Kamis, 06 September 2012

Gado-Gado

Penampakan "Gado-Gado Turunan" apa adanya

Pernah terjebak dalam obrolan mengenai rumah makan/warung/restoran yang ramai bukan main. Dimana ujung-ujungnya selalu berakhir pada kecurigaan : Ni tempat pasti pakai penglaris, dech. Pakai umik-umik? Pakai ritual-ritual tertentu di luar batas logika? Saya sendiri pernah dan terkadang ikut terpancing percaya :D. Terlepas dari ada tidaknya cara-cara aneh diatas untuk meramaikan tempat usaha, saya ingat suatu tempat jualan gado-gado yang super laris. Lokasinya dekat  Yayasan dan Rumah Sakit Panti Nugraha, dekat warung Serabi Bandung yang juga enak plus mur-mer, dekat penjual Tahu Sumedang yang endang gulindang (terjemahan : enak banget) di daerah Cilandak, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Tempatnya dekat turunan sehingga kita sebut saja "Gado-Gado Turunan". Tanyakan dimana tempat penjual gado-gado terenak sedunia sama penduduk sekitar situ. Insya Allah nyampe dahhh :)

Penjualnya seorang ibu-ibu yang ciri khasnya pakai topi berlilitkan handuk disekelilingnya (ya, saya serius) dan ditemani adiknya. Mereka berjualan di sebuah gerobak tapi sudah berteduhkan kios kecil yang minim bangku meja. Jarang pembeli yang makan ditempat, kebanyakan take-away. Bicara soal pembeli, wuiiih jangan ditanya. Setiap kali saya lewat disana, kayaknya jarang sepi. Si Ibunya keliatan nggak berhenti ngulek terus tangannya. Kelihatan sepi ternyata ada banyak pesanan. Banyak pembeli yang lebih suka pesan dulu baru diambil. Pernah kelihatan nggak buka kiosnya tak dikira sedang menyiapkan pesanan gede buat pejabat. Pembelinya pun beraneka rupa dari yang jalan kaki, naik sepeda, sepeda motor, mobil biasa sampai mobil mentereng. Waktu usahanya relatif cepat, buka diatas jam 10 pagi dan sudah tutup jam 3 sore maksimal. Sering jualannya laris manis tanjung kimpul. Padahal harga jual gado-gado per bungkus diatas rata-rata (untuk ukuran penjual gerobakan) yaitu Rp 9000,-.

Pertanyaan iseng tapi normal, kok bisa ya?

"Gado-Gado Turunan" memang beda dari gado-gado pada umumnya. Ciri khas terletak pada saus kacangnya yang manis dan kental. Kalau di tempat jualan lain sausnya "Gado-Gado Turunan" ini masih dikasih air sehingga kurang ngacang dan gado-gadonya basah. Cita rasa saus kacangnya pula pas di lidah (terutama bagi penggemar sing manis-manis). Kedua, lontongnya juga sengaja dipotong gede-gede dan butiran nasinya masih bisa terlihat. Tidak terlalu padat dan kenyal-kenyal seperti sodaranya sesama lontong. Lembyuuut pula, nenek saya yang giginya tinggal sedikit aja doyan. Kayaknya salah alamat kalo menuduh Si Lontong "Gado-Gado Turunan" bermandikan boraks.

Bumbu kacang manis dan kental
Selebriti berikutnya : Si Lontong yang Beda

Itu dilihat dari sisi produknya saja. Sekarang cerita soal Si Ibu, produsen yang juga merangkap sebagai marketeer jagoan. Dia orangnya sangat hangat dan komunikatif dengan pelanggan. Walaupun dengan saya yang terkadang suka kaku-kaku nggak karuan, dia bisa ngerocos cukup panjang lebar. Selama dia berbicara, senyum ramah dan deretan gigi yang terlihat tak pernah absen. Ketika kita telah membayar dan mengambil pesanan pun, ia selalu bilang "terima kasih ya Bu, Mbak" dengan penekanan dan perhatian penuh bahkan ketika disambi mengulek pesanan. Caranya menghadapi kami, para pembeli, mirip-mirip para front liner di perusahaan public service terkemuka. Kemudian bagian berikutnya yang paling menarik : bagaimana ia memahami produk gado-gadonya dengan baik dan mengetahui cara-cara untuk menjaga produk ini supaya tetap konsisten kualitasnya. Dalam sesi cerocosannya kepada saya, ia sadar bahwa kualitas prima dari bahan baku awal dan proses produksi yang benar sangat penting. Ia memahami atribut kualitas apa saja yang mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk gado-gado. Standar khusus secara sederhana ia buat untuk bahan baku dan proses produksi makanan khas Betawi ini. Si ibu juga mengaku cukup disiplin dalam menjaga standar diterapkan setiap harinya. Sebagian contohnya ada sebagai berikut, selebihnya menghilang dari kepala akibat keterbatasan otak untuk merekam :
1. Saya tidak mau beli kacang yang sudah digoreng dari pasar. Lebih baik saya goreng sendiri. Soalnya kadang ada yang gosong-gosong, nanti ndak enak saus kacangnya.
2. Gula jawa khusus, lho mbak. Saya nggak mau sembarangan kadang ada yang dicampur dengan macam-macam atau cenderung kotor. Lalu dia menunjukkan satu kardus dengan merek tertentu yang seragam serta memang, tampak berkualitas.
3. Lontong saya bikin sendiri. Beras untuk lontong juga khusus, jenisnya tertentu. Waktu pemasakannya dan jumlah airnya tertentu biar bisa lembut kayak punya saya.
4. Saya nambah kacang X diantara kacang tanahnya supaya rasanya lebih enak dan gurih. Makanya harga gado-gadonya sedikit lebih mahal (Maaf ya, saya rahasiakan kacang X-nya, silakan tebak-tebak buah manggis para pembaca yang budiman)
5. Saya senengnya pakai timun yang kecil-kecil, kalau yang besar seringnya lebih berair.
6. Saya punya langganan tertentu untuk bahan baku. Saya ini "orangnya kuno", seringnya saya pilih sendiri bahan bakunya dibanding diambilin penjual. Biar bisa dilihat mana yang baik kualitasnya.

Saya bengong.
Ditambah, dia menjelaskan bahwa gado-gadonya sudah didesain untuk bertahan lama hingga 6 jam. Kesegaran sayur mayur sebagai bahan utama sangat diperhatikan. Katanya dimasak pada hari gado-gado dijual. Terlepas dari apakah cerocosannya hanya trik marketing belaka, kita berpikir positif bahwa semua kemungkinan itu bisa terjadi :) Seorang pedagang sederhana yang mengetahui betul apa yang membuat para pembeli datang dan datang lagi : keunikan, pelayanan pelanggan yang baik, kualitas dan komitmen menjaga kualitasnya itchuuu. Oh ya ditambah kerja keras. Saya pun sempat meremehkan etos kerja Si Ibu karena kiosnya bukanya sebentar-sebentar dan kadang tutup. Ternyata dia sedang melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan yang kayaknya belum tentu kita sanggup. 

Pertanyaan iseng tapi normal pun berlanjut, kok bisa ya, iiihh, jangan-jangan pakai...
Saatnya saya pribadi mulai mencoba melepaskan diri dari umik-umik-minded dan mulai menghargai proses kerja dibalik kesuksesan seorang pengusaha.

1 komentar:

  1. kalau saya lihat dari ceritanya sih pasti karena memiliki resep tersendiri makanya jadi laris, kayaknya gado-gadonya memang lain dan nikmat.

    BalasHapus