Jumat, 21 Desember 2012

Ampyang


Konsumsi kacang tanah berlebih kadang dituding sebagai biang kerok tumbuhnya banyak jerawat di wajah. Kacang tanah juga katanya rawan mengandung aflatoksin akibat cemaran jamur Aspergillus flavus. Hah! Peduli amaaat. Jerawat malah tumbuh ketika saya menunda-nunda menulis posting tentang ampyang ini. Lalu aflatoksin? Asal makan kacang tanahnya dikit-dikit kan juga nggak papa hehe. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, saya sukaaa banget sama gula-gula kacang tanah. Termasuk ampyang. Biasanya dalam satu kemasan, 90% dari camilan manis ini saya yang makan :D Hampir mirip dengan jipang kacang, berbahan baku utama kacang tanah dan gula merah. Namun ketika digigit ada sensasi yang berbeda. Kalau jipang kacang digigit lembut agak lengket, ampyang sedikit keras atau kokoh. Kacang yang digunakan berupa kacang tanah utuh sedangkan pada jipang kacang berupa tumbukan kasarnya. Nah, warnanya juga beda-beda dikit. Warna gula merah jipang kacang lebih gelap dibandingkan ampyang. Soal rasa? Dua-duanya enaaak, manis-manis gitu.


Ampyang merupakan kuliner khas Klaten. Klaten merupakan sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sebelah utara berbatasan dengan Boyolali, sebelah timur dengan Sukoharjo, selatan dan barat dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (1). Walaupun ada juga yang mengatakan berasal dari Solo. Yah, deket-deketan maklum. Kata "ampyang" sendiri, oleh masyarakat Solo, digunakan untuk menggambarkan buruknya kondisi sebuah jalan. Kalau ada jalan yang berlubang dan tidak rata maka jalannya disebut "jalan ampyang". Bentuk ampyang yang tidak rata dan bergelombang mungkin dijadikan alasan kenapa akhirnya dinamakan demikian (2).

Ketika saya ingin memakan ampyang yang terakhir tersisa, rasanya sedih bukan kepalang hiks. Maklum belinya jauh di Yogyakarta atau Jawa Tengah, ongkos kemahalan buat meluncur kesana. Tapi sebenarnya membuat ampyang sendiri memungkinkan karena bahan maupun peralatannya mudah didapat disini. Bahan-bahannya berupa gula jawa, kacang tanah kupas, air dan jahe. Sekarang ada banyak modifikasi rasa ampyang yang pakai cokelat, emping, kelapa atau apalah . Selera orang beda-beda, tapi menurut saya ampyang harus rasa jahe! :) Berikut ini merupakan tahapan membuat ampyang sendiri, linknya ada di bawah (3).
1. Penyerutan atau pencincangan gula merah
2. Penyangraian kacang tanah diatas api kecil hingga matang dan kering. Angkat dan sisihkan kacang.
3. Pemanasan jahe (dengan cara dibakar) lalu pengirisan tipis-tipis.
4. Pemanasan gula merah dan air sampai mulai leleh.
5. Pemasukan jahe iris.
6. Pemanasan larutan gula jawa dan jahe sampai gula larut.
7. Pencampuran dengan kacang tanah.
8. Pembentukan (biasanya lingkaran tipis) di atas kertas roti
9. Pendinginan hingga mudah terlepas dari alas kertas roti.

Gampil kaaan?? Hehe sotoy, padahal mencobanya saja saya belum :D Konon kabarnya membuat ampyang juga membutuhkan trik, untuk menghasilkan produk yang tidak menggumpal dan mengeras serta kacang tanah yang renyah, tidak lembek. 

Sumber : 
(1) Artikel "Pusaka Klaten" ditulis oleh tim Festival Budaya Nusantara pada tanggal 2 Mei 2012 di website http://fesbudnus.blogspot.com/2012/03/pusaka-klaten.html
(2) Artikel "Ampyang; Peanut Biscuit dari Solo" oleh Ahmed Fikreatif pada tanggal 27 Maret 2010 di website http://ahmedfikreatif.wordpress.com/2010/03/27/ampyang-peanut-biscuit-ala-solo/
(3)  Artikel "Pembuatan Gula Kacang/Ampyang" oleh tim Warintek Jogja di website http://www.warintekjogja.com/warintek/warintekjogja/warintek_v3/datadigital/bk/ampyang.pdf





Tidak ada komentar:

Posting Komentar