Tampilkan postingan dengan label Curhat Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat Kuliner. Tampilkan semua postingan

10/05/2013

Wedang Uwuh

Dari namanya saja sudah menggelitik. Dalam Bahasa Jawa, wedang berarti minuman sedangkan uwuh itu sampah. Minuman sampah. Walaupun begitu, cita rasa dan manfaat minuman asli Imogiri Daerah Istimewa Yogyakarta ini jauuuuuh dari arti namanya. Penampilan apa adanya, sebelum dipisahkan dari bahan rempah-rempahnya yang mirip "timbunan-dedaunan rontok-di-pekarangan-rumahku", mungkin menyebabkan si penemu tega menamakan uwuh disini.


Konon kabarnya, wedang uwuh ditemukan secara tidak sengaja. Sekitar tahun 1630, Sultan Agung menyuruh abdi dalem (pembantu raja) untuk dibuatkan minuman yang dapat menghangatkan badan sebagai pendamping ritual meditasi. Sultan Agung adalah Raja Mataram yang kala itu sedang mencari lokasi yang sakral untuk pemakaman raja-raja. Pada awalnya, minuman yang dibuat hanya wedang secang. Sementara Si Sultan sedang meditasi dibawah pepohonan, ditaruhlah wedang secang tersebut didekatnya. Angin bertiup kencang sehingga daun-daun berterbangan dan jatuh ke...wedang secang. Selanjutnya kalian tebak-tebak sendiri lah ya ceritanya atau mau tahu kelanjutannya di sini (pegel ngetik ;)). 


Jika ingin membuat ramuan wedang uwuh sendiri sebaiknya dipikir-pikir lagi. Masalahnya ada banyak rempah-rempah berkhasiat yang harus dicari sebagai bahan penyusunnya belum lagi menyusun formula rempah-rempahnya. Mending beli yang sudah siap diseduh :). Harga pasarannya juga tidak terlalu mahal. Wedang uwuh terbuat dari jahe, kayu secang, daun cengkeh, daun kayu manis, cengkeh dan daun pala. Plus gula batu sebagai pemanis alami. Semua bahan-bahan tersebut dicampur jadi satu dan diseduh dengan air panas. Diminum sebelum suhu wedangnya turun. Rasanya enak dan menghangatkan, jika wedang jahe yang dominan adalah rasa jahenya (yaiyalahh), minuman ini dominan cita rasa cengkeh yang nikmat. Sarannya, jangan menambahkan terlalu banyak gula sehingga cita rasa unik menghangatkannya tidak tertutup.  Manfaat yang dimiliki wedang uwuh cukup banyak. Didukung oleh rempah-rempah yang berkhasiat. Jahe membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah dan membantu menyembuhkan radang sendi. Kayu secang yang menyebabkan warna minumannya merah, mengandung antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.  Wedang uwuh dipercaya bisa menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh, melegakan pernapasan, mengusir masuk angin dan perut kembung. Tentunya efek kesehatan muncul dengan dosis tertentu (yang belum saya dapat informasinya :)) dan frekuensi minum yang teratur. Yang jelas ketika meminumnya, tubuh kita akan langsung terasa hangat, enak banget dinikmati kala udara sedang dingin-dinginnya. Oh ya, rasanya juga enak, lho.

Kemarin saya dapat wedang uwuh oleh-oleh dari Yogyakarta dari orang tua. Ada 3 jenis, jenis wedang uwuh instant (butirannya paling halus, nggak perlu disaring), jenis seduhan original (seperti di foto) dan jenis seduhan yang lebih halus rempah-rempahnya. Paling suka bentuk yang ketiga, soalnya aroma rempahnya kuat dan ekstraksinya lebih cepat. Cucok untuk orang yang nggak sabaran pingin segera minum seperti saya hehe.

