Sabtu, 17 November 2012

Kue Sengkulun?

Pas dapat kiriman kue ini dari saudara, hati saya berseri-seri bahagia. Bahagia selain karena gratis, kue tersebut cukup aneh dan nggak pernah ada di Depok (mungkin Jakarta juga ya) jadi cihuyyy untuk diceritakan melalui blog. Langsung saja menghambat orang rumah menghabiskan kue ini (sebelum bentuknya menjadi tak karuan ketika dipotret), menatanya di piring, lalu memotret dengan susah payah. Hampir saya melupakan namanya, begitupula papa saya (padahal beliau orang yang pertama kali memberitahu :D). Habis namanya agak sulit diingat, kue sengkulun.  

Perpaduan kelapa dan tepung ketan yang nikmat

Nyuwun referensi kue sengkulun di  Mbah Google malah membuat kepala cenat cenut. Namun sekaligus mendapat gambaran bahwa di Indonesia kemiripan antara kuliner di satu daerah dengan daerah lain tidak hanya sebatas bentuk maupun bahan, tapi juga nama! Ternyata ada sengkulun kuliner khas Betawi, ada sengkulun kuliner khas Malang, ada sangkolon kuliner khas Bangka Belitung, ada sengkulun khas Purworejo. Dari melihat-lihat resepnya di resensi buku 1010 Resep Asli Masakan Indonesia, sepertinya kue sengkulun Malang yang paling mendekati. Kalau sengkulun Betawi bahan dan bentuknya sudah beda banget. Kalau sangkolon mirip-mirip, tapi hati kecil saya mengatakan bukan yang ini yang dimaksud (asal :D).

Saya  belum menghubungi saudara saya untuk menanyakan bahan-bahan kue sengkulun, untuk kemudian dibandingkan dengan informasi di internet (sok ribet hihihi). Pokoknya overall kue ini manis banget, ketiga digigit terasa serat-serat khas kelapa parut yang gurih. Bentuknya balok sederhana, terdiri dari dua lapisan bawah putih dan atas merah yang rasanya kurang lebih sama. Teksturnya kenyal-kenyal sepertinya dari tepung beras ketan. Mirip wingko babat-nya Semarang tapi ini lebih "basah" dan lengket.  Enaaak.

Yah, sekian postingan kali ini pembaca yang budiman. Kalau ada yang pernah makan kue sengkulun (?) syukur-syukur tahu riwayat bla-bla-bla, bisa cerita sama kami disini lho :)

Kamis, 15 November 2012

Sagu Aren


Sagu aren mungkin kalah ngetop dibandingkan tepung terigu. Tapi sebagai orang Indonesia, pasti kita tidak bengong ketika ditanya apakah sudah pernah makan cendol, mie soun, bakso, hunkwe, ongol-ongol. Kuliner-kuliner yang menggunakan sagu aren sebagai bahan bakunya. Tidak sulit menemukan tepung ini. Saya sendiri (eh,mama ding) membeli sagu aren di pasar tradisional. Tepung yang saya beli (eh, mama ding) dikemas secara sederhana (kantong plastik bening saja), tidak terlalu putih dan sedikit kasar.

 
(1) Tepung sagu aren berasal dari batang pohon aren alias Arenga pinnata (nggak mungkin dari pohon mangga kan?).  Ngomong-ngomong tentang Si Aren, hampir seluruh bagian dari tanaman ini bermanfaat. Akarnya bisa untuk obat tradisional, batang untuk berbagai macam peralatan dan bangunan, daun muda/janur untuk pembungkus kertas rokok, buah aren muda untuk pembuatan kolang-kaling, air niranya untuk gula aren favorit saya. Oh ya kabar-kabarnya, tepung sagu aren bisa diolah menjadi aneka makanan yang aman untuk penderita autis (2).
 
Pembuatan sagu aren umumnya dilakukan oleh usaha kecil menengah dengan peralatan yang sederhana. Kalau mau lihat gambaran produksinya bisa dibuka (3) blog Andy MSE. Prosesnya antara lain sebagai berikut :
1. Pembelahan batang yang telah dipotong-potong sepanjang 0,8 m - 1 m menjadi 4 - 6 bagian.  Pohon terpilih adalah yang cukup umur, sehat, dan tidak pernah disadap niranya. Kalau tidak demikian, bisa jadi kualitas sagu berkurang begitu pula kuantitasnya. Pohon yang diambil berusia 40 tahun ke atas (4). Tapi ada juga sumber yang bilang antara umur 15-20 tahun.
2. Pemarutan batang-batang yang telah dibelah menghasilkan serbuk.
3.  Pengadukan serbuk di dalam bak berisi air. Tujuan dari tahap ini adalah melepaskan pati aren dari seratnya.
4. Penyaringan, melalui tahapan ini serat dan larutan pati dipisahkan. Kadang-kadang juga ditambahkan kaporit ke dalam bubur pati yang sedang diendapkan.
5. Pengendapan, proses ini dilakukan selama kurang lebih 12 jam. Hasilnya berupa endapan pati.
6. Pengeringan endapan pati dari proses no 5. Biasanya secara tradisional, melalui penjemuran selama 1-2 hari.
7. Penghalusan pati kering menggunakan mesin penepung menghasilkan sagu aren yang lebih halus dan tidak menggumpal.

