Rabu, 25 Desember 2013

Bubur Manado

Merasa bersalah dengan menu diet yang kurang bergizi? 
Kurangi kesalahan Anda, makan bubur Manado! 

Agar tidak menguras kantong, yuk bikin sendiri :D Dalam sepiring bubur Manado tersedia beragam zat gizi yang diperlukan tubuh. Karbohidrat sebagai sumber tenaga berasal dari beras, jagung, ubi dan labu. Protein, zat pembangun, dari tempe goreng dan ikan asin. Serat, vitamin dan mineral disediakan oleh bayam, kangkung dan kacang panjang. Bagi penderita asam urat lain cerita ya, hehe. Sebenarnya bubur Manado buatan kami kali ini terlalu encer, hiks. Pesan moralnya yang dapat dipetik, jangan memasak beras dengan air terlalu banyak di awal. Sayuran yang dimasukkan terakhir-terakhir menyumbang air, membuat bubur bertambah encer. Perbandingan antara air dan beras juga tergantung pada jenis beras yang digunakan, ada yang suka air dan sebaliknya.


Resep Bubur Manado

Bahan-Bahan Bubur :
Beras 220 g
Air 2 - 2,5 liter (tadinya sekitar 3,5 liter jadinya terlalu encer)
Jagung muda  2 batang
Kangkung 1 ikat (kecil)
Bayam 1 ikat (kecil)
Kacang panjang 1 ikat (kecil)
Daun kemangi 3 ikat (kecil)
Ubi jalar (nggak pakai hehe, padahal kalau pake lebih nyam-nyam)
Labu kuning (nggak pakai juga nich hehe, padahal kalau pake lebih nyam-nyam)
Serai (kelupaan pakai)
Garam secukupnya

Pelengkap
Ikan jambal roti/ikan asin goreng
Tempe goreng
Sambal terasi

Cara membuat :
1. Rebus air, garam dan beras sampai setengah matang. Masukkan jagung muda yang telah dipipil, batang serai yang telah digeprek, ubi jalar dan labu kuning.
2. Masak sampai nasi menjadi bubur. Masukkan kacang panjang. Setelah beberapa saat masukkan daun bayam dan daun kangkung. Terakhir ketika hampir matang masukkan daun kemangi.
3. Sajikan bubur Manado hangat-hangat bersama ikan jambal roti goreng, tempe goreng dan sambal terasi.



Sabtu, 07 Desember 2013

Seblak Basah

Pas sedang main ke sebuah pameran bulan Oktober lalu, saya menemukan sebuah stand yang cukup mencolok. Ada X banner bergambar ibu-ibu gendut berkacamata memakai celemek, beserta sebuah meja sederhana dimana disusun banyak tumpukan paper cup dengan berlogo si ibu. Judulnya Mommy Seblak Basah (@mommyindo)

Seblak basah? Apaan tuh


Rupanya mereka menawarkan makanan tradisional khas Garut, Jawa Barat dengan konsep lebih modern. Ide kreatifnya adalah membuat seblak basah yang dapat dibuat lebih mudah oleh konsumen, tinggal diseduh air panas, semudah mengosumsi mie instant dalam papercup. Awalnya agak ragu membeli, tapi berhubung penasaran dan malu udah sok-sokan nanya ini itu kayak wartawan ibu kota hihi, saya pun jadi membeli. Harganya cukup terjangkau kalau nggak salah Rp 11.000. Di dalam kemasannya sudah tersedia semacam kerupuk tapioka setengah matang, minyak sayur, bumbu rempah, bubuk cabai, serta potongan sosis dan bakso sebagai pelengkap. Menyiapkan seblak basah instant ini super gampang, seduh kerupuk tapioka dengan air panas, tutup diamkan 3-5 menit (kalau saya lebih dari itu agar kerupuknya benar-benar matang), buang air seduhannya melalui lubang yang tersedia, masukin deh bumbu dan pelengkapnya, plung-plung


Cita rasanya aneh-aneh unik, rasa pedas dan gurih menjadi satu. Saya tidak memasukkan seluruh bubuk cabai takut perutnya mules. Tekstur seblak basah yang diproduksi di Cimahi, Jawa Barat ini "lucu" banget, lembut dan agak kenyal-kenyal. Bagi yang bosan makan mie instant dalam kemasan papercup, sajian khas Indonesia ini  bisa dicoba lho :)