Wedang Uwuh Azadiene
email : progress_jogja@yahoo.com
telepon : 0856 43318 048
facebook fan page : Wedang Uwuh Azadiene
  

Sumber :
(1) Artikel "Wedang Uwuh = Minuman Sampah?" dalam http://eviindrawanto.com/2013/03/wedang-uwuh-minuman-sampah-berkhasiat/
(2) Artikel "Wedang Uwuh, Minuman Sampah yang Kaya Manfaat"  dalam website http://inloveindonesia.com/wedang-uwuh-minuman-sampah-yang-kaya-manfaat/
 

1/18/2013

Soto eh Coto.... Apa Bedanya ya???



Kali Ini penulis pengen nyoba ngutak atik sejarah Coto Makasar ataupun Soto. Tergelitik dengan quote dari beberapa teman di facebook tentang beda Soto n Coto (meskipun uda penasaran juga sebelumnya... tapi lum mampu menggerakkan akal dan pikiran untuk searching...), jadi pengen tau ni sejarah makanan yang udah jadi menu wajib kalo pas hujan ini....
Kuliner Indonesia ternyata banyak dipengaruhi oleh bangsa Asia, seperti Cina. Salah satunya Soto. Ini sudah tertulis dengan jelas dalam buku Dennys Lombard berjudul "Nusa Jawa: Silang Budaya".Dalam buku itu tertulis asal mula Soto adalah makanan Cina bernama Caudo dan  pertama kali populer di wilayah Semarang. Dari Caudo lambat laun menjadi Soto. Akhirnya berkembang di Makassar dengan sebutan Coto, dan orang Pekalongan menyebutnya Tauto. Atau penamaan tergantung dimana Soto tersebut berkembang. Ada Soto Ambon, Soto Bandung, Soto Banjar, Soto (Sroto) Banyumas, Soto Betawi, Soto Kediri, Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Madura, Soto Medan, Soto Padang, Soto Semarang, dan Soto (Sauto) Tegal.

Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr Lono Simatupang, menyebutkan soto merupakan campuran dari berbagai macam tradisi. Di dalamnya ada pengaruh lokal dan budaya lain. Mi atau soun pada soto, misalnya, berasal dari tradisi China. China-lah yang memiliki teknologi membuat mi dan soun.

Menurut Lono, Soto juga kemungkinan mendapat pengaruh dari budaya India. Ada beberapa soto yang menggunakan kunyit, seperti kari dari India. Karena ini soto bisa dikatakan merupakan campuran dari berbagai tradisi. Soto yang bersantan untuk campuran kuahnya - seperti Soto Medan dan Soto Kediri, kemungkinan terpengaruh kebudayaan India .
Serbuk koya pada Soto yang juga ditemukan di lontong cap go meh adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini dibuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur.

Irisan bawang putih yang digoreng kering, juga merupakan jejak budaya Tionghoa. Cara memasak seperti ini jelas merupakan selera Tionghoa, seperti ditemukan di masakan Tionghoa Pontianak.

Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah, bukan bawang putih, untuk digoreng kering dan digunakan sebagai kondimen.

Akulturasi lain adalah sendok bebek dan mangkok. Kedua benda ini merupakan alat makan yang diduga berasal dari Cina. Alat-alat seperti sendok bebek sering digunakan sebagai alat makan sup di Cina.

Penyebaran soto ke berbagai daerah di Indonesia seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada proses industri.

Penyebaran ini, lanjut Lono, diikuti dengan upaya lokalitas. Proses lokalitas soto mungkin sama seperti lokalitas Islam maupun Kristen di Indonesia. Inilah yang mengakibatkan muncul berbagai jenis soto di Indonesia. Begitu juga variasi rasa dan coraknya. Meskipun namanya soto, namun rasanya beraneka ragam. hal ini agar dapat diterima di daerah tersebut. Seperti Soto Kudus yang menggunakan daging kerbau karena pengaruh Hindu di sana di mana sapi merupakan hewan suci.

