Selasa, 30 September 2014

Gathot

Bukan Gatot si superhero lokal, bukan nama jalan, bukan singkatan "Gagal Total", apalagi namanya orang. Gatot yang dimaksud adalah makan olahan dari singkong, orang Jawa biasa menyebutnya "Gathot" atau juga "Gambleh". Awalnya mendengar tentang makanan khas Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta ini dari dosen dan beberapa teman kuliah. Paling cuma "manggut-manggut" tapi penasaran, sukar dibayangkan kalau nggak makan. Sodaranya Gatot, Tiwul, malah sudah nyoba lumayan tersedia di pasar tradisional Yogyakarta, dijajakan bersama cenil, getuk, lupis, and friends (lanjutannya nggak tahu namanya apa >_<). Kenapa saya sebut sodara? Soalnya asal muasal Gatot dan Tiwul sama, yaitu "Gaplek". Jangan salah kira, bukan gaplek "gagap teknologi", melainkan singkong yang dikupas kulitnya, diiris, trus dikeringkan (biasanya secara tradisional melalui penjemuran sinar matahari). Perjalanan Gaplek menjadi Gatot relatif sederhana kelihatannya. Gaplek yang sudah dikeringkan trus direndam dengan air kapur sirih selama 12 jam. Air rendaman Gathot mentah lalu dibuang, Gathot nya dibilas bersih, dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki kemudian dikukus 2 jam. Setelah matang, disimpan di wadah yang lebar agar cepat dingin. Dulunya bersama Tiwul, Gatot merupakan makanan pokok penduduk Gunung Kidul pengganti nasi. Tanah di Gunung Kidul cenderung kurang subur, kering, berdaya dukung rendah sehingga hanya tanaman tertentu seperti jagung, kacang-kacangan, dan singkong yang berhasil dibudidayakan. Semenjak tahun 1966, terjadi perubahan pola konsumsi nasi sebagai makanan pokok. Katanya sih, akibat perkembangan jaman dan urbanisasi. Kedua makanan tradisional ini pun tergeser menjadi makanan camilan.

Akhirnya sekarang di Jekardah, takdir mempertemukan saya dengan Gatot. Waktu itu Pakde baru pulang dari Yogyakarta dan Alhamdulillah dapet deh satu bungkus Gatot dan Tiwul :) Insya Allah kalau lagi rajin, saya review Tiwul instant, di sini ya. Baru setelah lama dianggurin (tapi nggak selama nganggurin blog ini hihi), kami berinisiatif memasak Gatot instant tersebut. Maklum makanan langka, jadi disayang-sayang (baca : disimpen). Tapi kalo disayang mulu, takutnya malah bisa kadaluwarsa. 

Cara mengolah Gatot instant mudah, asal nggak bikin sambil merem atau pas malem mati lampu aja. Gatot kering direndam semalaman, waktu itu mulai jam 21.00 sampai jam 06.00 pagi keesokannya. Trus dikukus sampai empuk, mencapai 1 jam kira-kira. Pokoknya dicek, kira-kira Gatotnya sudah cukup matang atau empuk belum. Kelapa parut biasanya menjadi pendamping si Gatot. Kukuslah bersama gatot biar hemat LPG. 





Rasa Gatot ini cenderung tawar, berarti ada keleluasan untuk berkreasi. Saya memutuskan untuk mengkreasikannya dengan ... taburan gula pasir (wkwkwk, nggak modal dan nggak kreatif :'D). Untuk orang tua, mereka malah nggak neko-neko, cukup gatot dan kelapa parut yang tawar. Apa yang membuat gatot menarik adalah warnanya yang hitam dan aromanya. Oh ya satu lagi, tekstur makanan ini lucu, agak kenyal-kenyal. Percaya nggak sih, suatu keajaiban singkong yang putih kekuningan karena proses biologis bisa menghitam. Sebenarnya Gatot adalah hasil kreativitas warga Gunung Kidul juga. Ceritanya Gaplek yang jadi bahan baku untuk tiwul kan mestinya warna putih (kualitas tinggi), hanya saja proses pengeringan alamiah kadang-kadang menghasilkan warna yang tak sempurna yaitu kehitam-hitaman (kualitas rendah) akibat sewaktu-waktu kena hujan. Kok bisa? Kelembaban yang tinggi memungkinkan bakteri dan jamur tumbuh, melalui mekanisme degradasi senyawa kompleks singkong oleh kedua mikroorganisme ini (yang saya kurang pahami), terciptalah warna hitam dan tekstur kenyal pada Gaplek. Gaplek hitam dibuang sayang, trus dibikin deh Gatot. Sekilas mendengar ceritanya mungkin agak serem ya tapi Gatot pada ambang batas (1 piring saya makan waktu itu) aman dikonsumsi. Alhamdulillah saya buktinyaaa masih hidup dan bisa cerita disini hoho :) Walaupun terpuaskan akhirnya bisa nyicip gatot yang melegenda sewaktu kuliah (Makaciii Gathot Heboh, semoga semakin heboh mempopulerkan makanan unik-unik di Indonesia), sebenernya masih tersimpan keinginan untuk mencicipi gatot yang masih "segar" (rakus) mudah-mudahan suatu saat. Bagi yang sudah mencoba Gatot versi selain instant, silakan cerita-cerita di kolom komentar dibawah ini.

Salam cerita kuliner Yogyakarta!

Sumber :