11/08/2014

Pempek Beringin

Seumur hidup baru sekali nyoba pempek lezat seperti ini.

Intro postingan mungkin terdengar berlebihan. Namun begitulah kesan positif yang dirasakan ketika mencicipi pempek adaan-nya Pempek Beringin yang diberikan cuma-cuma oleh teman papa di Palembang. Sebelumnya, walaupun sudah belasan tahun tinggal di Palembang, sama sekali belum pernah mencicipi pempek yang satu ini. Alhamdulillah kami dapat 2 bungkus sejak Bulan Ramadhan lalu. Satu bungkus sengaja disayang-sayang di freezer, takut lenyap di perut begitu saja hihi. Dengan berat hati sekarang pempek pun digoreng.


Dari segi packaging, produk sudah terlihat rapi dan hygienis, menggunakan kemasan vacuum. Labeling juga sangat informatif bagi konsumen seperti tata cara penyimpanan serta umur simpan. Jika biasanya cuka, sebagai pelengkap pempek dikemas dengan bungkusan plastik biasa. Beda halnya dengan Pempek Beringin yang menggunakan botol plastik berpenutup rapat. Yeah, ini termasuk inovasi juga karena terkadang kita suka rempong menuangkan cuka jikalau dikemas dalam kantong plastik biasa. Pada beberapa kasus penyimpanan, cuka-cuka yang dikemas minimalis mudah tumpah (kalau nggak bener ngiket karet penutupnya) dan mengotori lemari pendingin. Baiklah, itu baru seumprit soal kesan penampilan. 

Bagaimana dengan kualitas cita rasa dan tekstur Pempek Beringin itu sendiri? 

Teksturnya lembuuuut sekali. Memang berasa kalau si pempek dominan daging ikannya. Kata mama sih ni pempek dibuat dari ikan belida yang harganya cukup mahal karena keberadaannya yang langka. Rasanya seperti makan dim sum :D. Ketika digoreng, bagian luarnya akan membentuk lapisan sedikit keras namun tak sekokoh pempek pada umumnya, mirip kulit tahu sutera. Dari segi rasa juga enaaaak sekali. Gurih dan sedikit kemanis-manisan. Duh, makan 1 bungkus kayaknya sanggup nih hihi. Pempek mentah dikemas sebagai produk yang belum siap konsumsi. Cara yang kami pilih untuk mematangkannya adalah dengan cara menggoreng. Namun hati-hati dengan besarnya api dan lamanya waktu menggoreng karena warna pempek cenderung mudah cokelat ketika digoreng. Bagaimana dengan cukanya? Tak kalah menggoda.  Warna hitam pekat, kekentalan, serta rasa asam pedasnya juara. Cukanya memang kentel banget, sampai-sampai teman papa menganjurkan diencerkan dulu dengan air matang sebelum dikonsumsi. 


Kekurangan Pempek Beringin adalah harganya yang diatas rata-rata. Tapi menurut saya, itu sebanding dengan kualitas prima yang ditawarkan. Tapi... tetep ngarep juga mending mendapat pempek ini dari orang lain alih-alih beli sendiri *aihhhh nggak modal* Untuk pricelist nya bisa dilihat disini.


Pempek Beringin
Jl. Lingkaran 1 No. 20/B 9, Palembang, Sumatera Selatan
Telepon : 0711 315691

10/24/2014

Semur Betawi

Semur mungkin masakan yang tidak begitu asing dalam menu sehari-hari kita. Walaupun terdengar sangat Indonesia, beberapa pakar kuliner menyebutkan ada pengaruh adaptasi dari masakan negara lain didalamnya, terutama pengaruh negara Belanda. Masuk akal, bila dirunut dari sejarah, negara inilah yang selama 3 abad menjajah bangsa kita :) Selama kurun waktu penjajahan, interaksi dengan rakyat Indonesia baik dalam perburuhan hingga pernikahan dimungkinkan terjadi. Tak terelakkan pula persilangan budaya dan kuliner. Tentunya nenek moyang kita secara cerdik mengadaptasi resep para kompeni, nggak langsung dijiplak, yaitu dengan pemanfaatan bahan serta rempah lokal. Menurut Chef Ragil Imam Wibowo, salah satu kuliner yang diduga menginspirasi adalah Hachee, masakan Belanda yang terbuat dari daging sapi, ikan, atau sayuran yang dimasak dengan bawang, cuka masak atau anggur, dan brown stock (kaldu sapi yang dibuat setelah bahan-bahan pembuatnya dipanggang terlebih dahulu dan ditambahkan bumbu-bumbu lainnya). Dari segi rasa, kedua masakan memiliki perbedaan : Hachee gurih sementara semur cenderung manis berempah. Namun dari segi pengolahan dan warna masakan yang kehitam-hitaman keduanya mirip. Hachee yang dikenal juga dengan istilah dutch stew ini dimasak dalam air yang banyak dengan waktu yang lama hingga daging menjadi empuk (slow cooking). Tuh, nggak jauh beda kayak bikin semur kan? Bondan Winarno, seorang praktisi kuliner yang terkenal dengan slogan maknyus ini, juga memiliki pendapat yang mirip. Ia berpendapat bahwa kata "semur" sendiri merupakan plesetan dari kata smoren yang dalam Bahasa Belanda berarti braising atau teknik masak dengan cara merebus lama dengan api kecil hingga daging empuk.

Nah, cerita kuliner sekarang tentang semurnya Si Doel Anak Sekolahan, Semur Betawiii. Pada acara-acara spesial masyarakat Betawi, seperti lebaran, semur identik disajikan bersama ketupat sayur godok, sambal goreng ati, dan rendang. Ciri khas yang dimiliki semur terutama pada aromanya. Maklum, Semur Betawi mang kaya rempah seperti cengkeh, kayu manis, salam, jahe, jinten, merica, dan bunga pala. Trus kenikmatan Semur Betawi juga terletak pada rasa legit dan kuah hitam kentalnya. Konon kabarnya, kekentalan dan kehitaman Semur Betawi lebih-lebih dibandingkan semur daerah lain, seperti Jawa. Sesuai tradisi, Semur Betawi dimasak dalam waktu lama sampai kuahnya hitam kental. Cara ini tak hanya mengempukkan daging tapi juga membuat bumbunya meresap. Beberapa waktu silam, bersenjatakan daging sapi seumprit kami mencoba memasak Semur Betawi. Sudah terbayang jumlah waktu yang dibutuhkan untuk memasaknya. Daripada sayang masak daging seumprit doang, beberapa potong tahu turut serta diceburkan di dalam semur. Sebenarnya Semur Tahu Betawi saja, tanpa daging, juga tak kalah enaknya. Di daerah saya, banyak pengusaha kuliner rumahan menawarkan menu sarapan nasi uduk atau nasi ulam dan "semur selain daging" jadi salah satu pelengkap. Nb : Selain daging maksudnya tahu, telur bulat, bahkan jengkoool. Nyam. Senang rasanya melihat potongan lauk pauk sederhana yang berwarna cokelat kehitam-hitaman meresap ini, dengan lembaran daun salam yang dibiarkan melayang-layang apa adanya di kuah dalam panci jualan mereka :). 