Bahan-bahan lain dan rasa pun mengalami pelokalan. Itu yang membuat aneka soto bermunculan. Meski begitu, bisa dikatakan, penampilan dan rasa dasarnya tetap mirip. (Berbagai sumber-)
Lalu, bagaimana dengan sejarah coto Makasar sendiri? Kalo menurut penulis, ketika pertama kali memakan Coto ini, rasanya cukup unik. Bagi yang tidak terbiasa memakan makanan ini untuk pertama kalinya enggan untuk memakannya kembali (termasuk saya- soalnya berbumbu sekali...). Tapi setelah mencoba untuk kedua kalinya..... wuih jadi pengen lagi......  Apalagi kalo pas ujan atau pas flu... hemmmm badan terasa segar. Habis itu, makanan penutupnya pallu buntung.... kenyang kuadrat...
So, Coto Makasar itu sejarahnya bagaimana? dari klik search di engine google, ternyata catatan sejarah dari Coto makasar ini belum ada. Tidak ada catatan resmi mengenai salah satu makanan khas tradisional Makassar ini. Coto Makassar diduga sudah ada sejak jaman kerajaan Gowa yakni Somba Opu yang pernah berjaya pada tahun 1538. Coto Makassar merupakan hidangan seni  bercitarasa tinggi yang menjadi hidangan khusus bagi para kalangan istana kerajaan Gowa. Namun sebagian pula ada yang mengatakan bahwa kuliner ini diciptakan oleh rakyat jelata dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi harinya.
 Cita rasa Coto Makassar disempurnakan oleh adanya perpaduan tradisi makanan Cina yang memang sudah hadir pada abad ke 16. Pemakaian bumbu ramuan kuno Cina yakni sambal Tao-co dipadu dengan 40 macam ramuan rempah lokal ( Rampah Patang Pulo) yang merupakan bumbu lokal. Dengan adanya perpaduan bumbu tersebut maka coto Makassar menjadi makanan berkuah khas dengan aroma bumbu rempah yang pekat. Keunikan coto makassar lainnya yaitu selain daging, juga terdapat jeroan berupa hati, jantung, limpa, usus dan lainnya dimana jeroan biasanya tidak ditemukan pada jenis masakan sup manapun. Dengan cara pengolahan tertentu, jeroan tersebut menjadi pelengkap utama kelezatannya. Tanpa jeroan, coto Makassar kehilangan sensasinya.
 Diduga pula bahwa Coto Makassar merupakan masakan kuah yang tertua dipersada Nusantara. Keberadaan Soto Madura, Soto Tegal, Soto Betawi dan diwilayah lainnya diduga kuat terinspirasi dari pengaruh Coto Makassar yang dibawa oleh para pelaut Bugis Makassar yang melanglang buana di seluruh penjuru negeri.
 Warung coto pertama yang ada di Makassar adalah warung coto milik H. Dg. Sangkala. Warung itu dulunya berada di sudut Jalan Ranggong ditengah jantung kota Makassar. Warung coto yang sudah tinggal nama itu dibangun sekitar tahun 1940-an. Warung Coto H. Dg. Sangkala di masa itu sangat terkenal dimana-mana dan sering diundang oleh petinggi pemerintahan dalam acara penting kenegaraan untuk menikmati hidangan coto Makassar. Dari perjalanan riwayatnya, Coto Makassar adalah warisan tradisi yang telah menjadi hidangan favorit masyarakat dan bisa ditemui hampir diberbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Keenakan menikmati coto makassar tak terlepas pula dari tradisi peramuaanya yang secara khusus diolah dalam kuali tanah yang disebut: korong butta atau uring butta dan dengan rampah patang pulo (40 macam rempah) yang terdiri dari kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli,sere yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seldri, daun prei, lombok merah, lombok hijau, gula talla, asam, kayu manis, garam, papaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jerohan.
Khasnya rasa dari kentalnya coto Makassar dari ramuan rempah-rempah yang 100% alami berfungsi sebagai penawar zat kolesterol yang terdapat dalam hati, babat, jantung, limpah dsb. Rasa khas inilah yang menurut dugaan bahwa keberadaan soto babat dari Madura, soto Tegal, soto Betawi, terinspirasi dari Coto Makassar karena dahulu dibawa oleh para pelaut kedaerah tempa tsoto yang lain berada sehingga diduga bahwa coto Makassar itu “lebih tua” dari pada soto di persada Nusantara ini.Mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam Coto Makassar tentu sangat bergizi. Buktinya, bumbu sopnya saja sampai berkhasiat sebagai penawar kolestrol.
Dari sejarah coto di atas, yuk kita coba membuat CoTo Makasar.....
Bahan
  • 300 gram jerohan sapi, rebus
  • 300 gram daging sapi
  • 5 cm kayu manis
  • 2 liter air cucian beras yang terakhir
  • 3 sdm minyak, untuk menumis
  • 8 butir bawang merah, iris tipis
Haluskan
  • 6 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 1 ½ sdt merica butir
  • 1 sdm ketumbar sangrai
  • ½ sdt jintan
  • 3 cm jahe
  • 5 cm lengkuas
  • 50 gram kacang tanah, sangrai, buang kulit arinya.
  • 2 batang serai, memarkan
  • 2 sdm tauco
  • 1 sdm irisan gula merah
Pelengkap
  • Buras/lontong secukupnya, potong-potong
  • 2 batang daun bawang, iris halus
  • 3 sdm bawang goreng
  • 3 buah jeruk nipis, belah-belah
  • Sambal tauco
Cara membuat
  1. Masukkan daging sapi, jerohan, kayu manis, dan garam ke dalam
    panci yang berisi air cucian beras. Masak sampai daging setengah
    matang. Kecilkan apinya.
  2. Tumis bawang merah sampai harum, masukkan bumbu halus, serai,
    dan tauco. Tumis sampai harum dan matang. Masukkan tumisan bumbu
    ke dalam rebusan daging. Tambahkan gula merah, masak sampai
    daging, jerohan empuk dan matang.
  3. Angkat daging dan jerohan sapi, lalu potong-potong. Masukkan
    kembali kedalam kuah. Sajikan coto dengan pelengkap dan sambal
    tauco.
Kalo mau kuliner makanan ini di Yogya.... ada 2 tempat favorit saya: di Jalan Kaliurang km 8, namun sayang hari Senin tutup, dan di daerah kotabaru, dekat Gereja..... yummy dah.....

