Tampilkan postingan dengan label Cerita Kuliner Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kuliner Jawa. Tampilkan semua postingan

9/19/2012

Lanting

Camilan yang familiar di lidah sejak kecil. Dahulu kala saya panggil kelanting dan akhirnya menemukan bahwa camilan ini punya banyak nama, antara lain klanting (ternyata ini nama lain kue khas Surabaya yang mirip kue cenil juga ya, binguuung), lanting, dan ongko wolu. Bentuknya bisa seperti cincin tetapi ada juga produsen yang membuat bentuk serupa angka delapan (ongko wolu) hingga angka delapan ditumpuk simetris. Sementara karakteristik lainnya adalah warna lanting bisa putih krem (tanpa perwarna) atau divariasikan dengan warna merah jambu terang. Jadinya lebih meriah gitu dech. Nah, sudah jadi image lanting (dimata saya) : teksturnya keras sehingga pas mau dikunyah diisep-isep dulu biar empuk. Namun ternyata ada juga yang renyah, enak digigitnya, seperti lanting yang sedang saya makan sekarang ini kriuk...kriuk... 

Camilan yang gurih

Kebumen (Jawa Tengah) itu kota lanting. Berdasarkan data di Bidang Industri Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Kebumen, pusat buat-buat lanting tepatnya ada di Kecamatan Adimulyo yakni di Desa Pekuwon dan Meles. Kemudian di Desa Jogomulyo dan Tugu, Kecamatan Buayan. Pusat lanting yang cukup besar ada di Desa Harjodowo dan Lemahduwur di Kecamatan Kuwarasan. Mulanya, lanting berasal dari Desa Lemahduwur (Bahasa Jawa, Lemah = Tanah, Duwur = Tinggi) dan dikerjakan secara turun temurun, namun akhirnya berkembang ke desa-desa yang lain (1). Proses pembuatan lanting (1,2) antara lain sebagai berikut :
1. Pengupasan dan pembersihan singkong mentah
2. Penggilingan I (hasil berupa adonan yang masih basah)
3. Pemerasan (hihi... rada maksa bahasanya) untuk mengeluarkan airnya 
4. Penggilingan II (hasil berupa adonan yang lebih kering dan lembut)
5. Pengukusan hingga 1/2 matang 
6. Pembentukan lembaran (pe-molen-an) dan pengepresan
7. Pencampuran permukaan untaian "mie" dengan tepung singkong
8. Pembentukan lanting sesuai selera
9. Pengeringan
10. Penggorengan
11. Pemberian bumbu
12. Pengemasan

Proses pembuatan dari pengupasan singkong hingga pengemasan lanting makan waktu 2 hari. Dari 4 kuintal singkong jadinya sekitar 2 kuintal lanting untuk sekali pengolahan.

Ada yang menyebutnya Ongko Wolu

Selain pada bentuk, inovasi produk lanting juga bisa pada bumbunya. Saya sendiri baru pernah makan lanting yang original, rasa-rasa bawang gurih. Pas ditelusur di Si Mbah Google produsen-produsen lanting (yang sudah go-online) mulai "mendandaninya" dengan aneka bumbu seperti rasa jagung bakar, keju, barbeque, pedas dan lain sebagainya. Penasaraaan :)

Sumber :
(1) Artikel Lanting Jadi Identitas Kebumen oleh Supriyanto, 04 Desember 2011 dari website http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=168665
(2) Artikel Lanting Kini Menggurita Se-Indonesia oleh Arif Widodo 25 April 2010 dari website http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/25/106968/Lanting-Kini-Menggurita-Se-Indonesia


8/27/2012

Jipang Kacang

Saya demen banget dengan camilan berbau kacang, terutama jipang kacang. Kemarin sungguh berbahagia :D karena tante ngoleh-ngolehin camilan ini dari perjalanan mudik lebaran Jakarta-Jogja-Solo. Seperti produk jajanan tradisional home industry pada umumnya, penampakan jipang kacang amat sederhana. Tiap dua buah jipang kacang dibungkus plastik lalu disusun rapi berbaris dalam kemasan plastik yang lebih besar, tanpa pelabelan. Jaman dulu malah kemasan jipang kacang berupa klaras atau daun pisang kering (1). Gambaran sifat sensoris produk asli Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) ini antara lain tekstur kacangnya renyah namun pada bagian gulanya lembut, sedikit lengket di lidah, tidak butuh tenaga ekstra untuk menggigit dan mematahkannya. Rasanya tidak terlalu manis, gurih kacang dan ada sensasi pahit samar-samar.




Bahan bakunya super simple, berupa kacang tanah, gula merah, dan minyak sayur. Mula-mula kacang tanah berkulit disangan menggunakan pasir, dilepas kulitnya dan ditumbuk kasar. Kemudian dicampur dan diaduk rata dengan campuran gula merah-minyak sayur masak yang telah mengental. Minyak sayur disini fungsinya untuk melembutkan. Si minyak akan mencegah sukrosa (jenis karbohidrat sederhana yang dominan pada gula jawa) untuk saling bersatu membentuk kristal atau mencegah proses kristalisasi. Kalo kristal sukrosa "tumbuh subur" maka jipang akan cenderung keras, berpasir (grainy) so pasti pas digigit bunyinya kleutuk-kleutuk :D. Adonan harus segera dicetak, pas sudah dingin dipotong-potong dan dikemas (1,2). Kalo punya saya :D satu pack isinya 32 potong jipang.