Sebelum tercebur, goreng dulu tahunya dengan gaya potongan yang dikehendaki (sebaiknya jangan ketebelan supaya peresapan bumbu nggak kelamaan). Trus masukinnya jangan bareng daging, biar nggak ancur, pas daging setengah empuk. Sebaiknya gunakan rempah-rempah yang segar, bukan berupa bubuk. Dulu sempat pake yang bubuk pala tapi aromanya malah kurang kuat. Terakhir, kumpulkan kesabaran kita karena masak Semur Betawi luamaa. Tapi nggak papa biar bakteri pembusuknya mati dan semurnya lebih awet. Selain itu, makin lama dimasak, keharuman dan kelezatan semur meningkat, inilah bayaran berharga bagi kita yang telah berkorban waktu dan gas :). Pssssttt, sebenarnya semur di foto berikut masih prematur alias masaknya kurang lama, warna kurang gelap plus kuah masih encer. Ketika semur kami disimpan untuk keesokan harinya lalu di panaskan berulang-ulang malah tambah seudeppp, sesuai teori diatas deh ;). 



Resep yang kami gunakan berdasarkan contekan Sajian Sedap. Tapi kalo komposisinya melenceng dikit bisa kok, resep berikut hanya sebagai ancar-ancar. Disini kami melewatkan tomat dan jinten karena persediaannya kosong. Tapi masih semangat, hehe enak juga. Silakan dicoba :) 

Semur Betawi (Sumber : Sajian Sedap)

Bahan :
400 g daging sapi, potong kotak
2 buah tomat, potong-potong
4 butir bawang merah, iris tipis
2 lembar daun salam
3 buah cengkeh
4 cm kayumanis
1 buah bunga pala
2 sdm kecap manis
1 sdt garam
1200 ml air
1 sdm minyak untuk menumis
1 sdm bawang merah goreng untuk taburan

Bumbu Halus :
3 siung bawang putih
1/2 sdt merica
1 sdt ketumbar
1/4 sdt jintan
2 butir kemiri, sangrai
2 cm jahe

Cara Pembuatan :
1. Panaskan minyak. Tumis bawang merah, daun salam, cengkeh, kayumanis, bunga pala, dan bumbu halus sampai harum.
2. Masukkan daging sapi, aduk sampai berubah warna. Tambahkan tomat. Aduk sampai layu.
3. Masukkan kecap manis, garam, dan air sedikit-sedikit. Masak sampai matang.
4. Sajikan dengan taburan bawang merah goreng.

Sumber :








10/18/2014

Seri Mie Nusantara 1 : Bakmi Godhog

Sekarang cerita kita tentang Bakmi Godhog. Sudah pernah nyicip Bakmi Godhog Kadin yang tersohor di Yogyakarta? Mudah-mudahan sudah dapat gambaran mengenai penampakan bakmi ini. Sebenarnya tempat makan bakmi godhog yang enak bukan hanya di Bakmi Kadin, bukan pula hanya di Yogyakarta, daerah-daerah di Jawa Tengah (misalnya Solo, Semarang) dan Jawa Timur bahkan Jakarta juga dapat ditemui. Pada beberapa tempat makan yang masih mempertahankan metode tradisional, wajan besi yang digunakan tidak terlalu besar dan bakmi dimasak per porsi. Memasaknya pun masih menggunakan anglo tanah liat dan arang. Walaupun kedengaran kurang praktis, konon kabarnya metode tersebut turut meningkatkan cita rasa dari bakmi godhog. Ciri khas bakmi ini berkuah (godhog artinya rebus dalam bahasa Jawa), namun kuahnya nggak sampai menenggelamkan mie-nya (istilahnya nyemek). Bumbu-bumbu yang digunakan relatif sederhana yaitu bawang putih, beberapa resep menambahkan bawang merah. Selain itu juga ditambah dengan kemiri, ebi kering, merica, dan garam. Ciri yang paling kuat dari bakmi godhog yaitu kuahnya! Dibuat dari kaldu ayam kampung pilihan yang lezat. Ya, ayam kampung memberikan cita rasa yang plus plus dibanding ayam negeri. Tapi itu kata mama saya, kalo untuk saya pribadi yang omnivora dan kurang peka, dua-duanya nggak ada beda hihi. Sebagai pelengkap bisa ditambah orak-arik telur (ingin mantap pakai telur bebek), bihun, bakso sapi, kol, sawi, dan tomat segar iris. Menjelang disantap, perkaya bakmi ini dengan taburan bawang goreng, emping, irisan rawit hijau dan acar timun. Berikut resep a la mama saya. Sebelum ditumis bawang putih dan kemiri direbus sebentar terlebih dahulu. Katanya supaya langu bawang putihnya nggak terlalu kuat. Begitu juga secara terpisah, daging ayamnya. Setelah cukup empuk dan matang (rebus dengan api kecil supaya kaldunya keluar), suwir-suwir ayamnya, sisihkan beserta kaldu (dalam resep ini saya beri nama ayam suwir beserta kuah). Bila kita tidak mau menggunakannya saat ini, bisa disimpan di freezer. Sewaktu-waktu mau bikin, tinggal cemplung. Bakmi godhog enak disajikan hangat-hangat, sebaiknya kita masak menjelang waktu makan. Beberapa bahan banyak minus di resep ini hehe, kalian bisa menambahkan sendiri sesuai selera :)



Resep Bakmi Godhog 

Bahan :
Mie kering (Misal Cap Ayam 2 Telur/ Mie Telur 3 Ayam)  1 bungkus
Ayam suwir beserta kuah  1/2 ekor ayam
Kol  1/2 buah (iris tipis kasar) 
Tomat merah segar 1 buah (potong ukuran sedang)
Daun bawang ukuran besar 1 buah (iris serong)
Telur ukuran besar  1 butir
Merica  secukupnya
Kaldu ayam bubuk  1/2 bungkus kecil
Garam   secukupnya
Minyak untuk menumis  secukupnya

Bahan yang Dihaluskan :
Bawang putih rebus  4 siung besar
Kemiri  3 butir

Bahan Pelengkap :
Bawang goreng
Acar timun
Cabe rawit hijau

Cara Membuat :

1. Rebus mie kering sampai matang, tapi jangan kelunakkan karena akan dimasak lagi. Tiris dan sisihkan.
2. Tumis bawang putih dan kemiri halus sampai matang dan tidak langu. Masukkan telur, orak arik sampai matang.
3. Masukkan irisan bakso dan rebusan ayam suwir. Jika kaldunya kurang bisa ditambah air secukupnya. Rebus sampai mendidih. Masukkan irisan kol. Aduk rata.
4. Beberapa saat setelah irisan kolnya masuk (jangan kematengan kolnya), masukkan mie no.1, irisan daun bawang, garam, merica, dan kaldu ayam bubuk. Icip-icip, masih kurang garam atau merica-kah bakmi godhog ini. Masak sebentar biar bumbu meresap.
5. Terakhir menjelang matang, masukkan irisan tomat. Intinya jangan memasukkan tomat terlalu awal supaya kuahnya nggak asem-asem gitu.
6. Bakmi Godhog Yogya siap disantap dengan taburan bawang merah goreng, acar timun, dan irisan cabe rawit hijau.