11/18/2012

Kue Sengkulun?

Pas dapat kiriman kue ini dari saudara, hati saya berseri-seri bahagia. Bahagia selain karena gratis, kue tersebut cukup aneh dan nggak pernah ada di Depok (mungkin Jakarta juga ya) jadi cihuyyy untuk diceritakan melalui blog. Langsung saja menghambat orang rumah menghabiskan kue ini (sebelum bentuknya menjadi tak karuan ketika dipotret), menatanya di piring, lalu memotret dengan susah payah. Hampir saya melupakan namanya, begitupula papa saya (padahal beliau orang yang pertama kali memberitahu :D). Habis namanya agak sulit diingat, kue sengkulun.  

Perpaduan kelapa dan tepung ketan yang nikmat

Nyuwun referensi kue sengkulun di  Mbah Google malah membuat kepala cenat cenut. Namun sekaligus mendapat gambaran bahwa di Indonesia kemiripan antara kuliner di satu daerah dengan daerah lain tidak hanya sebatas bentuk maupun bahan, tapi juga nama! Ternyata ada sengkulun kuliner khas Betawi, ada sengkulun kuliner khas Malang, ada sangkolon kuliner khas Bangka Belitung, ada sengkulun khas Purworejo. Dari melihat-lihat resepnya di resensi buku 1010 Resep Asli Masakan Indonesia, sepertinya kue sengkulun Malang yang paling mendekati. Kalau sengkulun Betawi bahan dan bentuknya sudah beda banget. Kalau sangkolon mirip-mirip, tapi hati kecil saya mengatakan bukan yang ini yang dimaksud (asal :D).