Jadi penasaran ingin mencicipi seblak basah versi nggak instant. Tapi apa boleh dikata, nun jauh di Bandung sono ;(. Denger-denger jajanan kaki lima murah meriah ini lumayan hits di Kota Kembang. Awalnya menggunakan bahan dasar berupa kerupuk Sumber Sari, itu tuh kerupuk berwarna oranye yang biasa digunakan abang-abang penjual nasi goreng, bubur ayam, nasi kuning, kupat tahu dan lain-lain sebagai taburan. Dalam perkembangannya, kerupuk yang digunakan bervariasi, bahkan ada yang menggunakan kerupuk ikan tenggiri. Asal jangan kerupuk udang karena mempengaruhi aroma dan tekstur. Inovasi seblak basah terus berlanjut dengan digantikannya kerupuk oleh makaroni, kwetiau, ceker ayam. Bumbu dasarnya cukup sederhana antara lain bawang putih, cabai, garam, dan kencur. Ada yang menambahkan bawang merah, tomat dan daun bawang. Tiap penjual memiliki kekhasannya sendiri. Pastinya, seblak basah yang enak identik dengan rasa pedas dan aroma kencur yang kuat. Kini, seblak basah "naik derajat" dengan dicampurkannya telur, ayam suwir, bakso, sayuran, mie, sosis. Tentu saja nilai gizi dari kuliner Indonesia ini ikutan naik. Yah, memang kalau dibayangkan seblak basah mirip-mirip mie atau kwetiaw rebus. Alkisah, dulu orang Garut kesulitan mendapatkan mie karena mahal harganya sehingga digantilah dengan kerupuk.

Kalau mau menyajikan seblak basahnya Mommy Seblak Basah mah gampang, membuat seblak basah yang nggak instant sedikit mengeluarkan keringat. Tidak se-hiperbola itu ding hehe, beberapa blogger mengatakan pembuatan seblak basah ini relatif mudah. Adonan kerupuk direndam di air panas/direbus atau dikukus sampai matang lalu ditiriskan. Bumbu-bumbu seperti bawang, kencur, cabai, garam dihaluskan kemudian ditumis sampai harum. Kemudian cemplungkanlah kerupuk yang telah dimasak sebelumnya beserta telur, ayam suwir, sayuran, sosis, bakso. Jika berminat nyeblak bisa dilihat resepnya disini  :)

Sumber :
www.okefood.com
www.sayangi.com 
www.aruniayulestari.blogspot.com
www.food.detik.com
 

 

Minggu, 24 November 2013

Kuwe Koya

Bagi saya pribadi, kue-kue yang "berbau" kacang hijau rasanya tidak terlalu istimewa, membosankan. Suatu ketika saya dan mama berkunjung ke rumah mantan tetangga dimana kami disuguhi kue yang unik. Kuwe Koya Cap Delima Tawon Tau Sa Ko. Dengan diiringi rasa penasaran saya pun mencicipi kue kering berbentuk bundar yang terlihat rapuh tersebut. Benar-benar mengubah gambaran permanen tentang kue-kue "berbau" kacang hijau yang membosankan. Hmm...memang agak sedikit seret di tenggorokan. Ketiga digigit langsung "lumer" di lidah, harum, rasa manisnya benar-benar menyenangkan ditambah cita rasa kacang hijau yang khas. Bagian yang paling menghibur adalah isian si kuwe koya ini, berupa adonan berwarna hitam dengan terkstur dan cita rasa yang sedikit berbeda dari bagian luarnya. Sampai sekarang isian Kuwe Koya Cap Delima Tawon masih menjadi misteri yang belum terkuak hehe (mudah-mudahan bukan yang aneh-aneh). Kuwe koya cenderung sangat rapuh dan memerlukan kehati-hatian dalam mengonsumsinya karena jika tidak, serpihan remah-remahnya yang sangat halus akan mengotori.


Sepertinya kuwe koya masih sodaraan dengan kue satu (disebut demikian karena harus dicetak satu-satu dengan telaten) asal Jawa Barat dan Betawi trus sama putu kacang asal Makassar karena rasa mereka yang mirip-mirip. Bahan untuk membuatnya relatif sangat sederhana, hanya kacang hijau, gula pasir halus, perisa vanili dan sedikit air. Hanya saja membuatnya itu yang kelihatannya repot pot pooottt, mungkin ini sebabnya jarang ditemui di pasaran. Ngomong-ngomong saya belum menemukan resep kuwe koya di mbah google. Kebanyakan resep kue satu atau putu kacang. Jika berminat dan pasokan kesabarannya masih penuh bisa mencoba membuat kue satu dari resep di blog Bu Nina Agustina.


  Proses pembuatannya dimulai dari penyangraian kacang hijau yang telah dilepas kulitnya.Penyangraian harus dilakukan hati-hati supaya tidak gosong tapi mesti sampai harum juga :D. Selanjutnya kacang sangrai dihaluskan dan diayak. Pencampuran dengan gula halus dengan air dilakukan kemudian sampai rata. Adonan dicetak sesuai keinginan dan diupayakan si kue cukup padat. Jika tak cukup padat bisa dibayangkan pas kue diambil langsung ancur berkeping-keping.  Terakhir pengeringan, bisa dilakukan menggunakan oven atau dibawah terik matahari.