Sajian : 5 - 6 porsi

Silakan dicoba resepnya, sebenarnya bisa dikutik-kutik sesuai selera kalian. Kalau ada yang kenal dan ingin berbagi tentang bakmi godhog bisa cerita-cerita disini :)







9/30/2014

Gathot

Bukan Gatot si superhero lokal, bukan nama jalan, bukan singkatan "Gagal Total", apalagi namanya orang. Gatot yang dimaksud adalah makan olahan dari singkong, orang Jawa biasa menyebutnya "Gathot" atau juga "Gambleh". Awalnya mendengar tentang makanan khas Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta ini dari dosen dan beberapa teman kuliah. Paling cuma "manggut-manggut" tapi penasaran, sukar dibayangkan kalau nggak makan. Sodaranya Gatot, Tiwul, malah sudah nyoba lumayan tersedia di pasar tradisional Yogyakarta, dijajakan bersama cenil, getuk, lupis, and friends (lanjutannya nggak tahu namanya apa >_<). Kenapa saya sebut sodara? Soalnya asal muasal Gatot dan Tiwul sama, yaitu "Gaplek". Jangan salah kira, bukan gaplek "gagap teknologi", melainkan singkong yang dikupas kulitnya, diiris, trus dikeringkan (biasanya secara tradisional melalui penjemuran sinar matahari). Perjalanan Gaplek menjadi Gatot relatif sederhana kelihatannya. Gaplek yang sudah dikeringkan trus direndam dengan air kapur sirih selama 12 jam. Air rendaman Gathot mentah lalu dibuang, Gathot nya dibilas bersih, dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki kemudian dikukus 2 jam. Setelah matang, disimpan di wadah yang lebar agar cepat dingin. Dulunya bersama Tiwul, Gatot merupakan makanan pokok penduduk Gunung Kidul pengganti nasi. Tanah di Gunung Kidul cenderung kurang subur, kering, berdaya dukung rendah sehingga hanya tanaman tertentu seperti jagung, kacang-kacangan, dan singkong yang berhasil dibudidayakan. Semenjak tahun 1966, terjadi perubahan pola konsumsi nasi sebagai makanan pokok. Katanya sih, akibat perkembangan jaman dan urbanisasi. Kedua makanan tradisional ini pun tergeser menjadi makanan camilan.

Akhirnya sekarang di Jekardah, takdir mempertemukan saya dengan Gatot. Waktu itu Pakde baru pulang dari Yogyakarta dan Alhamdulillah dapet deh satu bungkus Gatot dan Tiwul :) Insya Allah kalau lagi rajin, saya review Tiwul instant, di sini ya. Baru setelah lama dianggurin (tapi nggak selama nganggurin blog ini hihi), kami berinisiatif memasak Gatot instant tersebut. Maklum makanan langka, jadi disayang-sayang (baca : disimpen). Tapi kalo disayang mulu, takutnya malah bisa kadaluwarsa. 

Cara mengolah Gatot instant mudah, asal nggak bikin sambil merem atau pas malem mati lampu aja. Gatot kering direndam semalaman, waktu itu mulai jam 21.00 sampai jam 06.00 pagi keesokannya. Trus dikukus sampai empuk, mencapai 1 jam kira-kira. Pokoknya dicek, kira-kira Gatotnya sudah cukup matang atau empuk belum. Kelapa parut biasanya menjadi pendamping si Gatot. Kukuslah bersama gatot biar hemat LPG. 





Rasa Gatot ini cenderung tawar, berarti ada keleluasan untuk berkreasi. Saya memutuskan untuk mengkreasikannya dengan ... taburan gula pasir (wkwkwk, nggak modal dan nggak kreatif :'D). Untuk orang tua, mereka malah nggak neko-neko, cukup gatot dan kelapa parut yang tawar. Apa yang membuat gatot menarik adalah warnanya yang hitam dan aromanya. Oh ya satu lagi, tekstur makanan ini lucu, agak kenyal-kenyal. Percaya nggak sih, suatu keajaiban singkong yang putih kekuningan karena proses biologis bisa menghitam. Sebenarnya Gatot adalah hasil kreativitas warga Gunung Kidul juga. Ceritanya Gaplek yang jadi bahan baku untuk tiwul kan mestinya warna putih (kualitas tinggi), hanya saja proses pengeringan alamiah kadang-kadang menghasilkan warna yang tak sempurna yaitu kehitam-hitaman (kualitas rendah) akibat sewaktu-waktu kena hujan. Kok bisa? Kelembaban yang tinggi memungkinkan bakteri dan jamur tumbuh, melalui mekanisme degradasi senyawa kompleks singkong oleh kedua mikroorganisme ini (yang saya kurang pahami), terciptalah warna hitam dan tekstur kenyal pada Gaplek. Gaplek hitam dibuang sayang, trus dibikin deh Gatot. Sekilas mendengar ceritanya mungkin agak serem ya tapi Gatot pada ambang batas (1 piring saya makan waktu itu) aman dikonsumsi. Alhamdulillah saya buktinyaaa masih hidup dan bisa cerita disini hoho :) Walaupun terpuaskan akhirnya bisa nyicip gatot yang melegenda sewaktu kuliah (Makaciii Gathot Heboh, semoga semakin heboh mempopulerkan makanan unik-unik di Indonesia), sebenernya masih tersimpan keinginan untuk mencicipi gatot yang masih "segar" (rakus) mudah-mudahan suatu saat. Bagi yang sudah mencoba Gatot versi selain instant, silakan cerita-cerita di kolom komentar dibawah ini.

Salam cerita kuliner Yogyakarta!

Sumber :

12/26/2013

Bubur Manado

Merasa bersalah dengan menu diet yang kurang bergizi? 
Kurangi kesalahan Anda, makan bubur Manado! 

Agar tidak menguras kantong, yuk bikin sendiri :D Dalam sepiring bubur Manado tersedia beragam zat gizi yang diperlukan tubuh. Karbohidrat sebagai sumber tenaga berasal dari beras, jagung, ubi dan labu. Protein, zat pembangun, dari tempe goreng dan ikan asin. Serat, vitamin dan mineral disediakan oleh bayam, kangkung dan kacang panjang. Bagi penderita asam urat lain cerita ya, hehe. Sebenarnya bubur Manado buatan kami kali ini terlalu encer, hiks. Pesan moralnya yang dapat dipetik, jangan memasak beras dengan air terlalu banyak di awal. Sayuran yang dimasukkan terakhir-terakhir menyumbang air, membuat bubur bertambah encer. Perbandingan antara air dan beras juga tergantung pada jenis beras yang digunakan, ada yang suka air dan sebaliknya.


Resep Bubur Manado

Bahan-Bahan Bubur :
Beras 220 g
Air 2 - 2,5 liter (tadinya sekitar 3,5 liter jadinya terlalu encer)
Jagung muda  2 batang
Kangkung 1 ikat (kecil)
Bayam 1 ikat (kecil)
Kacang panjang 1 ikat (kecil)
Daun kemangi 3 ikat (kecil)
Ubi jalar (nggak pakai hehe, padahal kalau pake lebih nyam-nyam)
Labu kuning (nggak pakai juga nich hehe, padahal kalau pake lebih nyam-nyam)
Serai (kelupaan pakai)
Garam secukupnya

Pelengkap
Ikan jambal roti/ikan asin goreng
Tempe goreng
Sambal terasi

Cara membuat :
1. Rebus air, garam dan beras sampai setengah matang. Masukkan jagung muda yang telah dipipil, batang serai yang telah digeprek, ubi jalar dan labu kuning.
2. Masak sampai nasi menjadi bubur. Masukkan kacang panjang. Setelah beberapa saat masukkan daun bayam dan daun kangkung. Terakhir ketika hampir matang masukkan daun kemangi.
3. Sajikan bubur Manado hangat-hangat bersama ikan jambal roti goreng, tempe goreng dan sambal terasi.