Sumber :
(1) Artikel "Jipang Kacang, Diproduksi Sejak Nenek Moyang" dari website http://www.kebumenkab.go.id/index.php/public/page/index/24#
(2) Artikel "Science of Sugar" dari website http://www.exploratorium.edu/cooking/candy/sugar.html


8/16/2012

Ketagihan Opak Ketan

Opak Anida (kiri) dan opak Mbak Eny (kanan). Beda "rupa" tapi sama bikin nagih :)


Mau snack yang sehat tapi enak? Opak ketan pilihannya… (intro kayak orang mo jualan aja :D). Snack unik nan sederhana ini dibelikan papa ketika ia pulang dari Cimahi menuju Depok. Merknya Anida, tertera di labelnya : menyediakan makanan ringan khas Karawang. Satunya lagi berasal dari Mbak Eny, dibelikan pas bus jurusan Lembang ke Kampung Rambutan sedang ngetem di Karawang. Kesimpulan, kayaknya opak ketan berasal dari Karawang, dech, hehehe (males riset.com). Opak ketan sukses buat saya ketagihan ngemil. Paling demen sama teksturnya yang renyah, kriuk-kriuk  pas digigit. Rasanya juga enak, gurih-gurih tidak terlalu asin dan bercita rasa ketan yang enak. Snack ini pun “kelihatan” sehat karena dibakar bukan digoreng (tidak berminyak).

Oh ya, saking ketagihannya, saya sampai harus ngemil opak ketan sambil mengetik demi penghayatan tulisan :)


Bahan Penyusun Opak Ketan dan Cara Pembuatannya (saya comot-comot dari beberapa sumber di Mbah Google)

1.    Bahan : Beras ketan, santan kelapa, sedikit garam. Terkadang ampas kelapa ditambahkan untuk menghasilkan efek garing yang lebih. Cara pembuatan : Nasi ( beras ketan yang sudah ditanak) dibuat jadi gindel atau bahan opak yang lembut. Gindel dibuat dengan cara menumbuk nasi dengan lumpang dan halu. Setelah itu, gindel ditekan-tekan pakai pipa kecil seukuran pipa kran air hingga tipis. Tahap berikutnya penjemuran. Opak kering hasil jemuran lalu digunting membentuk bulatan kecil rapi baru dibakar dengan arang 1.

2.    Bahan : Beras ketan, kelapa parut, garam. Cara pembuatan : Beras ketan yang telah ditanak ditumbuk, dicampur dengan kelapa parut dan garam. Setelah halus, dicetak menjadi bulatan-bulatan kecil dengan menggunakan tangan yang dibungkus plastik. Adonan tadi digeleng atau diemple-emple (*garuk-garuk kepala* ditekan-tekan kali ya, maksudnya) hingga permukaannya rata dan tipis kemudian dijemur hingga kering. Baru kemudian digoreng atau dibakar di atas bara api 2.

    3.        Bahan : Beras ketan putih (1 kg), telur (2 butir), kelapa parut minimum ¼ butir kelapa, kalau 3 kg beras ketan dibutuhkan 1 butir kelapa. Cara pembuatan : Cuci beras ketan lalu tanak hingga menjadi nasi ketan. Nasi ketan ditumbuk dan dicampur kelapa parut dan telur. Campuran bahan tersebut dibentuk pipih dengan ukuran sesuai dengan selera. Adonan yang sudah dibentuk dijemur hingga kering di bawah sinar matahari. Jika tidak ada sinar matahari, pengeringan bisa dilakukan dalam ruangan tertutup yang dihangatkan dengan baskom aluminium yang diisi bara dari arang dan abu gosok (hmmm…).Adonan yang sudah kering dibakar pada nampan kawat yang diletakkan di atas bara dan abu gosok. Pemanggangan dilakukan sampai adonan kuning kecokelatan3.

Sumber Tulisan :

1  Arikel “Opak Ketan Rawagede” (publikasi 10 Maret 2010) diunduh dari www.karawanginfo.com.
2  Artikel “Opak Ketan” (publikasi 29 Maret 2012) diunduh dari http://disparbud.jabarprov.go.id

3  Artikel “Bikin Rengginang dan Opak Sendiri “(publikasi 8 September 2011)  diunduh dari http://atikofianti.wordpress.com


8/14/2012

Kerupuk Keyel yang Unik


Penambah selera makan
Ini dia oleh-olehnya :D

Kali ini cerita snack oleh-oleh pulkam pengasuh mbah putri, eng…ing…eng…kerupuk keyel. Pertama kali mencicipi kerupuk ini, rasanya aneh agak-agak pahit, penampilannya nggak menarik banget. Keyel dibungkus kecil-kecil dengan kemasan sederhana dimana bagian plastik penutupnya hanya diplintir. Satu kemasan kecil berisi 3-4 kerupuk. Lama kelamaan kok jadi ketagihan menikmati kepahitan dibalik aroma wangi bawang gosong, rasa gurih, dan teksturnya yang agak keras alot :). Pokoknya walaupun saya lagi nggak nafsu makan atau makanannya kurang menggiurkan, ditemani kerupuk keyel, semua akan baik-baik saja hehehe.

 

Alkisah, keyel merupakan salah satu produk andalan Desa Kalimas, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Bahan utama berupa tepung tapioka yang dimatangkan dengan cara dibakar dan tidak digoreng menggunakan minyak1. Lapisan keyel “berlumuran” campuran bawang dan bumbu-bumbu yang telah ditumis sebelumnya (hehehe, dugaan sementara). Ketika dipegang agak sedikit berminyak. Sayangnya, informasi tentang kerupuk keyel belum banyak saya temukan di Mbah Google, jadi tulisannya irit kayak begini.

 

1Artikel “Kalimas” publikasi 20 Agustus 2008 diunduh dari http://cahxmas.blogspot.com