Rabu, 20 November 2013

Ayam Bakar Pedas Manis

Tadinya mau membuat ayam bakar khas Klaten dengan menggunakan resep Bu Marisa Tamara, soalnya ngidam ayam bakar bercita rasa manis milik rumah makan sederhana langganan. Namun terjadi disorientasi selama di dapur, santan saya hilangkan dengan alasan kemarin menunya sudah berlemak-lemak ria. Kemudian ada bungkusan kecil sisa cabai giling, "Kayaknya pedes-pedes manis juga enak nih, tambah aaah,". Setelah dimasak, ayam bakar ini langsung difoto seadanya lalu saya googling-googling untuk mencari nama yang tepat untuknya. Hasilnya namanya bukan ayam bakar bumbu rujak, bukan ayam bakar bumbu Bali, bukan ayam taliwang, bukan ayam bakar khas Padang. Nah,lo! Ya sudah kita sebut saja ayam bakar malang ini "Si Ayam Bakar Pedas Manis". Berhubung bumbu-bumbu yang digunakan khas Indonesia bukan khas Perancis, sepertinya ni ayam masih relevan untuk masuk Cerita Kuliner Indonesia *maksa*. Cita rasanya tidak terlalu pedas karena gula jawa yang lumayan banyak. Semakin banyak bumbu semakin enak. Semakin dimasak lama dengan api kecil, bumbunya kian meresap. Sisa kuah yang mengental bisa dijadikan "sambal jadi-jadian" yang pas disajikan dengan ayam bakar. Hikmahnya disini kita tidak perlu repot-repot ngulek buat bikin sambal :D


Nasi Bogana

Zaman kecil, muda, belia dulu, saya pernah diajak makan gratis oleh budhe, tepatnya di sebuah restoran mungil tapi ditata apik, Koko Bogana daerah Jl. Cikajang, dekat Pasar Santa, Jakarta Selatan. Kami mencicipi nasi rames khas Tegal, Jawa Tengah, nasi bogana. Nasi bersama lauk pauknya (yang saya lupa apa jenisnya) disajikan dalam porsi kecil dan dikemas dengan daun pisang. Sedap sekali! Apa juga mungkin karena porsinya sedikit jadi terasa demikian ya, makan di porsi terlalu besar akan mengurangi kenikmatan. Beralih ke zaman sekarang ketika beranjak dewasa :P, ibu mengajak saya membuat nasi bogana sebagai sajian pengajian minggu depan. Mulalilah hari Minggu kemarin kami bereksperimen membuatnya. Ternyata jenis lauk pauknya, terutama apabila kita orang Jawa Tengah, sudah familiar. Artinya dalam beberapa kesempatan seperti lebaran, ada yang sering kita buat. Sebut saja ayam opor, sambal goreng kentang, kering tempe, nasi uduk. Sebenarnya ini masih minus beberapa lauk lain, dengan perbandingan rumah makan selain Koko Bogana hehe, seperti telur (bulat) balado, abon daging basah (sengaja tidak dikeringkan seperti abon pada umumnya), oseng-oseng kacang panjang tempe dan sayur lalapan. Dan yang paling kurang adalah pembungkus daun pisang karena di beberapa kesempatan saya selalu melihat nasi ini dibungkus dengan daun beraroma harum tersebut. Berikut ini bahan-bahan untuk membuat nasi bogana. Maaf beribu maaf berhubung ibu saya yang meracik bahan-bahannya, sedangkan saya hanya bagian mengaduk-aduk di wajan, ngelap-ngelap dan pencucian piring, komposisi bahan-bahan tidak terlalu dicatat apalagi diperhatikan. Prinsipnya keseimbangan saja, jika bahan pembawa cita rasa (seperti ayam, kentang, ati ampela, tempe) jumlahnya banyak, maka jumlah bahan pemberi cita rasa ( bawang, sereh, cabai, laos, daun salam, gula, garam) harus disesuaikan, tidak terlalu sedikit misalnya :D


Nasi Uduk

Bahan :
Beras, air, santan, garam, sedikit sereh dan daun salam

Cara Membuat :
1. Masak beras di rice cooker sampai setengah matang
2. Masak santan dengan garam sampai mendidih, masukkan nasi setengah matang lalu aduk hingga rata
3. Kukus nasi yang sudah tercampur rata dengan santan sampai matang. Pada air untuk mengukus ditambahkan sereh dan daun salam. Ibu sengaja tidak menambahkannya pada nasi langsung karena takut "mengotori" penampakan nasi.

Sambal Goreng Kentang dan Ati Ampela

Bahan :
Kentang (dipotong kotak-kotak kecil, digoreng, ditiriskan), ati ampela (dipotong-potong kecil), udang kecil, minyak goreng untuk menumis, bawang putih, bawang merah, cabai giling, gula jawa, garam, salam, laos, santan.