12/08/2013

Seblak Basah

Pas sedang main ke sebuah pameran bulan Oktober lalu, saya menemukan sebuah stand yang cukup mencolok. Ada X banner bergambar ibu-ibu gendut berkacamata memakai celemek, beserta sebuah meja sederhana dimana disusun banyak tumpukan paper cup dengan berlogo si ibu. Judulnya Mommy Seblak Basah (@mommyindo)

Seblak basah? Apaan tuh


Rupanya mereka menawarkan makanan tradisional khas Garut, Jawa Barat dengan konsep lebih modern. Ide kreatifnya adalah membuat seblak basah yang dapat dibuat lebih mudah oleh konsumen, tinggal diseduh air panas, semudah mengosumsi mie instant dalam papercup. Awalnya agak ragu membeli, tapi berhubung penasaran dan malu udah sok-sokan nanya ini itu kayak wartawan ibu kota hihi, saya pun jadi membeli. Harganya cukup terjangkau kalau nggak salah Rp 11.000. Di dalam kemasannya sudah tersedia semacam kerupuk tapioka setengah matang, minyak sayur, bumbu rempah, bubuk cabai, serta potongan sosis dan bakso sebagai pelengkap. Menyiapkan seblak basah instant ini super gampang, seduh kerupuk tapioka dengan air panas, tutup diamkan 3-5 menit (kalau saya lebih dari itu agar kerupuknya benar-benar matang), buang air seduhannya melalui lubang yang tersedia, masukin deh bumbu dan pelengkapnya, plung-plung


Cita rasanya aneh-aneh unik, rasa pedas dan gurih menjadi satu. Saya tidak memasukkan seluruh bubuk cabai takut perutnya mules. Tekstur seblak basah yang diproduksi di Cimahi, Jawa Barat ini "lucu" banget, lembut dan agak kenyal-kenyal. Bagi yang bosan makan mie instant dalam kemasan papercup, sajian khas Indonesia ini  bisa dicoba lho :)


Jadi penasaran ingin mencicipi seblak basah versi nggak instant. Tapi apa boleh dikata, nun jauh di Bandung sono ;(. Denger-denger jajanan kaki lima murah meriah ini lumayan hits di Kota Kembang. Awalnya menggunakan bahan dasar berupa kerupuk Sumber Sari, itu tuh kerupuk berwarna oranye yang biasa digunakan abang-abang penjual nasi goreng, bubur ayam, nasi kuning, kupat tahu dan lain-lain sebagai taburan. Dalam perkembangannya, kerupuk yang digunakan bervariasi, bahkan ada yang menggunakan kerupuk ikan tenggiri. Asal jangan kerupuk udang karena mempengaruhi aroma dan tekstur. Inovasi seblak basah terus berlanjut dengan digantikannya kerupuk oleh makaroni, kwetiau, ceker ayam. Bumbu dasarnya cukup sederhana antara lain bawang putih, cabai, garam, dan kencur. Ada yang menambahkan bawang merah, tomat dan daun bawang. Tiap penjual memiliki kekhasannya sendiri. Pastinya, seblak basah yang enak identik dengan rasa pedas dan aroma kencur yang kuat. Kini, seblak basah "naik derajat" dengan dicampurkannya telur, ayam suwir, bakso, sayuran, mie, sosis. Tentu saja nilai gizi dari kuliner Indonesia ini ikutan naik. Yah, memang kalau dibayangkan seblak basah mirip-mirip mie atau kwetiaw rebus. Alkisah, dulu orang Garut kesulitan mendapatkan mie karena mahal harganya sehingga digantilah dengan kerupuk.

Kalau mau menyajikan seblak basahnya Mommy Seblak Basah mah gampang, membuat seblak basah yang nggak instant sedikit mengeluarkan keringat. Tidak se-hiperbola itu ding hehe, beberapa blogger mengatakan pembuatan seblak basah ini relatif mudah. Adonan kerupuk direndam di air panas/direbus atau dikukus sampai matang lalu ditiriskan. Bumbu-bumbu seperti bawang, kencur, cabai, garam dihaluskan kemudian ditumis sampai harum. Kemudian cemplungkanlah kerupuk yang telah dimasak sebelumnya beserta telur, ayam suwir, sayuran, sosis, bakso. Jika berminat nyeblak bisa dilihat resepnya disini  :)

Sumber :
www.okefood.com
www.sayangi.com 
www.aruniayulestari.blogspot.com
www.food.detik.com
 

 

11/24/2013

Kuwe Koya

Bagi saya pribadi, kue-kue yang "berbau" kacang hijau rasanya tidak terlalu istimewa, membosankan. Suatu ketika saya dan mama berkunjung ke rumah mantan tetangga dimana kami disuguhi kue yang unik. Kuwe Koya Cap Delima Tawon Tau Sa Ko. Dengan diiringi rasa penasaran saya pun mencicipi kue kering berbentuk bundar yang terlihat rapuh tersebut. Benar-benar mengubah gambaran permanen tentang kue-kue "berbau" kacang hijau yang membosankan. Hmm...memang agak sedikit seret di tenggorokan. Ketiga digigit langsung "lumer" di lidah, harum, rasa manisnya benar-benar menyenangkan ditambah cita rasa kacang hijau yang khas. Bagian yang paling menghibur adalah isian si kuwe koya ini, berupa adonan berwarna hitam dengan terkstur dan cita rasa yang sedikit berbeda dari bagian luarnya. Sampai sekarang isian Kuwe Koya Cap Delima Tawon masih menjadi misteri yang belum terkuak hehe (mudah-mudahan bukan yang aneh-aneh). Kuwe koya cenderung sangat rapuh dan memerlukan kehati-hatian dalam mengonsumsinya karena jika tidak, serpihan remah-remahnya yang sangat halus akan mengotori.


Sepertinya kuwe koya masih sodaraan dengan kue satu (disebut demikian karena harus dicetak satu-satu dengan telaten) asal Jawa Barat dan Betawi trus sama putu kacang asal Makassar karena rasa mereka yang mirip-mirip. Bahan untuk membuatnya relatif sangat sederhana, hanya kacang hijau, gula pasir halus, perisa vanili dan sedikit air. Hanya saja membuatnya itu yang kelihatannya repot pot pooottt, mungkin ini sebabnya jarang ditemui di pasaran. Ngomong-ngomong saya belum menemukan resep kuwe koya di mbah google. Kebanyakan resep kue satu atau putu kacang. Jika berminat dan pasokan kesabarannya masih penuh bisa mencoba membuat kue satu dari resep di blog Bu Nina Agustina.