Saya  belum menghubungi saudara saya untuk menanyakan bahan-bahan kue sengkulun, untuk kemudian dibandingkan dengan informasi di internet (sok ribet hihihi). Pokoknya overall kue ini manis banget, ketiga digigit terasa serat-serat khas kelapa parut yang gurih. Bentuknya balok sederhana, terdiri dari dua lapisan bawah putih dan atas merah yang rasanya kurang lebih sama. Teksturnya kenyal-kenyal sepertinya dari tepung beras ketan. Mirip wingko babat-nya Semarang tapi ini lebih "basah" dan lengket.  Enaaak.

Yah, sekian postingan kali ini pembaca yang budiman. Kalau ada yang pernah makan kue sengkulun (?) syukur-syukur tahu riwayat bla-bla-bla, bisa cerita sama kami disini lho :)

10/30/2012

Pecel


Seandainya di dunia ini tidak ada bumbu kacang-kacangan (terutama yang dari kacang tanah), saya pasti suangaaat juaraaang makan sayuran. Maklum nggak doyan. Bersyukur ada kuliner semacam gado-gado, karedok, ketoprak, kupat tahu, dan pecel yang "berkacang-kacang ria". 

Paling favorit adalah pecel. Sudah pada kenalan kan? Pecel terdiri dari sayur-sayur rebus seperti bayam hijau, kacang panjang, kangkung, taoge, ketimun serta kadang-kadang menggunakan bunga-bunga edible semacam kecombrang dan turi. Para sayur ini kemudian disiram bumbu kacang tanah pedas (cair dan kental). Pendamping makannya bisa pakai serundeng (kelapa parut berbumbu yang disangrai hingga kering), kering tempe (tempe diiris tipis-tipis digoreng, lalu dibumbui pedas-pedas manis) dan aneka lauk pauk seperti baceman atau ayam goreng bumbu kuning. 

Kadang mama di rumah membuat pecel kala kepepet dan ngirit (saking praktis pembuatannya). Bumbu pecel tinggal diseduh air panas mendidih, nggak perlu repot ngulek trus disiram ke sayur rebus. Kalau makan di luar, langganannya Warung Pecel Madiun Mbak Ira samping Ace Hardware Jl.Margonda-DepokOh,ya, bagi pecinta bumbu pecel yang pedas-pedas bisa berharap dapat kirimannya dari daerah Jawa Timuran. Pedasnya dominan, tidak terlalu manis (seperti bumbu pecel yang pernah saya cicipi buatan Yogyakarta) dan gurih. Awal bulan lalu kami mendapatkan oleh-oleh bumbu pecel dari teman mama di Malang. Awalnya bingung, kok judulnya "bumbu lecep"? Bumbu Lecep Mbak Sri Klojen. Setelah bertapa 1 hari 1 malam plus nyicipin bumbunya, barulah terkuak bahwa benda aneh ini adalah bumbu pecel. Sedikit review, bumbu pecelnya enaaak. Dimakan tanpa sayur dan lauk pun juga enaaak. Walaupun ditulis level kepedasannya "sedang" tapi tetap saja lumayan pedas di lidah saya. Kalau untuk disiram ke sayurannya lebih baik kental-kental seperti di gambar foto yang terakhir, biar bumbu dan pedasnya terasa. Jangan terlalu cair mencairkannya, ya :). 
 



9/07/2012

Gado-Gado

Penampakan "Gado-Gado Turunan" apa adanya

Pernah terjebak dalam obrolan mengenai rumah makan/warung/restoran yang ramai bukan main. Dimana ujung-ujungnya selalu berakhir pada kecurigaan : Ni tempat pasti pakai penglaris, dech. Pakai umik-umik? Pakai ritual-ritual tertentu di luar batas logika? Saya sendiri pernah dan terkadang ikut terpancing percaya :D. Terlepas dari ada tidaknya cara-cara aneh diatas untuk meramaikan tempat usaha, saya ingat suatu tempat jualan gado-gado yang super laris. Lokasinya dekat  Yayasan dan Rumah Sakit Panti Nugraha, dekat warung Serabi Bandung yang juga enak plus mur-mer, dekat penjual Tahu Sumedang yang endang gulindang (terjemahan : enak banget) di daerah Cilandak, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Tempatnya dekat turunan sehingga kita sebut saja "Gado-Gado Turunan". Tanyakan dimana tempat penjual gado-gado terenak sedunia sama penduduk sekitar situ. Insya Allah nyampe dahhh :)

Penjualnya seorang ibu-ibu yang ciri khasnya pakai topi berlilitkan handuk disekelilingnya (ya, saya serius) dan ditemani adiknya. Mereka berjualan di sebuah gerobak tapi sudah berteduhkan kios kecil yang minim bangku meja. Jarang pembeli yang makan ditempat, kebanyakan take-away. Bicara soal pembeli, wuiiih jangan ditanya. Setiap kali saya lewat disana, kayaknya jarang sepi. Si Ibunya keliatan nggak berhenti ngulek terus tangannya. Kelihatan sepi ternyata ada banyak pesanan. Banyak pembeli yang lebih suka pesan dulu baru diambil. Pernah kelihatan nggak buka kiosnya tak dikira sedang menyiapkan pesanan gede buat pejabat. Pembelinya pun beraneka rupa dari yang jalan kaki, naik sepeda, sepeda motor, mobil biasa sampai mobil mentereng. Waktu usahanya relatif cepat, buka diatas jam 10 pagi dan sudah tutup jam 3 sore maksimal. Sering jualannya laris manis tanjung kimpul. Padahal harga jual gado-gado per bungkus diatas rata-rata (untuk ukuran penjual gerobakan) yaitu Rp 9000,-.

Pertanyaan iseng tapi normal, kok bisa ya?

"Gado-Gado Turunan" memang beda dari gado-gado pada umumnya. Ciri khas terletak pada saus kacangnya yang manis dan kental. Kalau di tempat jualan lain sausnya "Gado-Gado Turunan" ini masih dikasih air sehingga kurang ngacang dan gado-gadonya basah. Cita rasa saus kacangnya pula pas di lidah (terutama bagi penggemar sing manis-manis). Kedua, lontongnya juga sengaja dipotong gede-gede dan butiran nasinya masih bisa terlihat. Tidak terlalu padat dan kenyal-kenyal seperti sodaranya sesama lontong. Lembyuuut pula, nenek saya yang giginya tinggal sedikit aja doyan. Kayaknya salah alamat kalo menuduh Si Lontong "Gado-Gado Turunan" bermandikan boraks.

Bumbu kacang manis dan kental
Selebriti berikutnya : Si Lontong yang Beda

Itu dilihat dari sisi produknya saja. Sekarang cerita soal Si Ibu, produsen yang juga merangkap sebagai marketeer jagoan. Dia orangnya sangat hangat dan komunikatif dengan pelanggan. Walaupun dengan saya yang terkadang suka kaku-kaku nggak karuan, dia bisa ngerocos cukup panjang lebar. Selama dia berbicara, senyum ramah dan deretan gigi yang terlihat tak pernah absen. Ketika kita telah membayar dan mengambil pesanan pun, ia selalu bilang "terima kasih ya Bu, Mbak" dengan penekanan dan perhatian penuh bahkan ketika disambi mengulek pesanan. Caranya menghadapi kami, para pembeli, mirip-mirip para front liner di perusahaan public service terkemuka. Kemudian bagian berikutnya yang paling menarik : bagaimana ia memahami produk gado-gadonya dengan baik dan mengetahui cara-cara untuk menjaga produk ini supaya tetap konsisten kualitasnya. Dalam sesi cerocosannya kepada saya, ia sadar bahwa kualitas prima dari bahan baku awal dan proses produksi yang benar sangat penting. Ia memahami atribut kualitas apa saja yang mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk gado-gado. Standar khusus secara sederhana ia buat untuk bahan baku dan proses produksi makanan khas Betawi ini. Si ibu juga mengaku cukup disiplin dalam menjaga standar diterapkan setiap harinya. Sebagian contohnya ada sebagai berikut, selebihnya menghilang dari kepala akibat keterbatasan otak untuk merekam :
1. Saya tidak mau beli kacang yang sudah digoreng dari pasar. Lebih baik saya goreng sendiri. Soalnya kadang ada yang gosong-gosong, nanti ndak enak saus kacangnya.
2. Gula jawa khusus, lho mbak. Saya nggak mau sembarangan kadang ada yang dicampur dengan macam-macam atau cenderung kotor. Lalu dia menunjukkan satu kardus dengan merek tertentu yang seragam serta memang, tampak berkualitas.
3. Lontong saya bikin sendiri. Beras untuk lontong juga khusus, jenisnya tertentu. Waktu pemasakannya dan jumlah airnya tertentu biar bisa lembut kayak punya saya.
4. Saya nambah kacang X diantara kacang tanahnya supaya rasanya lebih enak dan gurih. Makanya harga gado-gadonya sedikit lebih mahal (Maaf ya, saya rahasiakan kacang X-nya, silakan tebak-tebak buah manggis para pembaca yang budiman)
5. Saya senengnya pakai timun yang kecil-kecil, kalau yang besar seringnya lebih berair.
6. Saya punya langganan tertentu untuk bahan baku. Saya ini "orangnya kuno", seringnya saya pilih sendiri bahan bakunya dibanding diambilin penjual. Biar bisa dilihat mana yang baik kualitasnya.

Saya bengong.
Ditambah, dia menjelaskan bahwa gado-gadonya sudah didesain untuk bertahan lama hingga 6 jam. Kesegaran sayur mayur sebagai bahan utama sangat diperhatikan. Katanya dimasak pada hari gado-gado dijual. Terlepas dari apakah cerocosannya hanya trik marketing belaka, kita berpikir positif bahwa semua kemungkinan itu bisa terjadi :) Seorang pedagang sederhana yang mengetahui betul apa yang membuat para pembeli datang dan datang lagi : keunikan, pelayanan pelanggan yang baik, kualitas dan komitmen menjaga kualitasnya itchuuu. Oh ya ditambah kerja keras. Saya pun sempat meremehkan etos kerja Si Ibu karena kiosnya bukanya sebentar-sebentar dan kadang tutup. Ternyata dia sedang melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan yang kayaknya belum tentu kita sanggup. 

Pertanyaan iseng tapi normal pun berlanjut, kok bisa ya, iiihh, jangan-jangan pakai...
Saatnya saya pribadi mulai mencoba melepaskan diri dari umik-umik-minded dan mulai menghargai proses kerja dibalik kesuksesan seorang pengusaha.

8/20/2012

Lebaran

Selamat hari raya idul fitri 1433 H

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mengampuni kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja dan senantiasa kasih sayang-Nya tercurah pada kita semua. Aamin ya Rabb.

Bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini banyak peristiwa unik terjadi, beberapa perubahan datang dan membutuhkan adaptasi. Namun satu yang pasti, mama saya selalu setia menyajikan ketupat opor ayam komplit :D Beberapa bahan sudah dipersiapkan beberapa hari sebelum lebaran seperti ayam mentah, kentang goreng dadu dan bola-bola daging.

Dari kiri ke kanan : ketupat, sambal goreng printil (tanpa santan), opor ayam, sambal goreng buncis ati ayam, acar. Sebagai pelengkap ditambahkan kerupuk udang dan taburan bubuk kedelai. Nyammm...

Kuliner wajib lebaran