Cara Membuat :
1. Tumis bawang  merah dan putih yang telah diiris tipis-tipis, sampai harum dan sedikit kecokelatan.
2. Masukkan cabe giling, tumis sebentar sampai harum
3. Masukkan sedikit air, udang dan ati ampela, aduk. Beberapa saat kemudian setelah udang dan ati ampela terlihat matang masukkan santan, aduk rata. Tambahkan gula jawa dan garam.
4. Masukkan kentang dan aduk rata. Kentang dimasukkan setelah santan beserta bumbu, udang, ati ampela telah matang dan meresap baik. Lanjutkan memasak hingga sambal goreng semakin berkurang airnya. Jangan lupa diaduk-aduk dan diawasi apinya supaya tidak gosong pada bagian dasar.

Opor Ayam

Bahan :
Ayam rebus yang sudah disuwir, bawang merah, bawang putih, jahe, salam, laos, daun jeruk, sereh, ketumbar, merica, garam, gula merah, santan

Cara Membuat :
1. Tumis bawang merah dan bawang putih yang dihaluskan sampai hilang bau langu, masukkan jahe, salam, laos, daun jeruk, ketumbar. Tumis kembali sampai harum.
2. Masukkan ayam rebus yang telah disuwir, santan, gula merah, merica, garam, matangkan sampai airnya berkurang (tidak terlalu "berkuah" seperti opor ayam pada umumnya). Jika kondisi ini terjadi *hadoooh ribet bahasanya*, matangkan terus selama beberapa saat sambil diaduk-aduk agar tidak gosong.

Kering Kentang & Tempe

Bahan :
Kentang yang diiris kotak tipis-tipis, tempe yang diiris tipis-tipis, kacang tanah
Bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, laos, salam, asam jawa, gula merah, garam

Cara Membuat :
1. Goreng sampai kering tempe dan kentang, sisihkan.
2. Tumis bawang merah, bawang putih, salam, laos, cabai merah keriting sampai harum dan tidak langu. Angkat dan sisihkan. Pindahkan sisa minyak dari penggorengan di tempat terpisah.
3. Masak gula merah, air, asam jawa, gula pasir, kecap manis, garam sampai mengental. Jika hampir mengental masukkan bahan-bahan di no 2.
4. Setelah campuran gula merah mengental, kecilkan api, masukkan kering tempe dan kentang no.1 aduk hingga merata



Udah deh, nyam nyam. Tinggal kalo ada daun pisang, tata nasi dan tetek bengek lauknya nasi bogana diatasnya lalu bungkus dengan tusuk gigi (hehe kalau mau praktis) atau potongan lidi disematkan dikedua ujung bungkusan.

Jumat, 04 Oktober 2013

Wedang Uwuh

Dari namanya saja sudah menggelitik. Dalam Bahasa Jawa, wedang berarti minuman sedangkan uwuh itu sampah. Minuman sampah. Walaupun begitu, cita rasa dan manfaat minuman asli Imogiri Daerah Istimewa Yogyakarta ini jauuuuuh dari arti namanya. Penampilan apa adanya, sebelum dipisahkan dari bahan rempah-rempahnya yang mirip "timbunan-dedaunan rontok-di-pekarangan-rumahku", mungkin menyebabkan si penemu tega menamakan uwuh disini.


Konon kabarnya, wedang uwuh ditemukan secara tidak sengaja. Sekitar tahun 1630, Sultan Agung menyuruh abdi dalem (pembantu raja) untuk dibuatkan minuman yang dapat menghangatkan badan sebagai pendamping ritual meditasi. Sultan Agung adalah Raja Mataram yang kala itu sedang mencari lokasi yang sakral untuk pemakaman raja-raja. Pada awalnya, minuman yang dibuat hanya wedang secang. Sementara Si Sultan sedang meditasi dibawah pepohonan, ditaruhlah wedang secang tersebut didekatnya. Angin bertiup kencang sehingga daun-daun berterbangan dan jatuh ke...wedang secang. Selanjutnya kalian tebak-tebak sendiri lah ya ceritanya atau mau tahu kelanjutannya di sini (pegel ngetik ;)). 