Sumber :

(1)  "Kajian Kinerja Mesin Pengaduk pada Proses Pembuatan Pati Aren (Arenga Pinnata Merr.)" oleh Bambang Purwantana, Tri Purwadi, Muhammad Fauzi dalam Prosiding Seminar Nasional Teknik Pertanian 18-19 November 2008, Yogyakarta. Sumber website : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/8313/Bambang%20Purwantana1.pdf?sequence=1
(2) "Sagu Aren" oleh Mr Rizz Yogya, 28 Juli 2010. Sumber website : http://www.autisfoods.com/2010/07/sagu-aren.html
(3) "Melongok Pabrik Tepung Aren" oleh Andy Suhaimi, 31 Januari 2009. Sumber website : http://andy.web.id/melongok-pabrik-tepung-aren.php  
(4) "Mati Suri, Pengolahan Sagu Aren di Desa Jabung" oleh tim Publik Nasional, 7 Januari 2011. Sumber website : http://www.publiknasional.com/index.php?option=com_content&view=article&id=92%3Amati-suri-pengolahan-sagu-aren-di-desa-jabung&catid=36%3Ajawa-timur&Itemid=27


 

 

Kamis, 01 November 2012

Ongol-Ongol

Camilan tradisional satu ini pasti tidak menyisakan rasa bersalah  saat dikonsumsi. Bahan bakunya sederhana dan tidak banyak lemak. Apalagi jika pemanis yang ditambahkan seluruhnya adalah gula aren. Konon kabarnya, pemanis ini tidak cepat menaikkan kadar gula darah (1). Jadi bagus buat yang lagi hati-hati makan yang manis-manis (seperti penderita diabetes). Karena sederhana pula, ongkos bikinnya pun tak mahal dan relatif mudah membuatnya. Yang diperlukan hanya tangan yang rela disuruh mengaduk agak lama dan perhatian ekstra saat pemanasan adonan ongol-ongol, supaya tidak lekas gosong.

Ngemil ongol-ongol tak perlu banyak khawatir
  
Resep dibawah diadaptasi dari punya Odilia Winneke - detikFood.com
Resep Ongol-Ongol
Adonan dasar
Tepung sagu aren     125 g
Air                           375 g
Gula aren                 120 g
Gula pasir                 2 sendok teh muncung
Daun pandan            2 lembar

Taburan
Kelapa parut             sesuka hati
Garam                      sesuka hati

Adonan grunjul-grunjul

Cara Membuat :
1. Lelehkan, panaskan gula aren/gula jawa dengan air (225 ml) dan daun pandan. Diamkan hingga kotoran mengendap.
2. Campur rata tepung sagu aren dengan sisa air. Saring. Campurkan dengan air gula - pandan yang telah disaring terlebih dahulu. Saring lagi.
3. Masak dengan api kecil sambil diaduk-aduk. Matikan api ketika adonan sudah berwarna cokelat gelap agak bening dan kental (seperti di foto).
4. Cetak di loyang brownies.
5. Setelah set dan dingin, lepas dari cetakan, potong-potong dan taburi dengan kelapa parut kukus yang telah digarami.

Catatan Ublek-Ublek :
1. Sebelum dimasak, semua adonan dasar disaring terlebih dahulu.
2. Air yang tertera di resep sebenarnya lebih. Jumlahnya tidak saya catat, hehe. Pokoknya kalau adonan terlihat terlalu kental, angkat dari api, tambah air sedikit-sedikit (kurang lebih 75 ml), aduk sampai menyatu, panaskan lagi. Begitu seterusnya sampai dirasa kekentalannya pas.
3. Awalnya, adonan mengental tapi warnanya masih cokelat muda (kayak kopi susu gitu warnanya). Terus dipanaskan sambil diaduk-aduk, dijaga jangan sampai gosong.
4. Sebenarnya, saya terlalu nafsu memanaskan adonan sehingga terlalu kental dan susah dicetak rapi. Jadi grunjul-grunjul, seperti di foto. Untunglah taburan kelapa parut telah menyelamatkan penampakan ongol-ongol saya (membela diri :D).
5. Orang rumah bilang ongol-ongol ini enak. Tapi mungkin karena hanya pakai gula aren dan tambahan gula pasir yang sedikit, rasanya sedikit kurang manis.

Sumber :
(1) Artikel "Kenapa Gula Aren Lebih Sehat dari Gula Pasir?" oleh Vera Barah Bararah tanggal 11 Januari 2011 dari website  http://health.detik.com/read/2011/01/11/075447/1543689/766/kenapa-gula-aren-lebih-sehat-dari-gula-pasir