  Proses pembuatannya dimulai dari penyangraian kacang hijau yang telah dilepas kulitnya.Penyangraian harus dilakukan hati-hati supaya tidak gosong tapi mesti sampai harum juga :D. Selanjutnya kacang sangrai dihaluskan dan diayak. Pencampuran dengan gula halus dengan air dilakukan kemudian sampai rata. Adonan dicetak sesuai keinginan dan diupayakan si kue cukup padat. Jika tak cukup padat bisa dibayangkan pas kue diambil langsung ancur berkeping-keping.  Terakhir pengeringan, bisa dilakukan menggunakan oven atau dibawah terik matahari.


11/21/2013

Ayam Bakar Pedas Manis

Tadinya mau membuat ayam bakar khas Klaten dengan menggunakan resep Bu Marisa Tamara, soalnya ngidam ayam bakar bercita rasa manis milik rumah makan sederhana langganan. Namun terjadi disorientasi selama di dapur, santan saya hilangkan dengan alasan kemarin menunya sudah berlemak-lemak ria. Kemudian ada bungkusan kecil sisa cabai giling, "Kayaknya pedes-pedes manis juga enak nih, tambah aaah,". Setelah dimasak, ayam bakar ini langsung difoto seadanya lalu saya googling-googling untuk mencari nama yang tepat untuknya. Hasilnya namanya bukan ayam bakar bumbu rujak, bukan ayam bakar bumbu Bali, bukan ayam taliwang, bukan ayam bakar khas Padang. Nah,lo! Ya sudah kita sebut saja ayam bakar malang ini "Si Ayam Bakar Pedas Manis". Berhubung bumbu-bumbu yang digunakan khas Indonesia bukan khas Perancis, sepertinya ni ayam masih relevan untuk masuk Cerita Kuliner Indonesia *maksa*. Cita rasanya tidak terlalu pedas karena gula jawa yang lumayan banyak. Semakin banyak bumbu semakin enak. Semakin dimasak lama dengan api kecil, bumbunya kian meresap. Sisa kuah yang mengental bisa dijadikan "sambal jadi-jadian" yang pas disajikan dengan ayam bakar. Hikmahnya disini kita tidak perlu repot-repot ngulek buat bikin sambal :D


11/20/2013

Nasi Bogana

Zaman kecil, muda, belia dulu, saya pernah diajak makan gratis oleh budhe, tepatnya di sebuah restoran mungil tapi ditata apik, Koko Bogana daerah Jl. Cikajang, dekat Pasar Santa, Jakarta Selatan. Kami mencicipi nasi rames khas Tegal, Jawa Tengah, nasi bogana. Nasi bersama lauk pauknya (yang saya lupa apa jenisnya) disajikan dalam porsi kecil dan dikemas dengan daun pisang. Sedap sekali! Apa juga mungkin karena porsinya sedikit jadi terasa demikian ya, makan di porsi terlalu besar akan mengurangi kenikmatan. Beralih ke zaman sekarang ketika beranjak dewasa :P, ibu mengajak saya membuat nasi bogana sebagai sajian pengajian minggu depan. Mulalilah hari Minggu kemarin kami bereksperimen membuatnya. Ternyata jenis lauk pauknya, terutama apabila kita orang Jawa Tengah, sudah familiar. Artinya dalam beberapa kesempatan seperti lebaran, ada yang sering kita buat. Sebut saja ayam opor, sambal goreng kentang, kering tempe, nasi uduk. Sebenarnya ini masih minus beberapa lauk lain, dengan perbandingan rumah makan selain Koko Bogana hehe, seperti telur (bulat) balado, abon daging basah (sengaja tidak dikeringkan seperti abon pada umumnya), oseng-oseng kacang panjang tempe dan sayur lalapan. Dan yang paling kurang adalah pembungkus daun pisang karena di beberapa kesempatan saya selalu melihat nasi ini dibungkus dengan daun beraroma harum tersebut. Berikut ini bahan-bahan untuk membuat nasi bogana. Maaf beribu maaf berhubung ibu saya yang meracik bahan-bahannya, sedangkan saya hanya bagian mengaduk-aduk di wajan, ngelap-ngelap dan pencucian piring, komposisi bahan-bahan tidak terlalu dicatat apalagi diperhatikan. Prinsipnya keseimbangan saja, jika bahan pembawa cita rasa (seperti ayam, kentang, ati ampela, tempe) jumlahnya banyak, maka jumlah bahan pemberi cita rasa ( bawang, sereh, cabai, laos, daun salam, gula, garam) harus disesuaikan, tidak terlalu sedikit misalnya :D


Nasi Uduk

Bahan :
Beras, air, santan, garam, sedikit sereh dan daun salam

Cara Membuat :
1. Masak beras di rice cooker sampai setengah matang
2. Masak santan dengan garam sampai mendidih, masukkan nasi setengah matang lalu aduk hingga rata
3. Kukus nasi yang sudah tercampur rata dengan santan sampai matang. Pada air untuk mengukus ditambahkan sereh dan daun salam. Ibu sengaja tidak menambahkannya pada nasi langsung karena takut "mengotori" penampakan nasi.

Sambal Goreng Kentang dan Ati Ampela

Bahan :
Kentang (dipotong kotak-kotak kecil, digoreng, ditiriskan), ati ampela (dipotong-potong kecil), udang kecil, minyak goreng untuk menumis, bawang putih, bawang merah, cabai giling, gula jawa, garam, salam, laos, santan.

Cara Membuat :
1. Tumis bawang  merah dan putih yang telah diiris tipis-tipis, sampai harum dan sedikit kecokelatan.
2. Masukkan cabe giling, tumis sebentar sampai harum
3. Masukkan sedikit air, udang dan ati ampela, aduk. Beberapa saat kemudian setelah udang dan ati ampela terlihat matang masukkan santan, aduk rata. Tambahkan gula jawa dan garam.
4. Masukkan kentang dan aduk rata. Kentang dimasukkan setelah santan beserta bumbu, udang, ati ampela telah matang dan meresap baik. Lanjutkan memasak hingga sambal goreng semakin berkurang airnya. Jangan lupa diaduk-aduk dan diawasi apinya supaya tidak gosong pada bagian dasar.

Opor Ayam

Bahan :
Ayam rebus yang sudah disuwir, bawang merah, bawang putih, jahe, salam, laos, daun jeruk, sereh, ketumbar, merica, garam, gula merah, santan

Cara Membuat :
1. Tumis bawang merah dan bawang putih yang dihaluskan sampai hilang bau langu, masukkan jahe, salam, laos, daun jeruk, ketumbar. Tumis kembali sampai harum.
2. Masukkan ayam rebus yang telah disuwir, santan, gula merah, merica, garam, matangkan sampai airnya berkurang (tidak terlalu "berkuah" seperti opor ayam pada umumnya). Jika kondisi ini terjadi *hadoooh ribet bahasanya*, matangkan terus selama beberapa saat sambil diaduk-aduk agar tidak gosong.

Kering Kentang & Tempe

Bahan :
Kentang yang diiris kotak tipis-tipis, tempe yang diiris tipis-tipis, kacang tanah
Bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, laos, salam, asam jawa, gula merah, garam

Cara Membuat :
1. Goreng sampai kering tempe dan kentang, sisihkan.
2. Tumis bawang merah, bawang putih, salam, laos, cabai merah keriting sampai harum dan tidak langu. Angkat dan sisihkan. Pindahkan sisa minyak dari penggorengan di tempat terpisah.
3. Masak gula merah, air, asam jawa, gula pasir, kecap manis, garam sampai mengental. Jika hampir mengental masukkan bahan-bahan di no 2.
4. Setelah campuran gula merah mengental, kecilkan api, masukkan kering tempe dan kentang no.1 aduk hingga merata



Udah deh, nyam nyam. Tinggal kalo ada daun pisang, tata nasi dan tetek bengek lauknya nasi bogana diatasnya lalu bungkus dengan tusuk gigi (hehe kalau mau praktis) atau potongan lidi disematkan dikedua ujung bungkusan.

10/05/2013

Wedang Uwuh

Dari namanya saja sudah menggelitik. Dalam Bahasa Jawa, wedang berarti minuman sedangkan uwuh itu sampah. Minuman sampah. Walaupun begitu, cita rasa dan manfaat minuman asli Imogiri Daerah Istimewa Yogyakarta ini jauuuuuh dari arti namanya. Penampilan apa adanya, sebelum dipisahkan dari bahan rempah-rempahnya yang mirip "timbunan-dedaunan rontok-di-pekarangan-rumahku", mungkin menyebabkan si penemu tega menamakan uwuh disini.


Konon kabarnya, wedang uwuh ditemukan secara tidak sengaja. Sekitar tahun 1630, Sultan Agung menyuruh abdi dalem (pembantu raja) untuk dibuatkan minuman yang dapat menghangatkan badan sebagai pendamping ritual meditasi. Sultan Agung adalah Raja Mataram yang kala itu sedang mencari lokasi yang sakral untuk pemakaman raja-raja. Pada awalnya, minuman yang dibuat hanya wedang secang. Sementara Si Sultan sedang meditasi dibawah pepohonan, ditaruhlah wedang secang tersebut didekatnya. Angin bertiup kencang sehingga daun-daun berterbangan dan jatuh ke...wedang secang. Selanjutnya kalian tebak-tebak sendiri lah ya ceritanya atau mau tahu kelanjutannya di sini (pegel ngetik ;)). 


Jika ingin membuat ramuan wedang uwuh sendiri sebaiknya dipikir-pikir lagi. Masalahnya ada banyak rempah-rempah berkhasiat yang harus dicari sebagai bahan penyusunnya belum lagi menyusun formula rempah-rempahnya. Mending beli yang sudah siap diseduh :). Harga pasarannya juga tidak terlalu mahal. Wedang uwuh terbuat dari jahe, kayu secang, daun cengkeh, daun kayu manis, cengkeh dan daun pala. Plus gula batu sebagai pemanis alami. Semua bahan-bahan tersebut dicampur jadi satu dan diseduh dengan air panas. Diminum sebelum suhu wedangnya turun. Rasanya enak dan menghangatkan, jika wedang jahe yang dominan adalah rasa jahenya (yaiyalahh), minuman ini dominan cita rasa cengkeh yang nikmat. Sarannya, jangan menambahkan terlalu banyak gula sehingga cita rasa unik menghangatkannya tidak tertutup.  Manfaat yang dimiliki wedang uwuh cukup banyak. Didukung oleh rempah-rempah yang berkhasiat. Jahe membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah dan membantu menyembuhkan radang sendi. Kayu secang yang menyebabkan warna minumannya merah, mengandung antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.  Wedang uwuh dipercaya bisa menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh, melegakan pernapasan, mengusir masuk angin dan perut kembung. Tentunya efek kesehatan muncul dengan dosis tertentu (yang belum saya dapat informasinya :)) dan frekuensi minum yang teratur. Yang jelas ketika meminumnya, tubuh kita akan langsung terasa hangat, enak banget dinikmati kala udara sedang dingin-dinginnya. Oh ya, rasanya juga enak, lho.

Kemarin saya dapat wedang uwuh oleh-oleh dari Yogyakarta dari orang tua. Ada 3 jenis, jenis wedang uwuh instant (butirannya paling halus, nggak perlu disaring), jenis seduhan original (seperti di foto) dan jenis seduhan yang lebih halus rempah-rempahnya. Paling suka bentuk yang ketiga, soalnya aroma rempahnya kuat dan ekstraksinya lebih cepat. Cucok untuk orang yang nggak sabaran pingin segera minum seperti saya hehe.

Wedang Uwuh Azadiene
email : progress_jogja@yahoo.com
telepon : 0856 43318 048
facebook fan page : Wedang Uwuh Azadiene
  

Sumber :
(1) Artikel "Wedang Uwuh = Minuman Sampah?" dalam http://eviindrawanto.com/2013/03/wedang-uwuh-minuman-sampah-berkhasiat/
(2) Artikel "Wedang Uwuh, Minuman Sampah yang Kaya Manfaat"  dalam website http://inloveindonesia.com/wedang-uwuh-minuman-sampah-yang-kaya-manfaat/
 

3/29/2013

Rendang

Hari ini tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba kepingin membuat rendang. Seharusnya menggunakan daging sapi. Namun saya ke pasar terlalu siang dan tukang daging sapi sudah pada bubar. Mengintip di freezer, ada ayam punya mama beberapa bungkus kecil. Nggak tahu deh udah dari jaman kapan hehe, langsung saja disikat.

Resep disini berdasarkan Bonus Resep dari Tabloid Saji 262-19 Maret 2013, "7 Set Inspirasi Makanan Rantangan". Dengan sejumlah penyesuaian hihi. Jangan lupa memasukkan ayam mentah pas santan berbumbunya sudah matang-mengental, berpedoman tips dari Gizi dan Kuliner by Budi, supaya ayamnya tidak hancur. Saya sendiri memasukkannya terlalu awal, ternyata pas bumbunya mengering, diaduk-aduk supaya bawahnya nggak gosong, ayamnya sukses hancur luluh lantak :(! Saya sampai harus menjelaskan ke orang rumah kalau itu rendang saking bentuknya acak-acakan. Soal rasa, lumayan gurih, tidak terlalu pedas dan spicy. Tapi tidak mirip rendang favorit di rumah makan Padang terkenal, yang bisa cokelat kehitaman, wanginya enak dan berminyak-minyak. Kalau ada yang tahu cara membuatnya boleh tuh di-sharing di Cerita Kuliner Indonesia :) Mari-mari.



Resep Rendang

Bahan
400 g daging rendang, dipotong melawan serat tebal 2 cm (pakai daging ayam negeri)
3 cm lengkuas, memarkan
2 batang serai, ambil putihnya, memarkan
2 lembar daun kunyit, simpulkan
2 butir kelapa, parut, peras menjadi 500 ml santan kental dan 2 l santan encer (1 bungkus santan segar bungkusan, nggak jelas dari berapa buah kelapa)

Bumbu halus
12 buah cabai merah keriting (pakai cabai merah gilingan yang nggak jelas dari berapa buah cabai)
5 buah cabai merah besar (nggak pake)
12 butir bawang merah 
4 siung bawang putih
4 butir kemiri, sangrai (pakai 6 dan tidak disangrai)
1/2 sdt merica butiran (tidak pakai)
1 sdm ketumbar bubuk (tidak pakai)
3 sdt garam
1/2 sdt gula pasir (pakai gula aren separuh)

Cara Membuat
1. Rebus santan encer, lengkuas, serai, daun kunyit, dan bumbu halus sambil diaduk sampai mendidih
2. Tambahkan daging. Masak sambil diaduk sampai empuk dan kuah mengental.
3. Tuang santan kental. Masak di atas api kecil sambil diaduk sampai berminyak dan mengering.

Pada kenyataanya, karena malas, saya tidak memasukkan santan kental (tahap 3) namun langsung memasukkan santan diawal (tahap 1). .

2/07/2013

Kupat Tahu

Ada 3 daerah, setahu CKI, yang "memiliki" kupat tahu. Bandung, Solo dan Magelang. Persamaannya : pasti menggunakan ketupat, tahu (ya iyalah) dan siraman kuah yang manis-pedas. Salah satu perbedaannya : pembuatan kuah kacang. Pada kupat tahu Bandung, kuah dibuat dengan mencampurkan bumbu halus, kacang tanah, terasi, garam dalam air sampai mendidih dan berminyak. Berbeda dengan kupat tahu Magelang, dimana gula merah dan air dimasak dahulu, lalu disaring, dicampur kecap manis kemudian dimasak lagi. Baru kemudian dituang ke ulekan mentah bumbu-bumbu (yang hampir sama dengan kupat tahu Bandung kecuali terasi) yang sudah disiapkan per porsi. Kupat tahu Solo pembuatannya mirip-mirip kupat tahu Bandung, kuah dimasak dengan bumbu-bumbu halus. Namun tidak menggunakan kacang tanah, memakai daun jeruk purut dan mie telor sebagai pelengkap. Untuk lebih jelas resepnya bisa dilihat di Resep Kupat Tahu Bandung, Resep Kupat Tahu Solo dan Resep Kupat Tahu Magelang. Belum pernah mencicipi kupat tahu Bandung dan Solo, jadi nggak bisa membandingkan cita rasanya. Kalau ada yang lebih tentang kupat tahu nusantara bisa sharing di blog ini ya. Baik menambahi atau bahkan meralat :)

Kemarin kami mencoba buat kupat tahu tapi tidak mengikuti pakem yang ada, sedikit bar-bar. Ketupatnya diganti lontong lagi hehe, tapi tak masalah yang penting masih ada tahunya :D. 

Kupat Tahu Ala Kami XD

1/31/2013

Kopi Aceh


 Kopi Aceh menyumbang 40% kopi bermutu di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu saya dapat oleh-oleh kopi Aceh. Macam-macam, dari yang bentuknya masih biji kopi sangrai sampai bubuk. Sebenarnya, satu-satunya penggila kopi di rumah adalah adik saya. Saya juga suka kopi, tapi yang "kopi-kopian" (mesti dicampur dengan gula, susu, krim), selain masalah selera juga masalah lambung. Dan jenis "kopi sebenarnya", seperti kopi Aceh ini, termasuk yang jarang diminum. Meskipun demikian dan begitu, tetap semangat '45 untuk menulis dan membagikannya di Cerita Kuliner Indonesia :D.

Sejarah Kopi Aceh
Asal mula kata "kopi" berasal dari kata "qahwah" yang berarti kekuatan. Kata ini lalu diadopsi bangsa Turki menjadi "kahveh" dan "koffie" dalam bahasa Belanda. Seiring dengan kehadiran Kolonial Belanda di Indonesia, munculah kata "kopi" yang kita kenal sekarang. Pada masa kependudukan Belanda sekitar tahun 1904, perkebunan kopi Aceh berkembang secara besar-besaran di dataran tinggi Gayo. Dimasa itu fokus pengembangan perkebunan kopi berada di dataran yang berada di ketinggian 1.000-1700 m dpl tersebut. Di tahun 1918 pemerintah Belanda menjadikan kopi gayo sebagai "produk masa depan" karena tingginya minat internasional. Sebagian besar komoditas kopi gayo dikembangkan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Pada tahun 1972, Kabupaten Aceh Tengah (Bener Meriah) tercatat sebagai penghasil kopi terbesar dibandingkan dengan kabupaten lainnya, dengan luas perkebunan 19.962 ha (1)

Biji kopi yang sesudah ekstraksi

1/18/2013

Soto eh Coto.... Apa Bedanya ya???



Kali Ini penulis pengen nyoba ngutak atik sejarah Coto Makasar ataupun Soto. Tergelitik dengan quote dari beberapa teman di facebook tentang beda Soto n Coto (meskipun uda penasaran juga sebelumnya... tapi lum mampu menggerakkan akal dan pikiran untuk searching...), jadi pengen tau ni sejarah makanan yang udah jadi menu wajib kalo pas hujan ini....
Kuliner Indonesia ternyata banyak dipengaruhi oleh bangsa Asia, seperti Cina. Salah satunya Soto. Ini sudah tertulis dengan jelas dalam buku Dennys Lombard berjudul "Nusa Jawa: Silang Budaya".Dalam buku itu tertulis asal mula Soto adalah makanan Cina bernama Caudo dan  pertama kali populer di wilayah Semarang. Dari Caudo lambat laun menjadi Soto. Akhirnya berkembang di Makassar dengan sebutan Coto, dan orang Pekalongan menyebutnya Tauto. Atau penamaan tergantung dimana Soto tersebut berkembang. Ada Soto Ambon, Soto Bandung, Soto Banjar, Soto (Sroto) Banyumas, Soto Betawi, Soto Kediri, Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Madura, Soto Medan, Soto Padang, Soto Semarang, dan Soto (Sauto) Tegal.

Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr Lono Simatupang, menyebutkan soto merupakan campuran dari berbagai macam tradisi. Di dalamnya ada pengaruh lokal dan budaya lain. Mi atau soun pada soto, misalnya, berasal dari tradisi China. China-lah yang memiliki teknologi membuat mi dan soun.

Menurut Lono, Soto juga kemungkinan mendapat pengaruh dari budaya India. Ada beberapa soto yang menggunakan kunyit, seperti kari dari India. Karena ini soto bisa dikatakan merupakan campuran dari berbagai tradisi. Soto yang bersantan untuk campuran kuahnya - seperti Soto Medan dan Soto Kediri, kemungkinan terpengaruh kebudayaan India .
Serbuk koya pada Soto yang juga ditemukan di lontong cap go meh adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini dibuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur.

Irisan bawang putih yang digoreng kering, juga merupakan jejak budaya Tionghoa. Cara memasak seperti ini jelas merupakan selera Tionghoa, seperti ditemukan di masakan Tionghoa Pontianak.

Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah, bukan bawang putih, untuk digoreng kering dan digunakan sebagai kondimen.

Akulturasi lain adalah sendok bebek dan mangkok. Kedua benda ini merupakan alat makan yang diduga berasal dari Cina. Alat-alat seperti sendok bebek sering digunakan sebagai alat makan sup di Cina.

Penyebaran soto ke berbagai daerah di Indonesia seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada proses industri.

Penyebaran ini, lanjut Lono, diikuti dengan upaya lokalitas. Proses lokalitas soto mungkin sama seperti lokalitas Islam maupun Kristen di Indonesia. Inilah yang mengakibatkan muncul berbagai jenis soto di Indonesia. Begitu juga variasi rasa dan coraknya. Meskipun namanya soto, namun rasanya beraneka ragam. hal ini agar dapat diterima di daerah tersebut. Seperti Soto Kudus yang menggunakan daging kerbau karena pengaruh Hindu di sana di mana sapi merupakan hewan suci.

Bahan-bahan lain dan rasa pun mengalami pelokalan. Itu yang membuat aneka soto bermunculan. Meski begitu, bisa dikatakan, penampilan dan rasa dasarnya tetap mirip. (Berbagai sumber-)
Lalu, bagaimana dengan sejarah coto Makasar sendiri? Kalo menurut penulis, ketika pertama kali memakan Coto ini, rasanya cukup unik. Bagi yang tidak terbiasa memakan makanan ini untuk pertama kalinya enggan untuk memakannya kembali (termasuk saya- soalnya berbumbu sekali...). Tapi setelah mencoba untuk kedua kalinya..... wuih jadi pengen lagi......  Apalagi kalo pas ujan atau pas flu... hemmmm badan terasa segar. Habis itu, makanan penutupnya pallu buntung.... kenyang kuadrat...
So, Coto Makasar itu sejarahnya bagaimana? dari klik search di engine google, ternyata catatan sejarah dari Coto makasar ini belum ada. Tidak ada catatan resmi mengenai salah satu makanan khas tradisional Makassar ini. Coto Makassar diduga sudah ada sejak jaman kerajaan Gowa yakni Somba Opu yang pernah berjaya pada tahun 1538. Coto Makassar merupakan hidangan seni  bercitarasa tinggi yang menjadi hidangan khusus bagi para kalangan istana kerajaan Gowa. Namun sebagian pula ada yang mengatakan bahwa kuliner ini diciptakan oleh rakyat jelata dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi harinya.
 Cita rasa Coto Makassar disempurnakan oleh adanya perpaduan tradisi makanan Cina yang memang sudah hadir pada abad ke 16. Pemakaian bumbu ramuan kuno Cina yakni sambal Tao-co dipadu dengan 40 macam ramuan rempah lokal ( Rampah Patang Pulo) yang merupakan bumbu lokal. Dengan adanya perpaduan bumbu tersebut maka coto Makassar menjadi makanan berkuah khas dengan aroma bumbu rempah yang pekat. Keunikan coto makassar lainnya yaitu selain daging, juga terdapat jeroan berupa hati, jantung, limpa, usus dan lainnya dimana jeroan biasanya tidak ditemukan pada jenis masakan sup manapun. Dengan cara pengolahan tertentu, jeroan tersebut menjadi pelengkap utama kelezatannya. Tanpa jeroan, coto Makassar kehilangan sensasinya.
 Diduga pula bahwa Coto Makassar merupakan masakan kuah yang tertua dipersada Nusantara. Keberadaan Soto Madura, Soto Tegal, Soto Betawi dan diwilayah lainnya diduga kuat terinspirasi dari pengaruh Coto Makassar yang dibawa oleh para pelaut Bugis Makassar yang melanglang buana di seluruh penjuru negeri.
 Warung coto pertama yang ada di Makassar adalah warung coto milik H. Dg. Sangkala. Warung itu dulunya berada di sudut Jalan Ranggong ditengah jantung kota Makassar. Warung coto yang sudah tinggal nama itu dibangun sekitar tahun 1940-an. Warung Coto H. Dg. Sangkala di masa itu sangat terkenal dimana-mana dan sering diundang oleh petinggi pemerintahan dalam acara penting kenegaraan untuk menikmati hidangan coto Makassar. Dari perjalanan riwayatnya, Coto Makassar adalah warisan tradisi yang telah menjadi hidangan favorit masyarakat dan bisa ditemui hampir diberbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Keenakan menikmati coto makassar tak terlepas pula dari tradisi peramuaanya yang secara khusus diolah dalam kuali tanah yang disebut: korong butta atau uring butta dan dengan rampah patang pulo (40 macam rempah) yang terdiri dari kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli,sere yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seldri, daun prei, lombok merah, lombok hijau, gula talla, asam, kayu manis, garam, papaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jerohan.
Khasnya rasa dari kentalnya coto Makassar dari ramuan rempah-rempah yang 100% alami berfungsi sebagai penawar zat kolesterol yang terdapat dalam hati, babat, jantung, limpah dsb. Rasa khas inilah yang menurut dugaan bahwa keberadaan soto babat dari Madura, soto Tegal, soto Betawi, terinspirasi dari Coto Makassar karena dahulu dibawa oleh para pelaut kedaerah tempa tsoto yang lain berada sehingga diduga bahwa coto Makassar itu “lebih tua” dari pada soto di persada Nusantara ini.Mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam Coto Makassar tentu sangat bergizi. Buktinya, bumbu sopnya saja sampai berkhasiat sebagai penawar kolestrol.
Dari sejarah coto di atas, yuk kita coba membuat CoTo Makasar.....
Bahan
  • 300 gram jerohan sapi, rebus
  • 300 gram daging sapi
  • 5 cm kayu manis
  • 2 liter air cucian beras yang terakhir
  • 3 sdm minyak, untuk menumis
  • 8 butir bawang merah, iris tipis
Haluskan
  • 6 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 1 ½ sdt merica butir
  • 1 sdm ketumbar sangrai
  • ½ sdt jintan
  • 3 cm jahe
  • 5 cm lengkuas
  • 50 gram kacang tanah, sangrai, buang kulit arinya.
  • 2 batang serai, memarkan
  • 2 sdm tauco
  • 1 sdm irisan gula merah
Pelengkap
  • Buras/lontong secukupnya, potong-potong
  • 2 batang daun bawang, iris halus
  • 3 sdm bawang goreng
  • 3 buah jeruk nipis, belah-belah
  • Sambal tauco
Cara membuat
  1. Masukkan daging sapi, jerohan, kayu manis, dan garam ke dalam
    panci yang berisi air cucian beras. Masak sampai daging setengah
    matang. Kecilkan apinya.
  2. Tumis bawang merah sampai harum, masukkan bumbu halus, serai,
    dan tauco. Tumis sampai harum dan matang. Masukkan tumisan bumbu
    ke dalam rebusan daging. Tambahkan gula merah, masak sampai
    daging, jerohan empuk dan matang.
  3. Angkat daging dan jerohan sapi, lalu potong-potong. Masukkan
    kembali kedalam kuah. Sajikan coto dengan pelengkap dan sambal
    tauco.
Kalo mau kuliner makanan ini di Yogya.... ada 2 tempat favorit saya: di Jalan Kaliurang km 8, namun sayang hari Senin tutup, dan di daerah kotabaru, dekat Gereja..... yummy dah.....

1/17/2013

Wajit Cililin

Perjumpaan kedua dengan wajit yaitu melalui oleh-oleh teman saya. Kebetulan ia habis berlibur dari Purwakarta, Jawa Barat. Kelezatan wajit yang teman saya berikan masih terbayang-bayang. Wajit dibungkus tebal dengan daun jagung, rasanya manis, harum gula, serta teksturnya sedikit lengket kayak dodol. Ditambah lagi ada parutan kelapa yang memberi sensasi khusus (beuhh bahasanya). Memang ukuran wajitnya lebih kecil daripada bungkusnya, tapi justru hal tersebut meningkatkan laju penghabisan 1 bungkus besar wajit dalam 2 hari. Ya, karena rasanya uenak tadi. Sayang bungkus primernya sudah kebuang, pokoknya merknya ada unsur Pak "Siapa Gitu".