Jika ingin membuat ramuan wedang uwuh sendiri sebaiknya dipikir-pikir lagi. Masalahnya ada banyak rempah-rempah berkhasiat yang harus dicari sebagai bahan penyusunnya belum lagi menyusun formula rempah-rempahnya. Mending beli yang sudah siap diseduh :). Harga pasarannya juga tidak terlalu mahal. Wedang uwuh terbuat dari jahe, kayu secang, daun cengkeh, daun kayu manis, cengkeh dan daun pala. Plus gula batu sebagai pemanis alami. Semua bahan-bahan tersebut dicampur jadi satu dan diseduh dengan air panas. Diminum sebelum suhu wedangnya turun. Rasanya enak dan menghangatkan, jika wedang jahe yang dominan adalah rasa jahenya (yaiyalahh), minuman ini dominan cita rasa cengkeh yang nikmat. Sarannya, jangan menambahkan terlalu banyak gula sehingga cita rasa unik menghangatkannya tidak tertutup.  Manfaat yang dimiliki wedang uwuh cukup banyak. Didukung oleh rempah-rempah yang berkhasiat. Jahe membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah dan membantu menyembuhkan radang sendi. Kayu secang yang menyebabkan warna minumannya merah, mengandung antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.  Wedang uwuh dipercaya bisa menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh, melegakan pernapasan, mengusir masuk angin dan perut kembung. Tentunya efek kesehatan muncul dengan dosis tertentu (yang belum saya dapat informasinya :)) dan frekuensi minum yang teratur. Yang jelas ketika meminumnya, tubuh kita akan langsung terasa hangat, enak banget dinikmati kala udara sedang dingin-dinginnya. Oh ya, rasanya juga enak, lho.

Kemarin saya dapat wedang uwuh oleh-oleh dari Yogyakarta dari orang tua. Ada 3 jenis, jenis wedang uwuh instant (butirannya paling halus, nggak perlu disaring), jenis seduhan original (seperti di foto) dan jenis seduhan yang lebih halus rempah-rempahnya. Paling suka bentuk yang ketiga, soalnya aroma rempahnya kuat dan ekstraksinya lebih cepat. Cucok untuk orang yang nggak sabaran pingin segera minum seperti saya hehe.

Wedang Uwuh Azadiene
email : progress_jogja@yahoo.com
telepon : 0856 43318 048
facebook fan page : Wedang Uwuh Azadiene
  

Sumber :
(1) Artikel "Wedang Uwuh = Minuman Sampah?" dalam http://eviindrawanto.com/2013/03/wedang-uwuh-minuman-sampah-berkhasiat/
(2) Artikel "Wedang Uwuh, Minuman Sampah yang Kaya Manfaat"  dalam website http://inloveindonesia.com/wedang-uwuh-minuman-sampah-yang-kaya-manfaat/
 

Jumat, 29 Maret 2013

Rendang

Hari ini tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba kepingin membuat rendang. Seharusnya menggunakan daging sapi. Namun saya ke pasar terlalu siang dan tukang daging sapi sudah pada bubar. Mengintip di freezer, ada ayam punya mama beberapa bungkus kecil. Nggak tahu deh udah dari jaman kapan hehe, langsung saja disikat.

Resep disini berdasarkan Bonus Resep dari Tabloid Saji 262-19 Maret 2013, "7 Set Inspirasi Makanan Rantangan". Dengan sejumlah penyesuaian hihi. Jangan lupa memasukkan ayam mentah pas santan berbumbunya sudah matang-mengental, berpedoman tips dari Gizi dan Kuliner by Budi, supaya ayamnya tidak hancur. Saya sendiri memasukkannya terlalu awal, ternyata pas bumbunya mengering, diaduk-aduk supaya bawahnya nggak gosong, ayamnya sukses hancur luluh lantak :(! Saya sampai harus menjelaskan ke orang rumah kalau itu rendang saking bentuknya acak-acakan. Soal rasa, lumayan gurih, tidak terlalu pedas dan spicy. Tapi tidak mirip rendang favorit di rumah makan Padang terkenal, yang bisa cokelat kehitaman, wanginya enak dan berminyak-minyak. Kalau ada yang tahu cara membuatnya boleh tuh di-sharing di Cerita Kuliner Indonesia :) Mari-mari.



Resep Rendang

Bahan
400 g daging rendang, dipotong melawan serat tebal 2 cm (pakai daging ayam negeri)
3 cm lengkuas, memarkan
2 batang serai, ambil putihnya, memarkan
2 lembar daun kunyit, simpulkan
2 butir kelapa, parut, peras menjadi 500 ml santan kental dan 2 l santan encer (1 bungkus santan segar bungkusan, nggak jelas dari berapa buah kelapa)

Bumbu halus
12 buah cabai merah keriting (pakai cabai merah gilingan yang nggak jelas dari berapa buah cabai)
5 buah cabai merah besar (nggak pake)
12 butir bawang merah 
4 siung bawang putih
4 butir kemiri, sangrai (pakai 6 dan tidak disangrai)
1/2 sdt merica butiran (tidak pakai)
1 sdm ketumbar bubuk (tidak pakai)
3 sdt garam
1/2 sdt gula pasir (pakai gula aren separuh)

Cara Membuat
1. Rebus santan encer, lengkuas, serai, daun kunyit, dan bumbu halus sambil diaduk sampai mendidih
2. Tambahkan daging. Masak sambil diaduk sampai empuk dan kuah mengental.
3. Tuang santan kental. Masak di atas api kecil sambil diaduk sampai berminyak dan mengering.

Pada kenyataanya, karena malas, saya tidak memasukkan santan kental (tahap 3) namun langsung memasukkan santan diawal (tahap 1). .

Kamis, 07 Februari 2013

Kupat Tahu

Ada 3 daerah, setahu CKI, yang "memiliki" kupat tahu. Bandung, Solo dan Magelang. Persamaannya : pasti menggunakan ketupat, tahu (ya iyalah) dan siraman kuah yang manis-pedas. Salah satu perbedaannya : pembuatan kuah kacang. Pada kupat tahu Bandung, kuah dibuat dengan mencampurkan bumbu halus, kacang tanah, terasi, garam dalam air sampai mendidih dan berminyak. Berbeda dengan kupat tahu Magelang, dimana gula merah dan air dimasak dahulu, lalu disaring, dicampur kecap manis kemudian dimasak lagi. Baru kemudian dituang ke ulekan mentah bumbu-bumbu (yang hampir sama dengan kupat tahu Bandung kecuali terasi) yang sudah disiapkan per porsi. Kupat tahu Solo pembuatannya mirip-mirip kupat tahu Bandung, kuah dimasak dengan bumbu-bumbu halus. Namun tidak menggunakan kacang tanah, memakai daun jeruk purut dan mie telor sebagai pelengkap. Untuk lebih jelas resepnya bisa dilihat di Resep Kupat Tahu Bandung, Resep Kupat Tahu Solo dan Resep Kupat Tahu Magelang. Belum pernah mencicipi kupat tahu Bandung dan Solo, jadi nggak bisa membandingkan cita rasanya. Kalau ada yang lebih tentang kupat tahu nusantara bisa sharing di blog ini ya. Baik menambahi atau bahkan meralat :)

Kemarin kami mencoba buat kupat tahu tapi tidak mengikuti pakem yang ada, sedikit bar-bar. Ketupatnya diganti lontong lagi hehe, tapi tak masalah yang penting masih ada tahunya :D. 

Kupat Tahu Ala Kami XD

Rabu, 30 Januari 2013

Kopi Aceh


 Kopi Aceh menyumbang 40% kopi bermutu di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu saya dapat oleh-oleh kopi Aceh. Macam-macam, dari yang bentuknya masih biji kopi sangrai sampai bubuk. Sebenarnya, satu-satunya penggila kopi di rumah adalah adik saya. Saya juga suka kopi, tapi yang "kopi-kopian" (mesti dicampur dengan gula, susu, krim), selain masalah selera juga masalah lambung. Dan jenis "kopi sebenarnya", seperti kopi Aceh ini, termasuk yang jarang diminum. Meskipun demikian dan begitu, tetap semangat '45 untuk menulis dan membagikannya di Cerita Kuliner Indonesia :D.

Sejarah Kopi Aceh
Asal mula kata "kopi" berasal dari kata "qahwah" yang berarti kekuatan. Kata ini lalu diadopsi bangsa Turki menjadi "kahveh" dan "koffie" dalam bahasa Belanda. Seiring dengan kehadiran Kolonial Belanda di Indonesia, munculah kata "kopi" yang kita kenal sekarang. Pada masa kependudukan Belanda sekitar tahun 1904, perkebunan kopi Aceh berkembang secara besar-besaran di dataran tinggi Gayo. Dimasa itu fokus pengembangan perkebunan kopi berada di dataran yang berada di ketinggian 1.000-1700 m dpl tersebut. Di tahun 1918 pemerintah Belanda menjadikan kopi gayo sebagai "produk masa depan" karena tingginya minat internasional. Sebagian besar komoditas kopi gayo dikembangkan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Pada tahun 1972, Kabupaten Aceh Tengah (Bener Meriah) tercatat sebagai penghasil kopi terbesar dibandingkan dengan kabupaten lainnya, dengan luas perkebunan 19.962 ha (1)

Biji kopi yang sesudah ekstraksi

Kamis, 17 Januari 2013

Soto eh Coto.... Apa Bedanya ya???



Kali Ini penulis pengen nyoba ngutak atik sejarah Coto Makasar ataupun Soto. Tergelitik dengan quote dari beberapa teman di facebook tentang beda Soto n Coto (meskipun uda penasaran juga sebelumnya... tapi lum mampu menggerakkan akal dan pikiran untuk searching...), jadi pengen tau ni sejarah makanan yang udah jadi menu wajib kalo pas hujan ini....
Kuliner Indonesia ternyata banyak dipengaruhi oleh bangsa Asia, seperti Cina. Salah satunya Soto. Ini sudah tertulis dengan jelas dalam buku Dennys Lombard berjudul "Nusa Jawa: Silang Budaya".Dalam buku itu tertulis asal mula Soto adalah makanan Cina bernama Caudo dan  pertama kali populer di wilayah Semarang. Dari Caudo lambat laun menjadi Soto. Akhirnya berkembang di Makassar dengan sebutan Coto, dan orang Pekalongan menyebutnya Tauto. Atau penamaan tergantung dimana Soto tersebut berkembang. Ada Soto Ambon, Soto Bandung, Soto Banjar, Soto (Sroto) Banyumas, Soto Betawi, Soto Kediri, Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Madura, Soto Medan, Soto Padang, Soto Semarang, dan Soto (Sauto) Tegal.

Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr Lono Simatupang, menyebutkan soto merupakan campuran dari berbagai macam tradisi. Di dalamnya ada pengaruh lokal dan budaya lain. Mi atau soun pada soto, misalnya, berasal dari tradisi China. China-lah yang memiliki teknologi membuat mi dan soun.

Menurut Lono, Soto juga kemungkinan mendapat pengaruh dari budaya India. Ada beberapa soto yang menggunakan kunyit, seperti kari dari India. Karena ini soto bisa dikatakan merupakan campuran dari berbagai tradisi. Soto yang bersantan untuk campuran kuahnya - seperti Soto Medan dan Soto Kediri, kemungkinan terpengaruh kebudayaan India .
Serbuk koya pada Soto yang juga ditemukan di lontong cap go meh adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini dibuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur.

Irisan bawang putih yang digoreng kering, juga merupakan jejak budaya Tionghoa. Cara memasak seperti ini jelas merupakan selera Tionghoa, seperti ditemukan di masakan Tionghoa Pontianak.

Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah, bukan bawang putih, untuk digoreng kering dan digunakan sebagai kondimen.

Akulturasi lain adalah sendok bebek dan mangkok. Kedua benda ini merupakan alat makan yang diduga berasal dari Cina. Alat-alat seperti sendok bebek sering digunakan sebagai alat makan sup di Cina.

Penyebaran soto ke berbagai daerah di Indonesia seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada proses industri.

Penyebaran ini, lanjut Lono, diikuti dengan upaya lokalitas. Proses lokalitas soto mungkin sama seperti lokalitas Islam maupun Kristen di Indonesia. Inilah yang mengakibatkan muncul berbagai jenis soto di Indonesia. Begitu juga variasi rasa dan coraknya. Meskipun namanya soto, namun rasanya beraneka ragam. hal ini agar dapat diterima di daerah tersebut. Seperti Soto Kudus yang menggunakan daging kerbau karena pengaruh Hindu di sana di mana sapi merupakan hewan suci.

