam 1 sdt

Resep Kuah Kinca :
Air 300 ml
Gula aren 1 blok
Santan instant 90 - 100 ml
Maizena 1 sdt + air secukupnya (larutan maizena)
Garam secukupnya
Vannili bubuk secukupnya

Cara Membuat Serabi :
1. Campurkan santan kental dan air, aduk rata (santan cair)
2. Campur tepung terigu, tepung beras, garam, telur, aduk rata Perlahan-lahan masukkan santan cair dan ekstrak daun suji-daun pandan. Aduk rata sampai tidak terlihat gumpalan tepung
3. Cetak adonan serabi di wajan yang telah dipanaskan menurut Tata Cara Memanaskan Si Wajan. Kalau saya sekali mencetak kira-kira 50 ml adonan serabi. Buka tutup wajan sebentar sampai keluar pori-porinya, lalu tutup sampai matang. Gunakan api sedang.

* Hasil : 14 potong serabi

Cara Membuat Kuah Kinca :
1. Campurkan semua bahan jadi satu, kecuali larutan maizena dan vanili bubuk
2. Panaskan semua bahan sambil diaduk terus sampai mendidih
3. Masukkan larutan maizena, panaskan sambil diaduk terus selama kurang lebih 7 menit. Sesaat sebelum dimatikan masukkan vanilli bubuk
* Ukuran kuah kinca ukuran ini kesedikitan untuk ukuran serabinya (menurut saya), mungkin bisa dibuat 1,5 - 2 kali lipat resep.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar