Jumat, 21 Desember 2012

Ampyang


Konsumsi kacang tanah berlebih kadang dituding sebagai biang kerok tumbuhnya banyak jerawat di wajah. Kacang tanah juga katanya rawan mengandung aflatoksin akibat cemaran jamur Aspergillus flavus. Hah! Peduli amaaat. Jerawat malah tumbuh ketika saya menunda-nunda menulis posting tentang ampyang ini. Lalu aflatoksin? Asal makan kacang tanahnya dikit-dikit kan juga nggak papa hehe. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, saya sukaaa banget sama gula-gula kacang tanah. Termasuk ampyang. Biasanya dalam satu kemasan, 90% dari camilan manis ini saya yang makan :D Hampir mirip dengan jipang kacang, berbahan baku utama kacang tanah dan gula merah. Namun ketika digigit ada sensasi yang berbeda. Kalau jipang kacang digigit lembut agak lengket, ampyang sedikit keras atau kokoh. Kacang yang digunakan berupa kacang tanah utuh sedangkan pada jipang kacang berupa tumbukan kasarnya. Nah, warnanya juga beda-beda dikit. Warna gula merah jipang kacang lebih gelap dibandingkan ampyang. Soal rasa? Dua-duanya enaaak, manis-manis gitu.

Gebleg

Gebleg

Cara mengucapkan huruf 'e' diawal seperti pada kata "membaca" sedangkan 'e' terakhir seperti pada kata "ember".

Menulis tentang gebleg berarti bernostalgia dengan kehidupan saat Kuliah Kerja Nyata di Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta dulu.  Ibu dukuh, yang juga menjadi host kami berempat, sering menyediakan camilan satu ini dari pasar tradisional. Hangat-hangat. Biasanya kami santap sebagai lauk atau dicamil begitu saja. Hmmm...enyaaak dan bikin ketagihan. Tekstur bagian luar garing namun dalamnya lembut kenyal-kenyal. Rasa gurih pun ikut memanjakan lidah. Mirip-mirip cireng. Pokoke ndak bosan-bosan makan kuliner khas Kulon Progo (dan khas Purworejo juga) ini hampir tiap hari. Saat berlibur ke Purworejo kemarin, tak lengkap bila tak hunting gebleg. Akhirnya ketemu juga di sebuah Pasar Baledono. Kami membeli satu bungkus yang sudah digoreng, duanya lagi yang masih mentah.

Senin, 03 Desember 2012

Lompong


Hai semuaaa. Alhamdulillah yah, akhirnya hujan mengguyur Indonesia setelah musim kemarau panjang. Pesan kami, jangan lupa angkat jemuran pakaian di belakang (nggak penting banget). Ngomong-ngomong, akhirnya kembali posting di Cerita Kuliner Indonesia setelah sebelumnya didera rasa malas berkepanjangan :P Beberapa posting sudah saya siapkan sebagai oleh-oleh dari Yogyakarta-Klaten-Purworejo. Postingan lainnya Insya Allah menyusul kalau rasa malas bin nggak mood-nya tak muncul. Kebanyakan yang bangsanya camilan, karena relatif praktis. 

Cerita pertama diawali dengan kue lompong (awas jangan dihapus huruf L di depannya). Alhamdulillah, kalau papa saya tidak ngotot mencari toko oleh-oleh khas Purworejo, Aykok, mungkin takkan pernah berjodoh mencicipi kue ini. Toko Aykok sendiri mudah ditemukan karena lokasinya di pinggir jalan raya. Jualannya pun komplet, kalau tidak sadar diri rasanya pengen beli semua camilan disitu. Para lompong ditempatkan pada sebuah baki besar dan disusun bertumpuk rapi dibagian paling atas etalase toko. Entah apa yang membuat saya kemudian berpikir bahwa kue ini pasti fresh alias tak lama baru dibuat. Singkat cerita kami membeli beberapa buah lompong dengan harga... hehe maaaaf saya nggak perhatian (garuk-garuk kepala). Tapi saya yakin kue ini tidak mahal.


Deskripsi! Lompong dibungkus dengan daun pisang kering atau klaras. Bungkusannya nggak tanggung-tanggung lebih dari satu lembar. Yah, agak heboh waktu acara membukanya, tapi saya masih diliputi rasa penasaran. Pas dibuka saya menemukan sebentuk kue basah tradisional yang sederhana : hitam dan berbentuk persegi. Setelah dicicipi ada sensasi tekstur kenyal (mirip kue ku). Gigi pun mulai membelah bagian isi kue.  Isi lompong yang saya beli cukup melimpah. Lumatan kacang tanah berwarna cokelat serta berflavour "sulit didefinisikan" menari-nari di lidah. Sebenarnya secara keseluruhan flavour dari isi kacang tanah inilah yang membuat si lompong suangat unik. Ada aroma yang khas dan rasa manis. Kayak apa ya??? Mungkin ada baiknya pembaca main ke Purworejo lalu mencicipi sendiri :D
 
Lompong merupakan oleh-oleh khas Purworejo. Dinamakan demikian karena menggunakan batang lompong sebagai bahan pewarna hitam. Lompong sendiri berarti talas atau lumbu. Sebagai pewarna, tanaman ini tidak bisa digunakan secara langsung, tapi melalui beberapa tahapan. Batang mesti dikeringkan, disangrai, dan dihaluskan hingga menjadi serbuk (1). Ada sumber lain yang mengatakan batang lompongnya dibakar terlebih dahulu (2). Itulah mengapa warnanya bisa hitam. Kekhasan lompong yang lain yaitu pada bungkusnya, klaras, penyebab flavour "sulit didefinisikan". Konon kabarnya, daun pisang kering ini tidak tergantikan dengan daun bambu apalagi plastik, karena mudah lengket. Konon kabarnya pula, daun pisangnya mesti dikeringkan secara alami, karena kalau dijemur, kue akan mudah busuk. Kue dibungkus dengan pola lipat seperti pada tempe, dengan arah berkebalikan dan diikat dengan oman (gagang padi) (2). Tapi kalau lompong-nya saya cuma diikat dengan tali rafia.


Bahan bakunya relatif gampil ditemukan, yaitu tepung beras ketan, garam, kacang tanah, gula pasir dan gula kelapa. Kecuali mungkin yang repot tanaman lompong dan klaras. Cara membuatnya, tepung beras ketan, garam, tepung lompong dicampur menjadi satu. Dibentuk bulat-bulat lalu diisi dengan campuran kacang tanah (bisa juga digantikan dengan kelapa parut) yang dilumatkan beserta gula pasir dan gula kelapa. Satu persatu adonan dibungkus di klaras yang telah diolesi minyak goreng kemudian dikukus (3) selama 2 jam (2). Kue ini tahan lama, bisa mencapai 2 minggu di suhu ruangan dan 1 bulan di suhu pendingin (2). Kami beli lompong hari Senin pagi, Selasa siang pulang ke Depok, Rabunya baru dimakan. Masih enak dan kami sekeluarga masih sehat walafiat. Tapi teksturnya cepat mengeras dalam masa penyimpanan (walaupun tidak dimasukkan refrigerator), jadinya harus dikukus sebelum konsumsi. 

Sumber
(1) Artikel "Kue Lompong Purworejo" oleh Saprol Labels pada tanggal 30 Agustus 2012 dari website http://kuelompong-purworejo.blogspot.com/
(2) Artikel " Kue Lompong "Si Hitam" Jajanan Asli Purworejo" oleh Tim Pemerintah Kabupaten Purworejo pada tanggal 9 Juni 2012 dari website http://www.purworejokab.go.id/news/serba-serbi/1620-kue-lompong-si-hitam-jajanan-asli-purworejo
(3) Artikel "Legit Wangi Kue Lompong" oleh Renny Wahyuningsih pada tanggal 1 Maret 2011 dari website http://food.detik.com/read/2011/03/01/121957/1581930/482/legit-wangi-kue-lompong


 


Sabtu, 17 November 2012

Kue Sengkulun?

Pas dapat kiriman kue ini dari saudara, hati saya berseri-seri bahagia. Bahagia selain karena gratis, kue tersebut cukup aneh dan nggak pernah ada di Depok (mungkin Jakarta juga ya) jadi cihuyyy untuk diceritakan melalui blog. Langsung saja menghambat orang rumah menghabiskan kue ini (sebelum bentuknya menjadi tak karuan ketika dipotret), menatanya di piring, lalu memotret dengan susah payah. Hampir saya melupakan namanya, begitupula papa saya (padahal beliau orang yang pertama kali memberitahu :D). Habis namanya agak sulit diingat, kue sengkulun.  

Perpaduan kelapa dan tepung ketan yang nikmat

Nyuwun referensi kue sengkulun di  Mbah Google malah membuat kepala cenat cenut. Namun sekaligus mendapat gambaran bahwa di Indonesia kemiripan antara kuliner di satu daerah dengan daerah lain tidak hanya sebatas bentuk maupun bahan, tapi juga nama! Ternyata ada sengkulun kuliner khas Betawi, ada sengkulun kuliner khas Malang, ada sangkolon kuliner khas Bangka Belitung, ada sengkulun khas Purworejo. Dari melihat-lihat resepnya di resensi buku 1010 Resep Asli Masakan Indonesia, sepertinya kue sengkulun Malang yang paling mendekati. Kalau sengkulun Betawi bahan dan bentuknya sudah beda banget. Kalau sangkolon mirip-mirip, tapi hati kecil saya mengatakan bukan yang ini yang dimaksud (asal :D).

Saya  belum menghubungi saudara saya untuk menanyakan bahan-bahan kue sengkulun, untuk kemudian dibandingkan dengan informasi di internet (sok ribet hihihi). Pokoknya overall kue ini manis banget, ketiga digigit terasa serat-serat khas kelapa parut yang gurih. Bentuknya balok sederhana, terdiri dari dua lapisan bawah putih dan atas merah yang rasanya kurang lebih sama. Teksturnya kenyal-kenyal sepertinya dari tepung beras ketan. Mirip wingko babat-nya Semarang tapi ini lebih "basah" dan lengket.  Enaaak.

Yah, sekian postingan kali ini pembaca yang budiman. Kalau ada yang pernah makan kue sengkulun (?) syukur-syukur tahu riwayat bla-bla-bla, bisa cerita sama kami disini lho :)

Kamis, 15 November 2012

Sagu Aren


Sagu aren mungkin kalah ngetop dibandingkan tepung terigu. Tapi sebagai orang Indonesia, pasti kita tidak bengong ketika ditanya apakah sudah pernah makan cendol, mie soun, bakso, hunkwe, ongol-ongol. Kuliner-kuliner yang menggunakan sagu aren sebagai bahan bakunya. Tidak sulit menemukan tepung ini. Saya sendiri (eh,mama ding) membeli sagu aren di pasar tradisional. Tepung yang saya beli (eh, mama ding) dikemas secara sederhana (kantong plastik bening saja), tidak terlalu putih dan sedikit kasar.

 
(1) Tepung sagu aren berasal dari batang pohon aren alias Arenga pinnata (nggak mungkin dari pohon mangga kan?).  Ngomong-ngomong tentang Si Aren, hampir seluruh bagian dari tanaman ini bermanfaat. Akarnya bisa untuk obat tradisional, batang untuk berbagai macam peralatan dan bangunan, daun muda/janur untuk pembungkus kertas rokok, buah aren muda untuk pembuatan kolang-kaling, air niranya untuk gula aren favorit saya. Oh ya kabar-kabarnya, tepung sagu aren bisa diolah menjadi aneka makanan yang aman untuk penderita autis (2).
 
Pembuatan sagu aren umumnya dilakukan oleh usaha kecil menengah dengan peralatan yang sederhana. Kalau mau lihat gambaran produksinya bisa dibuka (3) blog Andy MSE. Prosesnya antara lain sebagai berikut :
1. Pembelahan batang yang telah dipotong-potong sepanjang 0,8 m - 1 m menjadi 4 - 6 bagian.  Pohon terpilih adalah yang cukup umur, sehat, dan tidak pernah disadap niranya. Kalau tidak demikian, bisa jadi kualitas sagu berkurang begitu pula kuantitasnya. Pohon yang diambil berusia 40 tahun ke atas (4). Tapi ada juga sumber yang bilang antara umur 15-20 tahun.
2. Pemarutan batang-batang yang telah dibelah menghasilkan serbuk.
3.  Pengadukan serbuk di dalam bak berisi air. Tujuan dari tahap ini adalah melepaskan pati aren dari seratnya.
4. Penyaringan, melalui tahapan ini serat dan larutan pati dipisahkan. Kadang-kadang juga ditambahkan kaporit ke dalam bubur pati yang sedang diendapkan.
5. Pengendapan, proses ini dilakukan selama kurang lebih 12 jam. Hasilnya berupa endapan pati.
6. Pengeringan endapan pati dari proses no 5. Biasanya secara tradisional, melalui penjemuran selama 1-2 hari.
7. Penghalusan pati kering menggunakan mesin penepung menghasilkan sagu aren yang lebih halus dan tidak menggumpal.

Sumber :

(1)  "Kajian Kinerja Mesin Pengaduk pada Proses Pembuatan Pati Aren (Arenga Pinnata Merr.)" oleh Bambang Purwantana, Tri Purwadi, Muhammad Fauzi dalam Prosiding Seminar Nasional Teknik Pertanian 18-19 November 2008, Yogyakarta. Sumber website : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/8313/Bambang%20Purwantana1.pdf?sequence=1
(2) "Sagu Aren" oleh Mr Rizz Yogya, 28 Juli 2010. Sumber website : http://www.autisfoods.com/2010/07/sagu-aren.html
(3) "Melongok Pabrik Tepung Aren" oleh Andy Suhaimi, 31 Januari 2009. Sumber website : http://andy.web.id/melongok-pabrik-tepung-aren.php  
(4) "Mati Suri, Pengolahan Sagu Aren di Desa Jabung" oleh tim Publik Nasional, 7 Januari 2011. Sumber website : http://www.publiknasional.com/index.php?option=com_content&view=article&id=92%3Amati-suri-pengolahan-sagu-aren-di-desa-jabung&catid=36%3Ajawa-timur&Itemid=27


 

 

Kamis, 01 November 2012

Ongol-Ongol

Camilan tradisional satu ini pasti tidak menyisakan rasa bersalah  saat dikonsumsi. Bahan bakunya sederhana dan tidak banyak lemak. Apalagi jika pemanis yang ditambahkan seluruhnya adalah gula aren. Konon kabarnya, pemanis ini tidak cepat menaikkan kadar gula darah (1). Jadi bagus buat yang lagi hati-hati makan yang manis-manis (seperti penderita diabetes). Karena sederhana pula, ongkos bikinnya pun tak mahal dan relatif mudah membuatnya. Yang diperlukan hanya tangan yang rela disuruh mengaduk agak lama dan perhatian ekstra saat pemanasan adonan ongol-ongol, supaya tidak lekas gosong.

Ngemil ongol-ongol tak perlu banyak khawatir
  
Resep dibawah diadaptasi dari punya Odilia Winneke - detikFood.com
Resep Ongol-Ongol
Adonan dasar
Tepung sagu aren     125 g
Air                           375 g
Gula aren                 120 g
Gula pasir                 2 sendok teh muncung
Daun pandan            2 lembar

Taburan
Kelapa parut             sesuka hati
Garam                      sesuka hati

Adonan grunjul-grunjul

Cara Membuat :
1. Lelehkan, panaskan gula aren/gula jawa dengan air (225 ml) dan daun pandan. Diamkan hingga kotoran mengendap.
2. Campur rata tepung sagu aren dengan sisa air. Saring. Campurkan dengan air gula - pandan yang telah disaring terlebih dahulu. Saring lagi.
3. Masak dengan api kecil sambil diaduk-aduk. Matikan api ketika adonan sudah berwarna cokelat gelap agak bening dan kental (seperti di foto).
4. Cetak di loyang brownies.
5. Setelah set dan dingin, lepas dari cetakan, potong-potong dan taburi dengan kelapa parut kukus yang telah digarami.

Catatan Ublek-Ublek :
1. Sebelum dimasak, semua adonan dasar disaring terlebih dahulu.
2. Air yang tertera di resep sebenarnya lebih. Jumlahnya tidak saya catat, hehe. Pokoknya kalau adonan terlihat terlalu kental, angkat dari api, tambah air sedikit-sedikit (kurang lebih 75 ml), aduk sampai menyatu, panaskan lagi. Begitu seterusnya sampai dirasa kekentalannya pas.
3. Awalnya, adonan mengental tapi warnanya masih cokelat muda (kayak kopi susu gitu warnanya). Terus dipanaskan sambil diaduk-aduk, dijaga jangan sampai gosong.
4. Sebenarnya, saya terlalu nafsu memanaskan adonan sehingga terlalu kental dan susah dicetak rapi. Jadi grunjul-grunjul, seperti di foto. Untunglah taburan kelapa parut telah menyelamatkan penampakan ongol-ongol saya (membela diri :D).
5. Orang rumah bilang ongol-ongol ini enak. Tapi mungkin karena hanya pakai gula aren dan tambahan gula pasir yang sedikit, rasanya sedikit kurang manis.

Sumber :
(1) Artikel "Kenapa Gula Aren Lebih Sehat dari Gula Pasir?" oleh Vera Barah Bararah tanggal 11 Januari 2011 dari website  http://health.detik.com/read/2011/01/11/075447/1543689/766/kenapa-gula-aren-lebih-sehat-dari-gula-pasir

Selasa, 30 Oktober 2012

Pecel


Seandainya di dunia ini tidak ada bumbu kacang-kacangan (terutama yang dari kacang tanah), saya pasti suangaaat juaraaang makan sayuran. Maklum nggak doyan. Bersyukur ada kuliner semacam gado-gado, karedok, ketoprak, kupat tahu, dan pecel yang "berkacang-kacang ria". 

Paling favorit adalah pecel. Sudah pada kenalan kan? Pecel terdiri dari sayur-sayur rebus seperti bayam hijau, kacang panjang, kangkung, taoge, ketimun serta kadang-kadang menggunakan bunga-bunga edible semacam kecombrang dan turi. Para sayur ini kemudian disiram bumbu kacang tanah pedas (cair dan kental). Pendamping makannya bisa pakai serundeng (kelapa parut berbumbu yang disangrai hingga kering), kering tempe (tempe diiris tipis-tipis digoreng, lalu dibumbui pedas-pedas manis) dan aneka lauk pauk seperti baceman atau ayam goreng bumbu kuning. 

Kadang mama di rumah membuat pecel kala kepepet dan ngirit (saking praktis pembuatannya). Bumbu pecel tinggal diseduh air panas mendidih, nggak perlu repot ngulek trus disiram ke sayur rebus. Kalau makan di luar, langganannya Warung Pecel Madiun Mbak Ira samping Ace Hardware Jl.Margonda-DepokOh,ya, bagi pecinta bumbu pecel yang pedas-pedas bisa berharap dapat kirimannya dari daerah Jawa Timuran. Pedasnya dominan, tidak terlalu manis (seperti bumbu pecel yang pernah saya cicipi buatan Yogyakarta) dan gurih. Awal bulan lalu kami mendapatkan oleh-oleh bumbu pecel dari teman mama di Malang. Awalnya bingung, kok judulnya "bumbu lecep"? Bumbu Lecep Mbak Sri Klojen. Setelah bertapa 1 hari 1 malam plus nyicipin bumbunya, barulah terkuak bahwa benda aneh ini adalah bumbu pecel. Sedikit review, bumbu pecelnya enaaak. Dimakan tanpa sayur dan lauk pun juga enaaak. Walaupun ditulis level kepedasannya "sedang" tapi tetap saja lumayan pedas di lidah saya. Kalau untuk disiram ke sayurannya lebih baik kental-kental seperti di gambar foto yang terakhir, biar bumbu dan pedasnya terasa. Jangan terlalu cair mencairkannya, ya :). 
 



Minggu, 14 Oktober 2012

Tahu Sumedang

Apa yang membuat tahu sumedang disukai? Perbedaan tekstur antar bagian dalam dan luarnya! Ketika digigit, bagian luar akan terasa kering-renyah sedangkan dalamnya  lembab-lembut. Sayang sensasi ini hanya bisa dinikmati saat tahu masih hangat-hangatnya dari penggorengan. Jika tahu dingin dan telah disimpan lama, kurang sip, tapi masih enak sih :D Ukuran yang kecil-kecil ditambah rasanya yang gurih-gurih gimanaaa gitchu, pasti bikin kita ketagihan. 


Tahu Sumedang yang nggak kopong

Walaupun ada embel-embel Sumedang, tahu sumedang diciptakan pertama kali oleh warga keturunan Cina. Kata tahu sendiri berasal dari bahasa Cina yaitu Tao Hu (Tao : Kacang ; Hu : Lumat) yang sering juga disebut lidah eh, daging tak bertulang. Tersebutlah Ong Kino, seorang imigran Cina yang hidup di Sumedang terinspirasi membuat tahu dari bahan dasar kedelai, karena cintanya sang istri dengan makanan tersebut. Mula-mula tahu yang dibuat terlalu besar dan disiasati dengan dibelah menjadi empat. Kemudian Ong Kino memberi garam ke potongan tahu persegi tersebut. Sekitar tahun 1900-an, tahu Cina ukuran kecil tersebut mulai dipasarkan Ong Bun Keng, anak dari Ong Kino. Bupati Sumedang kala itu, Pangeran Aria Soeriatmadja sampai memuji tahu buatan Ong Bun Keng, Ngeunah ieu kadaharan teh. Mun dijual pasti payu (Makanan ini enak. Kalau dijual pasti laku). Usaha yang dikelola Ong Bun Keng pun semakin maju dan hingga sering disebut Tahu Bun Keng. Tahu ini menjadi cikal bakal tahu sumedang. Awal hanya dikerjakan keluarga hingga akhirnya bisa menyerap tenaga kerja sekitar (1).

Bagaimana cara membuat tahu sumedang (2)? 
Tidak jauh berbeda dengan membuat tahu biasa, namun sebelum menjadi produk akhir, tahu digoreng terlebih dahulu. Berikut ini secara singkat proses pembuatannya :
1. Pembuatan sari kedelai
Pembersihan kedelai dari kotoran, perendaman kedelai, pemisahan kedelai hasil rendaman dari air, penggilingan kedelai, pemasakkan bubur kedelai, pemisahan sari kedelai dengan ampas.
2. Penggumpalan dan pengendapan
Penambahan bahan penggumpal (biang, cuka, batu tahu) ke sari kedelai yang masih panas, pengadukkan sampai terbentuk gumpalan, pemisahan gumpalan yang mengendap dari cairan sisa. Cairan sisa ini sebagian disimpan untuk digunakan sebagai biang. 
3. Penyetakan dan pengepressan
Gumpalan tahu yang  dicetak lalu dipress (ditekan) dan didiamkan hingga cairan sisa benar-benar berkurang.
4. Pemotongan dan penggorengan
Padatan tahu yang telah dipress kemudian dipotong-potong kecil, direndam dalam larutan bumbu. Setelah ditiriskan, tahu digoreng dalam minyak yang banyak dan panas.

Apa yang membuat tahu sumedang enak (3)?
1. Kualitas air yang digunakan. Air di wilayah Sumedang baik untuk pembuatan tahu karena banyak mengandung kalsium sehingga tahunya kenyal.
2.Tahu harus dimasukkan kedalam minyak yang banyak dan benar-benar panas.
3.Tahu sumedang berkulit berintik dihasilkan dari penggorengan tahu yang masih basah.
4. Kebersihan peralatan. Ada sisa kedelai bisa membuat seluruh adonan menjadi asam.


Kemasan tradisional yang khas

Mau cari tahu sumedang yang enak? Pergilah ke Sumedang, Jawa Barat karena di daerah tersebut kuliner ini menjadi khas. Tapi bila Anda di Jakarta, kami merekomendasikan sebuah tempat pembuatan dan penjualan tahu sumedang enak di dekat Balkesmas Panti Nugraha, Cilandak, Jakarta Selatan. Posisinya juga dekat gado-gado turunan yang yahud pula. Namanya Tahu Sumedang Pak Karna. Disini kita bisa berkesempatan menikmati sensasi  yang kami ceritakan diatas, yaitu saat tahu sedang hangat-hangatnya. Tekstur tahu pas di lidah sepaket dengan citarasanya yang gurih. Tahu sumedang Pak Karna dibungkus dalam kemasan tradisional. Oh ya, disini kadang juga dijual tahu sumedang yang diisi dan lontong oncom. Kalau lagi lapar tapi malas makan-makan berat cobalah :

gigit sepotong tahu sumedang hangat bersama cabai rawit hijau, jangan keburu ditelan sebelum Anda mengikutsertakan lontong oncom ke dalam mulut.  Nyam...


Sumber :

(1) Artikel "Legenda "Bun Keng" Tahu Sumedang" oleh tim Pemerintah Kabupaten Sumedang pada tanggal 24 Januari 2011 dari website http://www.sumedangkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=188&Itemid=141
(2) Artikel "Cara Membuat Tahu Sumedang yang Enak dan Bergizi" oleh Candra Winata pada tanggal 6 Februari 2012 dari website http://tahusumedangantar.blogspot.com/2012/02/cara-membuat-tahu-sumedang-yang-enak.html
(3) Artikel "Tahu Sumedang, Lezat Berkat Air Tampomas" oleh Cornelius Helmy pada tanggal 7 Januari 2012 dari website http://travel.kompas.com/read/2012/01/07/06465637/tahu.sumedang.lezat.berkat.air.tampomas

Selasa, 02 Oktober 2012

Kapurong


Dapat rejeki nomplok...... diminta datang ke wisudanya temen, trus dijamu tu makanan khas Palopo, Sulawesi Tenggara: Kapurong plus es Pisang Ijo.... Pertama sih penasaran ma ni makanan coz lum pernah ngrasain kapurong... Penasaran juga? Ni dia.....
Bahan:
  • Tepung Sagu (untuk kapurong)                                   
  • Terong
  • Janggel/ jagung muda
  • Daun so
  • Kacang panjang
  • Jagung pipilan
Bumbu:
  • Cabai
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Tomat 



(meskipun kalo diminta ngicipin lagi, berpikir 1000x hehehehe) 

Cara Pembuatan:
1. Sayuran dipotong-potong sesuai selera
2. Bawang putih dan bawang merah yang telah dikupas diiris tipis-tipis
3. Cabai dihaluskan dan tomat diiris-iris. Jika ada belimbing wuluh ditambahkan lebih baik
4.  Setelah sayuran dicuci, masukkan ke dalam air mendidih janggael serta kacang panjang terlebih dahulu. Setelah janggael lebih lunak, masukkan sayuran lainnya beserta bumbu cabai, bawang putih dan bawang merah
5. Masak hingga sayuran matang
6. Untuk membuat kapurong, tepung sagu disiram dengan air mendidih. Setelah tepung sagu menjendal, dicampurkan dengan sayur yang sudah jadi 
   

Nuget Ikan Lele....


Kalo yang ini ni, ceritanya anaknya Pak Kadus ngrecokin kita pas fillet ikan lele, coz harus tipis..... jadilah nuget lele yang ma ibu2 petani juga pada suka......
di coba ya.....
          Bahan
            - 1 kg daging ikan lele/nila
            - 50 gr bawang putih
            - 80 gr bawang merah
            - 15 gr garam
            - 10 gr merica
            - 10 gr gula
            - 2 sachet susu
            - 2 gr telur
            - 60 gr tepung terigu

 

Bahan CMC:
CMC 12 gr yang dilarutkan dalam 500 ml air dingin, kemudian ditambahkan:
- Terigu 160 gr
- Maizena 160 gr
- Merica 4 gr
- Garam 6 gr
- Air 200 ml

      Cara Membuat:
- Haluskan semua bumbu, kemudian campur dengan susu
- Daging dicampur dengan telur hingga merata
- Campurkan daging dan bumbu hingga rata
- Tambahkan tepung terigu
- Masukkan ke dalam loyang
- Kukus 30’ (setelah 15’ tekan-tekan loyang hingga air keluar)
- Dinginkan dan potong sesuai keinginan
- Campur dengan CMC
- Lumuri dengan bread crumb

dan inilah tim kami.....
           KKN unit 56 Candibinangun
           Ima, Irfan, Iwan, Ririn, TJ, Yogi