Bahan-bahan lain dan rasa pun mengalami pelokalan. Itu yang membuat aneka soto bermunculan. Meski begitu, bisa dikatakan, penampilan dan rasa dasarnya tetap mirip. (Berbagai sumber-)
Lalu, bagaimana dengan sejarah coto Makasar sendiri? Kalo menurut penulis, ketika pertama kali memakan Coto ini, rasanya cukup unik. Bagi yang tidak terbiasa memakan makanan ini untuk pertama kalinya enggan untuk memakannya kembali (termasuk saya- soalnya berbumbu sekali...). Tapi setelah mencoba untuk kedua kalinya..... wuih jadi pengen lagi......  Apalagi kalo pas ujan atau pas flu... hemmmm badan terasa segar. Habis itu, makanan penutupnya pallu buntung.... kenyang kuadrat...
So, Coto Makasar itu sejarahnya bagaimana? dari klik search di engine google, ternyata catatan sejarah dari Coto makasar ini belum ada. Tidak ada catatan resmi mengenai salah satu makanan khas tradisional Makassar ini. Coto Makassar diduga sudah ada sejak jaman kerajaan Gowa yakni Somba Opu yang pernah berjaya pada tahun 1538. Coto Makassar merupakan hidangan seni  bercitarasa tinggi yang menjadi hidangan khusus bagi para kalangan istana kerajaan Gowa. Namun sebagian pula ada yang mengatakan bahwa kuliner ini diciptakan oleh rakyat jelata dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi harinya.
 Cita rasa Coto Makassar disempurnakan oleh adanya perpaduan tradisi makanan Cina yang memang sudah hadir pada abad ke 16. Pemakaian bumbu ramuan kuno Cina yakni sambal Tao-co dipadu dengan 40 macam ramuan rempah lokal ( Rampah Patang Pulo) yang merupakan bumbu lokal. Dengan adanya perpaduan bumbu tersebut maka coto Makassar menjadi makanan berkuah khas dengan aroma bumbu rempah yang pekat. Keunikan coto makassar lainnya yaitu selain daging, juga terdapat jeroan berupa hati, jantung, limpa, usus dan lainnya dimana jeroan biasanya tidak ditemukan pada jenis masakan sup manapun. Dengan cara pengolahan tertentu, jeroan tersebut menjadi pelengkap utama kelezatannya. Tanpa jeroan, coto Makassar kehilangan sensasinya.
 Diduga pula bahwa Coto Makassar merupakan masakan kuah yang tertua dipersada Nusantara. Keberadaan Soto Madura, Soto Tegal, Soto Betawi dan diwilayah lainnya diduga kuat terinspirasi dari pengaruh Coto Makassar yang dibawa oleh para pelaut Bugis Makassar yang melanglang buana di seluruh penjuru negeri.
 Warung coto pertama yang ada di Makassar adalah warung coto milik H. Dg. Sangkala. Warung itu dulunya berada di sudut Jalan Ranggong ditengah jantung kota Makassar. Warung coto yang sudah tinggal nama itu dibangun sekitar tahun 1940-an. Warung Coto H. Dg. Sangkala di masa itu sangat terkenal dimana-mana dan sering diundang oleh petinggi pemerintahan dalam acara penting kenegaraan untuk menikmati hidangan coto Makassar. Dari perjalanan riwayatnya, Coto Makassar adalah warisan tradisi yang telah menjadi hidangan favorit masyarakat dan bisa ditemui hampir diberbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Keenakan menikmati coto makassar tak terlepas pula dari tradisi peramuaanya yang secara khusus diolah dalam kuali tanah yang disebut: korong butta atau uring butta dan dengan rampah patang pulo (40 macam rempah) yang terdiri dari kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli,sere yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seldri, daun prei, lombok merah, lombok hijau, gula talla, asam, kayu manis, garam, papaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jerohan.
Khasnya rasa dari kentalnya coto Makassar dari ramuan rempah-rempah yang 100% alami berfungsi sebagai penawar zat kolesterol yang terdapat dalam hati, babat, jantung, limpah dsb. Rasa khas inilah yang menurut dugaan bahwa keberadaan soto babat dari Madura, soto Tegal, soto Betawi, terinspirasi dari Coto Makassar karena dahulu dibawa oleh para pelaut kedaerah tempa tsoto yang lain berada sehingga diduga bahwa coto Makassar itu “lebih tua” dari pada soto di persada Nusantara ini.Mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam Coto Makassar tentu sangat bergizi. Buktinya, bumbu sopnya saja sampai berkhasiat sebagai penawar kolestrol.
Dari sejarah coto di atas, yuk kita coba membuat CoTo Makasar.....
Bahan
  • 300 gram jerohan sapi, rebus
  • 300 gram daging sapi
  • 5 cm kayu manis
  • 2 liter air cucian beras yang terakhir
  • 3 sdm minyak, untuk menumis
  • 8 butir bawang merah, iris tipis
Haluskan
  • 6 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 1 ½ sdt merica butir
  • 1 sdm ketumbar sangrai
  • ½ sdt jintan
  • 3 cm jahe
  • 5 cm lengkuas
  • 50 gram kacang tanah, sangrai, buang kulit arinya.
  • 2 batang serai, memarkan
  • 2 sdm tauco
  • 1 sdm irisan gula merah
Pelengkap
  • Buras/lontong secukupnya, potong-potong
  • 2 batang daun bawang, iris halus
  • 3 sdm bawang goreng
  • 3 buah jeruk nipis, belah-belah
  • Sambal tauco
Cara membuat
  1. Masukkan daging sapi, jerohan, kayu manis, dan garam ke dalam
    panci yang berisi air cucian beras. Masak sampai daging setengah
    matang. Kecilkan apinya.
  2. Tumis bawang merah sampai harum, masukkan bumbu halus, serai,
    dan tauco. Tumis sampai harum dan matang. Masukkan tumisan bumbu
    ke dalam rebusan daging. Tambahkan gula merah, masak sampai
    daging, jerohan empuk dan matang.
  3. Angkat daging dan jerohan sapi, lalu potong-potong. Masukkan
    kembali kedalam kuah. Sajikan coto dengan pelengkap dan sambal
    tauco.
Kalo mau kuliner makanan ini di Yogya.... ada 2 tempat favorit saya: di Jalan Kaliurang km 8, namun sayang hari Senin tutup, dan di daerah kotabaru, dekat Gereja..... yummy dah.....

Wajit Cililin

Perjumpaan kedua dengan wajit yaitu melalui oleh-oleh teman saya. Kebetulan ia habis berlibur dari Purwakarta, Jawa Barat. Kelezatan wajit yang teman saya berikan masih terbayang-bayang. Wajit dibungkus tebal dengan daun jagung, rasanya manis, harum gula, serta teksturnya sedikit lengket kayak dodol. Ditambah lagi ada parutan kelapa yang memberi sensasi khusus (beuhh bahasanya). Memang ukuran wajitnya lebih kecil daripada bungkusnya, tapi justru hal tersebut meningkatkan laju penghabisan 1 bungkus besar wajit dalam 2 hari. Ya, karena rasanya uenak tadi. Sayang bungkus primernya sudah kebuang, pokoknya merknya ada unsur Pak "Siapa Gitu".